Minggu, November 29, 2020

“Bumi Datar” dan Pesan Singkat

Nasib Pemuda Indonesia di Tahun 2045

Sejarah bukanlah barang usang yang harus kita tinggalkan, dengan sejarah kita bisa jadikan sebagai “bumbu” semangat zaman untuk mencapai perubahan. Membaca kembali catatan sejarah...

Parpol untuk Melawan Intoleransi

Menguatnya penggunaan politik identitas pada masa kampanye Pemilu 2019 ditandai dengan munculnya isu untuk memilih calon legislatif maupun pemimpin yang seagama di tengah-tengah masyarakat....

Demo Starter Pack Ala Joker

Pengaruh budaya pop pada aktivis pergerakan memang tak ada habisnya. Kalau dulu di Amerika Serikat poster "Make Love, Not War" dan ngedengerin musik Bob...

Kartu Kuning Mahasiswa dan Kuatnya Figur Jokowi

Aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) Zaadit Taqwa yang berani atau nekat mengacungkan “kartu kuning” terhadap Jokowi beberapa hari kemarin ramai diperbincangkan...
Agus Mauluddin
Pemerhati Sosial. Peneliti di CIC Institute of Rural and Urban Studies. [ig: @cic.official.id]. Penikmat Kopi & Tea.

Tulisan ini bukan sedang membicarakan Bumi Datar dalam teori konspirasinya Eric Dubay (The Flat-Earth Conspiracy). Tulisan ini akan membicarakan “Bumi Datar” (red Dunia Datar –The World is Flat), yaitu sebuah istilah yang digagas seorang Jurnalis kawakan di New York Times yakni Thomas L. Friedman.

Friedman seorang kolumnis New York Times, menggagas dengan yang disebutnya “The World is Flat”. Sebuah dunia yang dicirikan dengan pesatnya teknologi informasi dan internet. Dunia yang menjadikan setiap umat manusia saling terhubung, dari bangsa, negara, ras manapun. “Dunia menjadi datar” dibuatnya.

Kecepatan dan kemudahan menjadi keniscayaan yang terjadi di era ini, yang disebutnya sebagai era globalisasi ketiga. Dengan mudah dan cepat informasi bisa didapat. Hari ini terjadi peristiwa Gempa di Taiwan, hari ini pula di belahan bumi Indonesia informasi itu didapat.

Di belahan bumi lainnya, semisal di Eropa dan Amerika, berita Gempa Taiwan ini tersebar, tidak dalam hitungan minggu hingga bulan. Bahkan, isu ini bisa menjadi viral dan menjadi perhatian dunia dalam hitungan menit saja.

Kemudian apa urgensinya dunia datar yang diistilahkan Friedman itu? Konsepsi dunia datar yang digagasnya ini bisa sangat berguna untuk menunjukkan karakteristik masyarakat kota, pun dengan kehidupan di desa kini. Dicirikan dengan masyarakat yang gandrung terhadap gadget yang setiap saat dalam genggamannya. Kebanyakan diisi oleh para generasi milenial (lahir di 1980-1990an).

“Pesan Singkat” 

Cepatnya lalu lintas informasi menjadi suatu keniscayaan di era ini. Pun tidak terkecuali hasil cepat Pilkada serentak di 2018 nanti. Pemilu yang akan terselenggara di 171 daerah, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten, dan Pileg dan Pilpres di 2019-nya.

Hasil cepat atau quick count bisa menjadi metode yang dapat menginformasikan secara cepat dan mudah, “hasil” pemilihan. Kota-kota, kabupaten dan provinsi di Indonesia, tanpa harus kita pergi ke sana, terhubung satu sama lainnya. Informasi dari berbagai wilayah terkait “hasil” pemilu dapat diinformasikan dalam hitungan menit saja.

Siapa yang menang akhirnya, mari kita kawal bersama. Siapa yang menjabat nantinya, mari kita pantau kinerjanya, bersama. Dengan teknologi informasi juga, transparansi menjadi kunci. Transparansi kebijakan “sang terpilih” nanti, mesti dipublikasi dan diketahui bersama masyarakatnya.

Poin penting lainnya, yaitu buah dari akses informasi yang serba cepat. Dengan mudah informasi didapat, melalui gadget masing-masing orang. Jika boleh menerka, setiap orang (setidaknya para generasi milenial) di Republik ini dapat dipastikan memiliki minimalnya satu akun media sosial, facebook, twitter, instagram atau lainnya.

Dengan dekatnya mereka pada media sosial, informasi, pemberitaan tentang pemilu yang bermuatan unsur SARA, rasis, dan sarkastis kerap dilontarkan, diperbincangkan dan disebarluaaskanSemakin memperpanas suasana “bermasyarakat” Kita.

Pesan penting untuk masing-masing Kita. Stop penyebarluasan informasi-informasi yang bernuansa sara, rasis dan sarkastis yang dapat menimbulkan perpecahan antar anak bangsa. Bukan berarti pula harus menjauh dari teknologi (semisal tidak lagi ‘bermedsos’), namun lebih bijak dalam menggunakannya.

“Diam akan lebih bermakna daripada menyebarluaskaan berita yang tak bermakna.”

Agus Mauluddin
Pemerhati Sosial. Peneliti di CIC Institute of Rural and Urban Studies. [ig: @cic.official.id]. Penikmat Kopi & Tea.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.