Rabu, Oktober 21, 2020

Can’t Relate Soal Isu MRT

Orientalisme dan Enigma Budaya Ketimuran

Untuk waktu yang lama, budaya ketimuran telah menjadi ungkapan yang begitu familiar. Frasa ini berulang-ulang diucapkan dan kerap kali menjadi acuan ketika terjadi suatu...

Hentikan Bullying di Sekolah

Tindakan perundungan (bullying) masih marak terjadi di dunia pendidikan. Yang mutakhir, seorang siswi SMP Negeri 147 Ciracas, Jakarta Timur bunuh diri melompat dari lantai...

Pencarian KPK dan Tanda Tanya Harun Masiku

Publik kembali digemparkan oleh Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK. Pasalnya kasus tersebut menjerat individu penyelenggara pemilu dan peserta pemilu. Menunjukan bahwa...

Surat Terbuka untuk VAR di Liga Inggris

Malam itu Robert Snodgrass bak seorang pahlawan bagi kubu West Ham United lantaran ia berhasil menceploskan bola ke gawang Sheffield United yang tengah unggul...
Farhatani
Suka dengerin buku dan baca lagu.

Akhir-akhir ini kita sama-sama norak karena akhirnya kita melihat, merasakan, dan memiliki satu moda transportasi yang ditunggu-tunggu sejak lama: Mass Rapid Transit, a.k.a MRT.

Perang komentar soal apa? Ada beberapa foto yang viral dan kita semua sepakat kalau dua hal ini membuat perdebatan di kolom komentar menggila. Yang pertama, foto sebuah kelompok keluarga yang lesehan di emperan stasiun. Kedua, soal orang-orang yang enggan antri di tempat yang seharusnya sebelum menaiki MRT.

Kita menemukan orang-orang norak berkomentar di Twitter, Facebook, Instagram… ah banyak sekali ternyata platform yang digunakan untuk perang komentar.

Orang-orang norak ini mengkritik dengan norak kepada sekelompok orang yang lesehan di emperan stasiun. Foto itu menampilkan kelompok ibu-ibu (dengan bapak-bapak yang terlihat santai tanpa rokok) bersama anak-anaknya yang dengan santai membuka makanan dan minuman yang telah dibawa dan sepertinya dipersiapkan dengan matang.

Apakah ada kesalahan di sini? Jelas. Ini bukan Stasiun Bekasi 10 tahun lalu, dimana kita bisa memesan nasi uduk di peron stasiun.

Tapi, bisakah kita tidak menghujatnya terlebih dengan norak dan merasa dirinya manusia paling patuh dan modern? Tentu tidak.

Kita tahu, semua orang terpana melihat stasiun MRT yang didesain tidak seperti Stasiun Gang Sentiong. Kita juga dengan norak mengambil video di dalam MRT karena dianggap sangat mirip dengan kereta-kereta di luar negeri, apalagi melihat ada orang yang lebih norak (dari kita) dengan bergelantungan di dalam kereta.

Lalu orang-orang dengan enteng mencaci: udah bagus-bagus dibikin, eh malah gelantungan di kereta. Udah susah-susah dibikin, malah lesehan terus makan di stasiun. Udah ribet-ribet dibikinin aturan, masih aja gak bisa antri.

Template kritik ini akan dilanjutkan dengan: Nih, kayak Jepang dong! Nih, cara antri di eskalator dan mau masuk kereta! Nih, orang-orang Jepang bisa teratur! Jangan dirusak, ini karya presiden gue! Ah enggak, ini karya gubernur-gubernur sebelumnya!

Untuk saya, penduduk asli Bekasi yang pernah dan akan terus dengan senang hati berdesak-desakan di Commuter Line di jam sibuk, lalu kini hidup di jantung Yogyakarta dengan melihat penumpang Trans Jogja memakai helm di dalam bis, isu MRT adalah isu Jakartasentris yang masyarakat Jogja atau daerah lain can’t relate.

Tidak semua orang di Indonesia bisa merasakan keresahan yang sama dengan orang-orang norak tadi. Saya menemukannya setelah terbiasa menggunakan KA Lokal dan Commuter Line yang terjadwal, lalu beradaptasi dengan Trans Jogja yang membuat saya terkadang muak menunggu transit bis.

Bahkan pola masyarakatnya pun berbeda sekali. Kaum urban Jabodetabek mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi dan mulai menggunakan transportasi umum, seperti Commuter Line. Walaupun mengetahui di dalam keputusan itu mengandung banyak risiko: kereta datang telat, berdesak-desakan, lupa mengisi top up, hingga pelecehan seksual.

Sedangkan di Yogyakarta yang minim angkutan umum plus masyarakatnya belum terbiasa dengan angkutan umum yang ada, mereka masih mengandalkan kendaraan pribadi, atau setidaknya transportasi online untuk mobilisasi setiap harinya. Apa artinya? Kendaraan pribadi: motor atau mobil, masih akan laku di sini.

Alasan lain mengapa masyarakat Yogyakarta masih mengandalkan kendaraan pribadi adalah, transportasi umum masih belum menjangkau tempat tinggal atau tempat kerjanya.

Misalnya, jika rumah saya di Piyungan dan ingin berangkat ke kampus di Jalan Gejayan dengan transportasi umum, maka saya harus menggunakan bis kota dari Wonosari ke Terminal Giwangan terlebih dahulu, dengan waktu tempuh kurang lebih 20-30 menit. Dari Terminal Giwangan saya akan melanjutkan perjalanan dengan Trans Jogja dengan berbagai trayek: 4A, 4B, atau 3A lalu transit di Halte Kehutanan dan berganti ke 2A. Waktu yang dihabiskan dari Terminal Giwangan ke Jalan Gejayan sekitar 30 menit.

Total satu jam dibutuhkan hanya untuk berangkat ke kampus. Sedangkan dengan sepeda motor, waktu tempuh bisa dipangkas hingga 30 menit. Itu sudah termasuk macet luar biasa (menurut warga Jogja luar biasa, untuk saya biasa saja) di depan Mal Lippo.

Itu belum dihitung biaya, apalagi kalau hujan turun di pagi hari. Lebih baik tarik selimut lagi.

Dari segi apa pun, warga Jogja akan lebih senang memilih mengendarai sepeda motor. Trans Jogja belum sebagus Transjakarta, bis kota kadang masih sering ngetem, mau naik ojol juga mahal. Jadi, cita-cita ‘beralih ke transportasi umum’ di Yogyakarta (atau mungkin di daerah lain) masih belum berlaku. Mungkin 5-10 tahun lagi.

Apakah pembaca sekalian berpikir untuk berkomentar ‘Bodo amat woi, itu kan di Jogja, bukan di Jakarta. Gue hidup di Jakarta!’? Saya juga bodo amat soal pembahasan norak kalian tentang MRT.

Kalian selalu komentar ‘ini nih kelakuan warga negara +62’ padahal yang dimaksud kelakuan warga 021. Heuheu.

Farhatani
Suka dengerin buku dan baca lagu.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.