Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Calon Presiden Fiktif, Sebuah Lelucon atau Keresahan

Banjir Bengkulu, Aktivis Lingkungan, Tambang Batu Bara

Beberapa wilayah di Provinsi Bengkulu mengalami banjir setelah diguyur hujan dengan intensitas cukup lebat pada Jumat (26/04) lalu. Masyarakat Kota Bengkulu, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu...

Agnez Mo dan Fenomena FOMO

Media sosial Indonesia kembali diramaikan oleh suatu isu yang sejatinya tidak bermutu namun memantik jiwa nasionalisme. Isu ini bermula dari statement seorang Agnez Mo yang...

Piala Dunia 2018: Berkurangnya Kuasa Dominasi Berkat VAR

Menarik jika kita mencermati tulisan yang  berjudul “Kuasa VAR di Piala Dunia”, yang ditulis oleh Fajar Junaedi. Tulisan tersebut dimuat oleh Kedaulatan Rakyat di...

Refleksi Indonesia Sebagai Negara Maritim

REFLEKSI INDONESIA SEBAGAI NEGARA MARITIMOleh : Fahrulraz M. FarukSecara historis,  Indonesia dan maritim memang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Negeri ini sudah sejak...
Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.

Kontestasi politik terbesar negara ini tinggal menghitung bulan. Pasangan-pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden sudah berebut suara dan dukungan masyarakat dengan mengunjungi titik-titik strategis untuk mendengar aspirasi masyarakat yang bergarap pada dirinya akan membawa perubahan bagi bangsa ini.

Kemudian para politisi koalisi sibuk berdebat membuktikan bahwa calon pasangan yang didukungnyalah yang pantas memegang tampuk kekuasaan tertinggi negara ini dengan berlandaskan data dan fakta hingga kelemahan dari calon tersebut menjadi senjata pamungkas dalam menyerang argumen lawan politik, hingga tak terasa bahwa suasana yang panas ini juga dirasakan oleh masyarakat. Alih-alih perdebatan itu mencerdas masyarakat, justru membawa perselisihan dan konflik di masyarakat.

Tetapi penduduk dunia maya beberapa waktu terakhir heboh dengan kehadiran Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 10 yaitu Nurhadi-Aldo yang diusung oleh Parta Untuk Kebutuhan Iman yang merupakan Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik ini sangat menggegerkan publik.

Di tengah panasnya suasana politik negeri ini, pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden ini justru memiliki visi-misi yang unik dan lucu. Sebut saja misalnya program ZAKAR (Zakat Wajib Tanah Untuk Rakyat) yang merupakan salah satu program unggulannya untuk mengatasi permasalahan agrarian yang sering terjadi kepada petani kecil di pedesaan yang diakibatkan oleh perkawinan kelas penguasa dengan pemodal.

Mungkin program-program yang diusungnya terdengar lucu dan nyeleneh, tetapi dengan kehadiran pasangan calon ini cukup membuat masyarakat terhibur dengan candaan-candaan yang membuat perut tergelitik di tengah kehingar-bingaran suasana politik yang semakin memanas.

Tetapi yang perlu ditelusuri adalah munculnya Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Fiktif ini. Apakah kehadirannya di tengah-tengah suasana politik yang memanas ini menjadi bahan candaan atau justru menjadi keresahan masyarakat yang bingung untuk memilih salah satu pasangan calon seakan-akan kebenaran di kedua pasangan calon pun juga hanya kebenaran fiktif.

Seharusnya fenomena seperti ini menjadi teguran keras bagi para pemangku kekuasaan dan para politikus yang duduk di kursi pemerintahan. Hal ini tidak akan terjadi apabila berbagai pihak bisa transparan sesuai dengan data dan fakta  dalam menjabarkan misi dan visi pasangan yang diusungnya, kemudian berdebat dengan sehat sesuai tata tertib dan tata krama dalam berdebat, jangan sampai ajang perdebatan yang seharusnya menjadi ajang mengunggulkan calon masing-masing menjadi ajang penghinaan dan penjatuhan karakter pasangan calon lawan.

Bahkan tidak hanya para politisi yang ikut berperan dalam membuat suasana seperti ini, tetapi media memiliki peran penting dalam menjalankan fungsinya menyampaikan informasi-informasi yang benar dan baik bagi masyarakat bukannya membuat framing-framing palsu apalagi negatif demi memenangkan salah satu pasangan calon.

Kita semua memiliki peran masing-masing dalam memanaskan atau mendinginkan suasana poltik negeri ini, tinggal bagaimana kita menyikapinya, apaka kita menyikapinya dengan hal positif atau hal negatif. Jangan jadikan perbedaan pilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden sebagai alat pemecah kesatuan dan persaudaraan kita, tetapi justru kita berbeda itulah yang membuat kita bersatu menjadi di tanah air yang kita pijak ini.

Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.