Jumat, Oktober 30, 2020

Buruh “Yang Salah” dalam Wacana Kesetaraan Demokrasi

Demokrasi Tersandera Tahun Politik

Alangkah beratnya beban yang ditanggung oleh bangsa ini, terlepas dari jeratan orde baru menuju alam demokrasi, ternyata belum mampu memberikan angin segar bagi kemajuannya. Tetapi...

Gangguan Jiwa Pasca Corona

Sudah berbulan-bulan lamanya umat manusia berperang melawan Corona. Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan “senjata” yang tepat dalam membunuh virus tersebut. Namun hingga kini belum...

Apa Lawan Media Sosial?

Pada tanggal 21 Mei 2019 jelang pukul 23.00 WIB ketika saya hendak mengucapkan “selamat malam” dan “semoga mimpi indah” kepada kekasih di kota lain....

Di Balik Bebasnya Abu Bakar Ba’asyir, Kemanusiaan atau Strategi?

Masyarakat kita mungkin saja masih larut dalam euforia dan riuh-riuh debat pilpres beberapa waktu yang lalu, terutama sekali kalangan netizen maha benar yang jarinya...
Avatar
Nihaya Rina
Penulis Independent

Seakan tidak pernah lepas perselisihan antara buruh dan demokrasi di Indonesia. Problematika Omnibus Law yang terus menarik pita suara para aktivis dan buruh untuk semakin merongrong penolakan.

Pandemi covid-19 segera mengambil alih lainnya, menurut Federasi Serikat Buruh Lintas Pabrik (FBLP) sebanyak 800 anggota mereka dirumahkan tanpa upah dan dilansir dalam media lain sebanyak 2.084.593 buruh mengalami imbas ekonomi dan 241.341 buruh di PHK. Dibalik kerisuhan mengenai buruh pemikiran Jacques Ranciere seorang filsuf Prancis menemukan relevansinya dalam menjajaki labirin pembahasan demokrasi, korban, mereka yang termarjinalkan, emansipasi dan politik.

Berangkat dari pemikiran Ranciere, Sri Indiyastutik terpesona untuk mengangkatnya ke dalam refleksi bukunya untuk menjelaskan persoalan disensus demokrasi dan buruh hari ini. Kontemplasi simetris dengan pertanyaan yang selalu dipertanyakan tiap tahun di May Day yang selalu sama, mengapa dominasi elite langgeng dalam tatanan kehidupan masyarakat demokratis yang mewacanakan kesetaraan.

Berawal dari Ranciere menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pemerintah Prancis melakukan kekerasan terhadap demostran imigran Al-Jazair yang meminta di menuntut di hentikannya perang.

Nyatanya, tingkah laku aparat keamanan justru tidak memberikan keamanan semestinya dengan adanya pemukulan dan pembunuhan terhadap demonstran. Setelah kejadian tersebut banyak publikasi buah pemikiran Ranciere mengenai kesetaraan. Baru-baru ini Jokowi akan melakukan kebijakan pembukaan lahan baru akibat pandemic covid-19. Konflik agraria antara warga dan aparat bukanlah hal baru, Ranciere mungkin akan menarasikan hal ini setiap kali pembukaan lahan jika ia tinggal di Indonesia.

Benih awal pertumbuhan Ranciere dapat diawali melalui pendefnisian the wrong dan kesetaraan. Sri Indiyastutik mengartikan the wrong sebagai yang salah. Dengan elaborasi bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadi bagian dalam tatanan sosial, tetapi tidak ada dalam tatanan dapat dibayangkan mereka adalah para buruh, petani Kendeng, buruh Megariamas hingga konflik Omnibus Law.

Mereka yang dianggap mengganggu tatanan sosial elite karena menolak pembangunan pabrik. Sementara itu menurutnya kelompok yang dihitung adalah mereka yang menempati bagian-bagian dalam tatanan sosial dan mengampu peran yang dianggap berguna, kaum elite ekonomi hingga elite pejabat memiliki peran ini.

Kasus aksi menyemen kaki para petani Kendeng dengan tuntutan terhadap proyek yang menurut peneliti akan merusak daerah, merusak penyimpanan air dan mengancam pasokan air bersih. Para petani Kendeng adalah contoh the wrong, karena keberadaannya dianggap mengganggu berjalannya proyek semen dan argumentasi mereka terhadap pelestarian tertolak karena tidak cukup memadai disandingkan dengan pakar proyek yang menganggap itu bukanlah masalah.

Permasalahan paling mendasar mendukung lainnya adalah kurangnya emansipasi intelektual dalam tatanan sosial kita dan dilanggengkan seperti itu. Privilege terhadap intelektual seseorang berdasarkan asal “lulusan sekolah” masih kental diukur dibandingkan pengalaman langsung tanpa pendidikan formal. Hal ini menemukan relevansinya pada saat kasus Kendeng lolos Amdal (analisis dampak lingkungan) yang digunakan perusahaan dan di “iya” kan pemerintah setempat.

Padahal dibalik itu debu semen yang dibawa angin ke pemukiman warga akan mengancam kesehatan hingga ancaman gangguan air yang berujung gagal panen bagi para petani lokal. Emansipasi intelektual dapat menghasilkan kesetaraan akal budi bagi setiap manusia terutama para kaum buruh. Kesetaraan sebagai sesama manusia yang hidup.

Cukup jelas acapkali yang terjadi di masyarakat buruh adalah logika dibalik pembagian tempat, perang, fungsi dan kelayakan. Perselisihan yang dilakukan the wrong bukanlah tentang identitas. Mereka bersuara karena merasakan dampak negatif dan kerugian ekonomi bahkan hingga ancaman kebutuhan primer karena pendapat mereka luput dihitung agar menjadi bagian dari tatanan sosial.

Demokrasi adalah disensus, perselisihan, ungkap Ranciere. Inilah panggilan kepada orang-orang yang berpetuslsng menemukan kesetaraan dan berlapang dada menerima perbedaan.

Avatar
Nihaya Rina
Penulis Independent
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.