Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Candu Nomophobia

Kampus Merdeka ala Pak Menteri

Sempat diragukan oleh beberapa pihak untuk mengisi Kabinet Indonesia Maju, kini Nadiem Makarim perlahan kepercayaan yang diberikan atas dirinya merupakan pilihan yang tepat. Beberapa...

Fenomena Tsunami Langka di Selat Sunda

Hiruk-pikuk kegiatan akhir tahun yang seharusnya penuh rasa bahagia justru menjadi kisah memilukan bagi kita. Baru-baru ini peristiwa bencana alam tsunami terjadi di perairan...

Menerka Dampak Perlambatan Ekonomi AS-Tiongkok pada Indonesia

Dirilis 8 Januari lalu, World Bank lewat laporan Global Economic Prospects dengan judul “Darkening Skies” menyampaikan penguatan prediksi akan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global pada angka...

Minimnya Keterwakilan Perempuan dalam Parlemen

Perhelatan pesta demokrasi tahun 2019 akan segera dimulai. Giat kampanye yang dilakukan oleh para peserta pemilu, termasuk calon legislatif perempuan mulai terasa ghirah-nya. Memang sudah...
Belinda Viklous
Penulis dari perbatasan yang bermimpi besar

Para pengguna layanan Facebook, Instagram, dan WhatsApp mengalami kesulitan dalam mengakses sosial media beberapa hari terakhir ini. dikarenakan untuk beberapa saat ketiga media sosial tersebut mengalami gangguan.

Sehingga, para pengguna ketiga sosial media itu kemudian berbondong-bondong pindah ke media sosial Twitter. Seperti laporan dari media online Tribunnews.com Melalui tagar #Facebookdown dan #Instagramdown mereka menyampaikan keluhan mereka.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, sosial media sendiri sudah menjadi semacam hal yang wajib dimiliki oleh setiap orang, mulai dari anak-anak sampai masyarakat dewasa. Dimana sosial media menawarkan hal-hal yang menyenangkan hanya dengan sentuhan ibu jari pada layar smartphone yang kita miliki.

Teknologi memperdaya manusia dan menciptakan ruang dunia sendiri bagi penggunanya, dan membuat semua kebutuhan kita seolah-olah dapat dipenuhi oleh sosial media tersebut.

Dan oleh hal tersebut, banyak dari kita yang menjadi kecanduan terhadap smartphone atau nomophobia, dikutip dari wikipedia istilah nomophobia ini pertama kali muncul dalam suatu penelitian tahun 2010 di Britania Raya oleh YouGov yang meneliti tentang kegelisahan yang dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam.

Studi tersebut menemukan bahwa 58% pria dan 47% wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung merasa tidak nyaman ketika mereka “kehilangan telepon genggam, kehabisan baterai atau pulsa, atau berada di luar jaringan”, dan 9% selebihnya merasa stres ketika telepon genggam mereka mati.

Di Indonesia sendiri kecanduan smartphone sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir, saat dimana smartphone semakin marak diperjual belikan dengan harga yang murah sehingga tiap orang dapat dengan mudah mendapatkannya. Smartphone yang tujuan awalnya diciptakan untuk mempermudah hidup manusia justru menjadi semacam boomerang untuk menusia itu sendiri.

Kecanduan pada smartphone yang menyebabkan manusia saling mengacuhkan satu sama lain, berkomunikasi satu arah dan menyebabkan hilangnya jati diri manusia sebagai makhluk sosial.

Hal merugikan ini juga bukan hanya berdampak pada lingkungan sekitar namun pada pengguna itu sendiri, dimana terjadi banyak kasus kecelakaan yang disebabkan oleh pengendara yang terlalu asik mengecek smartphone, seperti berita yang dikutip dari liputan6.com informasi yang disampaikan oleh @divisihumaspolri pada akun instagram nya yang melaporkan bahwa menelpon atau ber-SMS saat mengemudi merupakan penyebab terbesar terjadinya kecelakaan dijalan raya.

Kecanduan terhadap smartphone adalah sebuah keresahan, pemerintah yang menyadari hal tersebut pun tidak tinggal diam sehingga membuat beberapa kebijakan seperti pembatasan akses sosial media, dirancangnya UU No.11 Tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam menghindari informasi yang tidak benar, juga denda penggunaan GPS yang didasari dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 106 Ayat 1 junto Pasal 283 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 106 ayat 1.

Langkah-langkah pemerintah tersebut guna mencegah hal negatif yang mungkin dapat terjadi dari penggunaan smartphone sudah dirasa cukup baik. Dan kita sebagai masyarakat sudah seharusnya dapat dengan legowo menerima dan justru akan lebih baik jika mendukung kebijakan tersebut.

Dengan kebijakan kominfo dalam membatasi penggunaan sosial media, sebenarnya memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat itu sendiri. Dengan kebijakan sementara tersebut, seharusnya kita dapat menyikapinya dengan bijaksana dan berpikiran terbuka.

Berkurangya intesitas kita dalam penggunaan smartphone dapat kita isi dengan melakukan hal-hal positif, seperti menjalin hubungan dengan orang dan lingkungan sekitar kita, menenangkan diri dari intrik yang ada di sosial media, membaca buku, dan ber-quality time dengan orang-orang terdekat.

Sehingga hal tersebut dapat mengembalikan kita pada hakikat sebagai makhluk sosial. Aristoteles sendiri menerangkan bahwa menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan.

Pembatasan sosial media yang akhir-akhir ini sedang diberlakukan oleh pemerintah, diharapkan dapat menjadi langkah positif untuk menghindarkan kita dari Candu Nomophobia yang pada dasarnya adalah sebuah keresahan, dan semoga hal tersebut dapat membantu minimalisirkan hal-hal merugikan yang ditimbulkan dari kecanduan smartphone tersebut, mulai dari menurunya tingkat kecelakaan, berkurangya infromasi-informasi hoax, dan lebih berkonsentrasi dalam berkendara.

Dan yang terutama adalah dengan pembatasan akses sosial media, dapat membuat kita tidak asik dalam dunia virtual dan lebih menekankan berinteraksi dengan orang dan lingkungan sekitar, karena kita sebagai manusia sudah seharusnya menyadari hakikat, bahwa kita adalah makhluk sosial yang memang sudah semestinya dapat bersosialisasi dan menjalin hubungan erat satu dengan yang lainnya.

Dan dengan hal-hal tersebut, kita dapat menjadi pengguna yang bijak dan terhindar dari Candu Nomophobia.

Belinda Viklous
Penulis dari perbatasan yang bermimpi besar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.