Minggu, Januari 17, 2021

Bullying dan Kerancuan Masa Depan Pendidikan Kita

Hari Buruh dan Hardiknas

Belum lama ini, Indonesia memperingati hari buruh disusul hari pendidikan nasional. Hari Buruh Internasional diperingati setiap tanggal 1 Mei. Tanggal tersebut ditetapkan merujuk pada...

Suka Duka Menjadi Generasi Milenial (Kaum Rebahan)

Pada tahun 2045, bonus demografi di Indonesia diproyeksikan akan berakhir. Indonesia akan memasuki “Ageing Population”, yaitu situasi di mana usia masyarakat Indonesia yang tidak...

Soal Golputers, Biarkan Saja! [Colek MUI dan Romo Magnis]

Fatwa haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk golputers serta pernyataan Romo Franz Magnis Suseno yang menyebutkan bahwa golput melemahkan demokrasi (Tempo.id 30/3/2019), boleh-boleh saja...

Teknologi, Pendidikan, dan Etika Pelayanan Publik

Tentu kita tidak terlalu ketinggalan informasi, bahwa beberapa tahun lalu kita menyaksikan setiap melewati jalan toll, selalu ada petugas yang bekerja dengan serius. Bergulat...
Rahman Wahid
Mahasiswa Jurusan PGSD Universitas Pendidikan Indonesia

Pendidikan sejatinya memiliki tujuan untuk menghaluskan budi anak. Pendidikan tentu saja merupakan alat yang paling mumpuni dalam menempa karakter anak agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Ya, idealnya memang begitu. Namun bukan pendidikan namanya kalau tidak ada masalah pula yang terjadi didalamnya.

Tujuan mulia pendidikan untuk mengembangkan karakter, khususnya anak, kini mulai kurang membuahkan hasil yang baik. Buktinya tentu dengan semakin menjamurnya perilaku bullying yang dilakukan oleh anak. Dilansir dalam situs resmi KPAI sendiri, mereka menyatakan telah menerima pengaduan sebanyak 26 ribu kasus bully selama kurun waktu 2011–2017.

Sungguh angka yang fantastis sekaligus memilukan. Pendidikan tentu menjadi PR dan sorotan utama ihwal kian menjamurnya kasus ini. Perlu di garis bawahi pula, bahwa pendidikan yang dimaksud disini bukan hanya sekolah saja, namun jelas semua stakeholder pendidikan juga tak boleh lepas tangan dalam mengatasi permasalahan ini.

Kasus bullying tentu amat memperburuk kualitas pendidikan kita, dan tentu saja memperkeruh karakter anak bangsa yang saat ini pun tidak bisa terlalu dibanggakan dengan berbagai macam kasus seks bebas, narkoba, geng motor dan hal – hal memalukan lainnya. Kita seharusnya berfokus mengoptimalkan bonus demografi dan menyambut generasi Indonesia emas 2045.

Sistem pendidikan yang tidak harmonis lah yang menyebabkan mengapa kasus bully ini kian menjamur. Kesalahan yang paling elementer atas kasus ini adalah dengan adanya pandangan bahwa tugas mendidik anak itu secara penuh di pegang oleh sekolah. Tentu saja ini pandangan yang keliru. Karena pada hakikatnya sistem pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara terdiri dari tiga bagian, atau yang biasa kita sebut tri-sentra pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Nah, jika hanya sekolah yang hanya memegang peran pengembangan karakter anak, dalam hal ini misalnya menangkal perilaku bully tentu akan sulit. Dalam pandangan Roem Topatimasang, bahwa sekolah hanya tempat anak untuk mengisi waktu luangnya. Ini tentu mengindikasikan bahwa peran sekolah tidak lebih besar dari keluarga dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak.

Tentu saja akan percuma sekalipun pihak sekolah mati–matian mendidik anak untuk berperilaku baik, jika di masyarakat dan keluarga yang notabene realitas hidup anak – anak lebih lama berkecimpung tidak melakukan peran yang sama seperti sekolah. Ya, efek pendidikan di sekolah tidak akan berdampak signifikan bagi anak.

Sebetulnya usaha pendidikan untuk mengembangkan perilaku anak supaya menjadi manusia yang berakhlak baik, dan dalam hal ini menangkal perilaku bully sudah sejak lama dipikirak oleh Ki Hadjar Dewantara. Ia berpandangan bahwa pengembangan karakter anak tidak boleh lepas dari peran tri-sentra pendidikan tadi.

Pertama, Keluaga sebagai sub sistem paling dasar dari pendidikan menjadi kunci utama dalam membimbing anak mengembangkan karakter dasarnya. Karena tentu saja yang akan anak teladani adalah perilaku orang tuanya sendiri. Maka jangan kaget jika banyak pelaku bully berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Mulai dari perceraian, pertengkaran, dan kekerasan oleh orang tua.

Kedua, sekolah dan khususnya sekolah dasar sebagai tempat anak untuk mengisi waktu luang serta mengembangkan potensi, harusnya memperbanyak muatan pelajaran moral dibandingkan pelajaran kognitif. Hal yang terjadi justru sebaliknya, anak SD seringkali mendapat beban belajar yang berlebihan, yang terkadang membuat mereka stress dan kehilangan waktu bermainnya. Ini pula lah yang menyebabkan mengapa mereka menjadi cenderung lebih emosional, dan menjadi tonggak awal perilaku bully muncul.

Ketiga, masyarakat sebagai lingkungan sosial anak dengan skala besar tentu memilki peran yang tidak kalah penting juga dalam mengembangkan karakter serta potensi anak. Namun lagi – lagi, masyarakat tidak mampu memberikan hawa edukasi bagi anak – anak, dan malah menjadi tempat bagi anak untuk menimba ilmu dalam kasus bully. Seringkali kita lihat konten di TV dan sosial media yang bernuansa kekerasan menjadi makanan pokok yang digemari anak – anak. Maka jangan kaget pula kalau anak – anak ikut terbawa beringas oleh apa yang mereka tonton.

Tentu dalam mengatasi permasalahan bully ini diperlukan sinergi yang harmonis diantara semua stakeholder pendidikan. Jangan sampai hal ini terus dibiarkan terjadi, karena tentu saja orientasi pendidikan kita akan menjadi rancu pula, karena yang tadinya tujuan pendidikan berniat ingin mencetak manusia yang beradab malah realitanya mecetak manusia yang biadab. Jangan sampai.

 

Rahman Wahid
Mahasiswa Jurusan PGSD Universitas Pendidikan Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.