OUR NETWORK

Bumi Manusia dan Identitas Paska Kolonial

Bagaimana dengan roman Bumi Manusia dalam menggambarkan relasi pribumi dengan Barat?

Salah satu catatan kritis Prof. Ariel Heryanto saat mengulas film-film tanah air ialah, perihal stereotype orang kulit putih atau bule, atau dalam hal ini orang Barat. Dalam film-film nasional belakangan, sosok bule selalu digambarkan dengan peran antagonis sebagai penjahat.

Hal itu contohnya biasa kita temukan dalam film yang menceritakan kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia, semisal film Merah Putih, yang merupakan trilogi. Artinya Barat selalu identik dengan jahat dan seratus persen musuh bagi Indonesia.

Barat dalam hubungannya dengan negeri ini digambarkan secara monolitik satu warna: jahat. Maka apa yang terjadi dalam film nasional saat melukiskan orang Barat, menurut pandangan Guru Besar dari Australian National University yang juga sekaligus anggota dari Australian Academy of Humanities, adalah sebuah kemunduran.

Hal itu bisa dibandingkan misalnya dengan film Lewat Djam Malam garapan Usmar Ismail, yang melukiskan orang Barat secara lebih proporsional dan tidak monolitik digambarkan sebagai jahat. Karena orang jahat dan baik, ada dimana saja bisa di Barat maupun pada diri orang pribumi.

Bagaimana dengan roman Bumi Manusia dalam menggambarkan relasi pribumi dengan Barat? Sebagai sebuah roman, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan Barat dalam Bumi Manusia secara sangat canggih, sangat kompleks dan proporsional, artinya ada yang jahat dan biadab, tapi juga ada yang baik dan membela kemanusiaan, lengkap semuanya ada. Karena tidak mungkin dalam ruang yang terbatas ini untuk mengulas semua tokoh Barat dalam roman Bumi Manusia.

Maka saya ingin menyebut sebagian saja perihal ini. Misalnya sosok bule jahat diperankan oleh Maurits Mellema. Ada yang kriminil semisal Robert Surhoff. Yang membawa pencerahan semisal Juffrouw Magda Peters, guru sastra sang protagonis Minke di HBS. Adapula Jean Marrais seniman humanis sahabat Minke. Salah satu quotes yang paling terkenal dari roman Bumi Manusia ialah, “seorang terpelajar haruslah berlaku adil sejak dalam pikiran”.

Kata-kata tersebut di roman Bumi Manusia dilisankan oleh Jean Marrais, yang notabene bule dan Barat. Ringkasnya, relasi pribumi dengan Barat dalam roman Bumi Manusia tidak digambarkan secara hitam putih dan dangkal. Tapi dilukiskan dengan sangat kaya, dinamis, sangat kompleks dan canggih sekali.

Bagaimana Menyikapi Barat

Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi oleh negeri bekas jajahan Barat pada masa paska kolonial ialah, bagaimana menempatkan relasi dirinya dengan Barat. Mengapa Barat penting dibahas, karena di zaman globalisasi seperti saat ini, Barat menjadi realitas omnipresent, hadir dalam setiap sendi kehidupan di Timur.

Beberapa cendekiawan Asia yang menaruh perhatian serius terkait problem ini (untuk menyebut beberapa nama saja) ialah, Mohammad Iqbal (India. 1877-1938) Hassan Hanafi (Mesir. Lahir 1935) Tariq Ramadhan (Swiss.Lahir 1962) Seyyed Hossein Nasr (Iran-USA. Lahir 1933). Empat nama yang saya sebutkan tersebut berdasarkan latar belakang bidang study saya yaitu, filsafat Islam, tentu masih banyak nama selain empat nama tersebut. Mereka adalah contoh orang-orang yang mencoba merumuskan relasi dialogis antara Timur dan Barat secara setara.

Mohammad Iqbal filsuf muslim terbesar abad 19 dalam masterpiece-nya reconstruction of religious thought mengkritik Barat, namun di sisi lain dia juga produk pendidikan Barat yang mengambil sumber-sumber pikiran Barat untuk menyusun filsafatnya. Beda lagi dengan Hasan Hanafi yang secara metodologis merumuskan karya muqodimah ‘Ilm al istighrab atau dikenal dengan Oksidentalisme, untuk dijadikan sebagai tools dan kacamata untuk menilai Barat.

Jika Barat selama ini melakukan kajian Orientalisme atas Timur, maka sudah saatnya kita melakukan yang sebaliknya atas Barat, yakni proyek Oksidentalisme, demikian kata Hanafi. Senafas dengan Hanafi, Tariq Ramadhan merumuskan Teologi Dialog antara Islam dan Barat. Sedangkan Seyyed Hossein Nasr filsuf muslim modern yang menjadi Guru Besar Islamic Studies di Georgetown University Amerika Serikat, dalam berbagai karyanya banyak melakukan kritik terhadap pondasi filsafat Barat.

Mengapa saya hanya menampilkan para cendekiawan muslim dalam tulisan ini, hal tersebut karena fenomena politik identitas atas nama Islam semakin menggejala di tanah air belakangan ini. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari respon dalam menyikapi relasi dengan Barat. Fundamentalisme Islam maupun Liberalisme Islam yang vis a vis bertarung dalam panggung wacana muslim kontemporer di tanah air, adalah hasil dari menyikapi dan respon mereka terhadap Barat.

Kebencian membuta sebagian muslim terhadap Barat dengan menganggap Barat sebagai kesalahan mutlak, dan penyebar gazwhul fikri (perang pemikiran) telah  memicu beberapa aksi terorisme dan bom bunuh diri di tanah air. Sebaliknya kekaguman tak kritis terhadap Barat telah melahirkan agen-agen neo-liberalisme yang begitu fanatik bernafsu ingin meng-copy paste Barat ke Indonesia dalam segala bidang kehidupan, politik, ekonomi, budaya, agama, seni.

Dalam konstelasi kehidupan tanah air yang kompleks untuk menentukan relasi ideal antara Indonesia dengan Barat seperti saat ini, saya kira roman Bumi Manusia menemukan peran pentingnya bagi segenap anak bangsa untuk menentukan identitas paska kolonial. Sehingga anak bangsa tidak membuta membenci Barat, dan juga tidak cinta buta kepada Barat.

Sebagaimana dikatakan Juffrouw Magda Peters kepada Minke, “semua yang tidak Eropa, lebih-lebih tidak kolonial, diinjak, ditertawakan, dihina, hanya untuk menunjukkan keunggulan Eropa. Kau sendiri jangan lupa Minke, mereka yang merintis ke Hindia mereka hanya petualang yang tidak laku di Eropa”. Guru sastra Minke tersebut mengingatkan betapa Eropa tidak sesempurna yang didakwakan.

Minke sendiri misalnya saat pengadilan kolonial berlaku tak adil terhadap dirinya dan keluarganya, dia merintih seolah tak percaya sambil berkata, “aku sendiri betapa heran orang Eropa guruku, pengadabku, bisa berbuat semacam itu”.

Kompleksitas hubungan pribumi dengan Barat, yang berujung pada terampasnya cinta Annelies dari Minke, dimana hal itu dilakukan hukum Barat. Membuktikan bahwa roman Bumi Manusia bukan kisah cinta ABG biasa yang  sekedar gagah-gagahan saling berlomba memperebutkan gadis cantik jelita, sebagaimana dinyatakan sutradara. Meski harus diakuisebuah novel tidak bisa disebut novel jika tidak ada kisah cintanya, sebagaimana kata Prof. Melani Budianta.

Harapannya semoga film Bumi Manusia nanti mampu menggambarkan kecanggihan kompleksitas orang Barat yang tidak satu warna saja adanya, sebagai jahat. Namun banyak juga orang Barat yang baik, sebagaimana tidak sedikit pribumi yang berkhianat kepada negerinya. Dalam bahasanya Pramoedya, “saya banyak mengkritik Barat, tapi yang menyelamatkan karya saya justru orang Amerika”.

Maka ketika para filsuf sejarah masih berdebat, apakah sejarah  dibentuk oleh manusia ataukah manusia yang dibentuk oleh sejarah. Nampaknya Pramoedya melalui Bumi Manusia dan tetralogi-nya justru telah terlibat dalam menentukan jalannya sejarah itu sendiri. Untuk menentukan identitas ideal bagi semua anak bangsa di negeri paska kolonial.

Penulis (Embun Kerinduan), Bergiat di Rumi Institute Jakarta & Center of Living Islamic Philosophy Jakarta IG: raewellmina / FB: rae wellmina / Twitter : @RaeWellmina / Youtube : Rumi Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…