Jumat, Desember 4, 2020

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Agar Obyektif, Arsip Tentang PKI Harus Dibuka Untuk Publik

Kisah tentang Gerakan 30 September Penghiantan Partai Komunis Indonesia ( PKI) atau yang lazim dikenal G30S PKI selalu hangat dibahas di bulan September.  Kisah...

Geliat Pilpres, Masyarakat Lupa Harus Memilih Legislatif

Gemerlap kampanya baik di media massa maupun aksi lapangan cukup mendebarkan menjelang pesta demokrasi Indonesia di 2019 ini. Semua stakeholder penting mengambil perannya dengan...

Umrah “Plus-Plus”, Plus Silaturahmi Politik

Umrah merupakan ibadah sunnah bagi umat muslim. Baru-baru ini, netizen dihebohkan oleh beberapa elit bangsa, elit parpol sebut saja ketua umum Gerindra, Prabowo Subianto,...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...
Guntur Alam
Saat ini masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus Islam swasta. Masih mengemban semesteran dengan berusaha tekun dalam melihat ilmu sebagai subjek (hidup) dan objek yang relatif tapi benar.

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat dan meraba sekitar, untuk menghirup sejenak akan udara dan rasa yang ada di sekitarnya.

Pasti kita sering mengalami kecanggungan dalam interaksi sosial di dunia nyata karna kita terlalu aktifnya dalam berselancar di media sosial (SNS). Bahkan faktanya sudah hampir menjadi budaya jika seseorang harus seakan-akan wajib untuk update kesehariannya di internet atau media sosialnya. Seakan-akan “dunia” harus tau kemana-saja ia pergi, dengan siapa-saja ia bertemu.

Kita mungkin sudah lupa akan fungsi “diri” untuk lebih menghargai hidup, menghidupi-kehidupan, serta menumbuhkan ketenangan batin dan fikir kita. Karna saat seseorang sudah mencandu dan tercandu dengan medsos, otomatis gerak dan tindakannya pun mengikuti dan menyelaras. Seperti narkotika (drugs). Campuran bahan kimia yang dapat mempengaruhi fungsi biochemical dalam tubuh dan mematikan saraf motoriknya.

Media sosial ialah tempat dimana banyak manusia-manusia yang tak berlogika, reaktif, dan impulsif berkumpul serta mengembangkan habitatnya. Sangat tak bijak dan hati-hati seorang diri jika selalu menyelami alam itu dengan ria-nya. Menumpuk serta menghujam akal budi dan jiwa (mental) kedalam jurang kebencian dan hate speech.

Banyak influencer atau tokoh terkenal (famous) yang memegang kunci popularitas serta populisme masyarakat, kemudian menggunakannya untuk kepentingan ekonomi dan komersialisasi alam bawah sadar pengikutnya (follower) hingga menggunakan pengaruhnya dalam polarisasi publik. Siapapun pasti akan dengan mudahnya terseret kesana, apalagi jika “seseorang” yang famous itu sudah mempunyai centang tanda biru bulat di akun sosmed-nya.

Banyak penelitian terkini yang telah membuktikan akan beberapa gejala berikut yang diakibatkan karna terlalu sering seseorang bermain di media sosial. Seperti selalu merasa gelisah (insecure, anxiety), depresi, merasa sendiri, dan ADHD (perilaku reaktif, impulsif, dan hiperaktif), dan  karna posisi muka dan mata selalu secara terus-menerus melihat ke layar kecil itu (handphone, smartphone, dll). Psychologytoday.

Jika anda merasa telah sulit untuk lepas dari gadget (gawai), untuk tidak selalu memegangnya dan melirik sejenak saja, itu bisa dikatakan sudah masuk dalam jurang candu media sosial (maya).

Merasa terpanggilnya alam sadar jika mendengar notif sedikit saja darinya, atau dari seseorang yang memberi pesan online. Kemudian kecenderungan akan perhatian dan pujian likes atau komentar positif yang berbentuk tulisan ”penghargaan” yang tidak nyata hakikatnya. Maka itu akan melahirkan generasi anak muda dan mungkin juga orang dewasa (siapapun) yang gila akan narsisisme.

Siapapun kita, dimanapun berada, marilah untuk lebih menghargai hidup yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan selalu tidak menggunakan alat mesin itu (gadget) dalam kehidupan normal kita.

Belajar untuk lebih melihat hidup dengan sudut pandang arti atau makna. Melihat untuk melihat yang benar di dunia nyata, mendengar untuk mendengar suara dan kebisingan dunia nyata, menapak-kaki untuk merasakan tanah dan zat yang hidup didalamnya.

Guntur Alam
Saat ini masih menjadi mahasiswa di salah satu kampus Islam swasta. Masih mengemban semesteran dengan berusaha tekun dalam melihat ilmu sebagai subjek (hidup) dan objek yang relatif tapi benar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.