OUR NETWORK

Cak Nur, Gus Dur, Kuntowijoyo, dan Tradisi Intelektual Islam

Pasca Reformasi, Kuntowijoyo sudah mengingatkan agar energi umat Islam jangan semuanya dicurahkan pada politik praktis.

“Cobalah kita renungkan apa makna kenyataan sejarah sederhana ini: Ketika Imam Al- Ghazali menulis karya yang ditujukan untuk mengkritik  para filsuf muslim, khususnya Ibn Sina. Indonesia, khususnya tanah Jawa, di masa Raja Jayabaya. Hari ini kita mewarisi karya Imam Al Ghazali yang luar biasa dari sisi intelektual, baik dalam Ihya Ulumudin, tahafut Falasifah, dan juga karya-karya lain. Dan dari Raja Jayabaya kita mewarisi “Jangka Jayabaya”. 

Demikian salah satu penggalan tulisan Cak Nur yang saya kutip dari buku Tradisi Islam. Cak Nur tentu tak bermaksud merendahkan warisan luhur nenek moyang. Tapi beliau ingin mencoba tunjukkan, betapa menganga jurang perbedaan tradisi intelektual Islam di Indonesia dan di belahan dunia muslim lainnya.

Latar belakang sosio–historis perlu dipahami, agar kita bisa melihat posisi Indonesia dalam kancah tradisi intelektual muslim secara global. Dengan mempelajari sejarah intelektual bangsa sendiri, maka diharapkan akan muncul kesadaran sejarah. Sehingga generasi muslim masa kini mampu membawa tradisi intelektual bangsa ini kepada gerak sejarah yang lebih baik, lebih manusiawi.

Filsafat Islam sendiri memiliki pandangan yang positif terhadap masa depan. Dalam pandangan filsafat Islam, sejarah umat manusia bergerak semakin baik dan menuju kesempurnaan. Filsafat Islam  tidak memandang sejarah sebagai bentuk regresi untuk kembali ke masa lalu secara lahiriah. Justru filsafat Islam, dengan ciri utamanya yang realis, bersikap optimis dalam menyikapi jalannya sejarah peradaban umat manusia.

Mengapa tradisi intelektual Islam negeri ini perlu dibahas, pertama, hal ini mengingat konteks kekinian dimana perhatian kaum muslim Indoensia begitu tersita pada persoalan politik praktis. Dan bukan hanya tersita, tapi sudah mengarah pada kondisi tidak sehat dengan tendensi saling menyalahkan orang yang berbeda sikap politiknya. Sehingga terkesan seolah-olah politik identitas sebagai seorang muslim adalah satu-satunya cara dalam ber-Islam secara kaffah.

Pasca Reformasi, Kuntowijoyo sudah mengingatkan agar energi umat Islam jangan semuanya dicurahkan pada politik praktis. Karena jika itu terjadi, maka potensi umat yang luar biasa dalam bidang lain, menjadi tidak berkembang. Lebih jauh dalam buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Kuntowijoyo mengatakan, “saya cenderung melihat politik bukan sebagai determinant dalam proses sejarah yang panjang ini. Ia bukan faktor yang menentukan. Kekuatan politik tidak selalu menentukan segala-galanya”.

Sebagai seorang intelektual yang bertanggung jawab, Kunto berupaya mengingatkan bahwa politik bukan segala-galanya. Hal tersebut dibuktikan oleh diri Kunto sendiri dengan mencoba menghidupkan tradisi intelektual Islam. Diantara hasil rumusan Kunto ialah, Sastra Profetik, dan upaya menjadikan Islam Sebagai Ilmu.

Ujung tombak untuk menghidupkan dan menjaga urat nadi tradisi intelektual Islam adalah para pemuka agama, baik itu Kyai, Ustadz, maupun Cendekiawan. Akan sangat mengerikan jika para pemuka agama, Kyai, Ustadz, dan Cendekiawan juga ikut-ikutan asyik dengan politik praktis, dan tidak lagi tertarik pada upaya memelihara tradisi intelektual Islam.

Seorang cendekiawan, kata Gus Dur, “haruslah terbuka oleh kenyataan bahwa sendi-sendi keimanan Islam yang diyakininya juga sedang mengalami gempuran-gempuran dahsyat dari modernisasi. Tanggung jawab kepada bangsa timbul dari kenyataan bahwa bangsa muslim saat ini sedang dihadapkan pada krisis berkepanjangan akibat ketidakmampuan di masa lampau untuk mencari jawaban yang memuaskan terhadap tantangan keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan”. Demikian tulis Presiden cum Kyai Cendekiawan di buku Mengurai Hubungan Agama dan Negara.

Sebagaimana kita semua tahu, Cak Nur dan Gus Dur sangat terlibat dengan politik praktis masa lalu di tanah air, berbeda dengan Kuntowijoyo yang lebih memilih mewakafkan hidupnya di jalan sunyi ilmu pengetahuan. Namun demikian dari ketiganya ada benang biru yang bisa kita tarik, yaitu komitmen menumbuh kembangkan tradisi intelektual Islam tanah air. Hal ini tentu kontras dengan mayoritas cendekiawan muslim tanah air masa kini, yang sibuk dengan politik praktis namun abai terhadap upaya menjaga kehidupan tradisi intelektual Islam. Karya beliau bertiga adalah kekayaan khazanah keilmuan yang luar biasa bagi generasi sesudahnya.

Faktor kedua, mengapa tradisi intelektual Islam perlu dan mendesak untuk kita bahas dalam konteks zaman sekarang ialah, agama mestinya mampu menjadi daya dorong bagi kemajuan sebuah bangsa. Karya klasik Max Weber dalam Protestan Ethic and Spirit of Capitalism, telah sangat jelas menguraikan bagaimana nilai-nilai agama mampu menjadi daya dorong kemajuan. Kajian akan peranan agama dalam kemajuan bangsa, juga dilakukan oleh Thomas Showell dalam buku Ethnic America. Showell menunjukkan bahwa tradisi Yahudi yang menghargai teks (buku) sangat berpengaruh bagi kemajuan sebuah negeri yang bernama Amerika Serikat.

Maka pertanyaan yeng perlu menjadi renungan kita bersama, bagaimana relasi tradisi intelektual Islam tanah air dengan kemajuan bangsa ini. Mengapa bisa sebuah bangsa yang mayoritas penduduknya muslim, berada pada posisi 60 dari 61 negara dalam hal tradisi membaca. Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Bostwana, sebuah nama negara yang bahkan mungkin, baru pertama kali kita dengar.

Sebuah agama yang dilandaskan teks suci Al-Quran yang mana ayat suci yang pertama kali turun berbunyi, Iqra’, bacalah! Tapi mengapa kesadaran terhadap budaya membaca tidak kuat tercipta di masyarakat. Hal ini tentu menjadi tugas kita bersama untuk mengatasinya. Bahwa ber-Islam secara kaffah tidak cukup ditempuh dari jalur politik identitas. Juga tidak cukup ditempuh dengan mengubah penampilan dan cara berpakaian.

Tapi juga perlu ditempuh dengan cara menghidupkan tradisi intelektual. Karena siapa yang menguasai ilmu pengetahuan akan menguasai peradaban, knowledge is power kata Michel Foucault. Dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan, kita harus mengupayakan agar tradisi intelektual bertumbuh di kalangan muslim Indonesia.

Tradisi Islam adalah tradisi yang sangat menghormati teks, demikian kata Nidal Guessom, Guru Besar Fisika dan Astronomi dalam Islam and Modern Science. Maka tidak ada alasan bagi muslim siapa saja yang peduli dengan nasib masa depan negeri ini, untuk senantiasa menghidupkan dan menjaga tradisi intelektual Islam.

Langkah kecil yang bisa kita lakukan berupa sikap menghargai teks, buku atau kitab. Dan berupaya bersikap terbuka terhadap semua jenis ilmu, dan bersikap menghormati berbagai pandangan yang berbeda dengan pandangan kita. Jika warna Islam politik identitas lebih dominan di sekujur tubuh negeri ini, tanpa diimbangi kehidupan tradisi intelektual Islam, bisa jadi agama Islam tak lagi menjadi perekat bangsa, namun justru menumbuhkan benih perpecahan sosial. Tentunya kita semua tak menghendaki perpecahan dan keretakan sosial menimpa negeri ini.

Penulis (Embun Kerinduan), Bergiat di Rumi Institute Jakarta & Center of Living Islamic Philosophy Jakarta IG: raewellmina / FB: rae wellmina / Twitter : @RaeWellmina / Youtube : Rumi Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…