Minggu, Maret 7, 2021

Bukan Sekedar Money Politic, Tapi Patronase

Negara Punah Ala Prabowo

Kita tentu mahfum, beginilah suasana kampanye Pilpres saat ini. Kubu Joko Widodo selaku petahana sibuk mempromosikan capres andalannya dengan jargon, "kerja, kerja, kerja". Mempertunjukkan...

Kidung untuk Keragaman

Pada suatu hari, seorang guru muda menjelaskan status Indonesia sebagai negara dengan ragam etnis tertinggi ke-24 di dunia. Dicomotnya nama Suku Batak, Dayak, Minahasa,...

Etika dan Bisnis Islam Dalam Dunia Moderen

Sebelum bicara panjang lebar mengenai Bisnis dan Etika dalam Islam, Patut kita ketrahui terlbih dahulu apa itu Bisnis dan apa itu Etika. Maka dari...

Cantik Fisik Perempuan Milenial

Sebagian besar pria masih belum bisa lepas dari frame tradisional yang menggariskan bahwa kecantikan hakiki yang harus dimiliki seorang perempuan adalah cantik fisik. Hal...
mia abz
Pegiat Literos yang masih menjadi mahasiswi magister ilmu komunikasi Universitas Diponegoro

Kurang dari dua bulan untuk menginjak hari-H, hingar bingar yang mengiringi Pemilu serentak terus mengisi ruang-ruang media. Media sosial utamanya, memberikan peranan penting dalam mengusung opini publik yang dibicarakan dari waktu ke waktu. Seperti beberapa hari belakangan, issue politik transaksional menjadi trending topic di Twitter.

Beredar video salah satu partisipan politik membagikan sejumlah bingkisan kepada masyarakat. Bingkisan tersebut tidak berisi uang, melainkan pesan-pesan persuasif yang mengajak masyarakat untuk memilih partai-partai tertentu dan salah satu paslon presiden. Di dalamnya juga terdapat tabloid, serta tata cara memilih yang baik dan benar –tentu dengan sangat tendensius.

Masyarakat ramai-ramai menilai, menghakimi bahkan menghukuminya sebagai tindakan money politic. Tapi, bukankah tidak ada money di dalam bingkisan tersebut?

Patronase, Rahim Money Politic

Dalam petuah Abraham Lincoln menyebutkan, cita-cita luhur dari sistem demokrasi ialah mengehendaki agar berlangsungnya kebijakan negara atas kehendak rakyat. Maka sistem pemilihan umum sedang meraih itu. Namun, banyak praktek nakal yang mencederai demokrasi kita.

Dalam karya ilmiah “Money Politics and Electoral Dynamics in Indonesia: A Preliminarystudy Of The Interaction Between “Party-Id” And Patron-Client” yang ditulis oleh Burhan Muhtadi, bahwa para ahli ilmu politik banyak beranggapan bahwa patronase ialah penyebab marak terjadinya politik uang di negara berkembang, seperti Indonesia.

Menurut Martin Shefter, patronase adalah sebuah pembagian keuntungan di antara politisi untuk mendistribusikan sesuatu secara individual kepada pemilih, para pekerja atau pegiat kampanye, dalam rangka mendapatkan dukungan politik dari mereka. Patronase biasanya dilakukan dari dua jenis sumber dana. Pertama, menggunakan dana pribadi untuk melakukan vote buying dan money politic. Dan yang kedua, menggunakan dana miliki publik yang menghasilkan praktek pork barrel.

Ciri dari patronase ialah personal, informal, sukarela, resiprokal, tidak setara, dan bersifat dua arah. Karakteristik “tidak setara” menjadi kata kunci utama yang menunjukkan hierarkis pemberian tidak semata-mata ketulusan. Namun, ada makna penekanan dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang diberi untuk melakukan suatu tindakan. Resiprokal juga merupakan ciri bahwa ada harapan tindakan balas budi dari pemberian tersebut.

Menuju Pemilu Bersih

Meskipun praktek patronase lekat terjadi di negara berkembang karena tingkat ekonomi dan pendidikan yang terbilang rendah. Namun, patronase ada juga di negara maju, di seluruh lapisan masyarakat, modem atau tidak modem, demokratis atau otoriter, dan sebagainya.

Namun asa untuk mencapai cita-cita demokrasi tidak boleh luntur. Banyak upaya yang belum dilakukan dan memiliki harapan untuk menghasilkan perubahan. Edukasi politik menjadi alternatif utama untuk mendidik masyarakat dalam menghadapi tahun pemilu ini.  Panitia penyelenggara pemilu memiliki tanggung jawab untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai patronase dan praktek-prakteknya.

Seperti proyek pork barrel yang patut diwaspadai, selain merusak proses pemilu juga merugikan masyarakat luas. Ini menjadi tugas KPU dan Bawaslu yang memiliki mandat untuk bekerja mengawal dan menjadi supervisi selama proses ini berlangsung. Pendidikan perlu dilakukan dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, sampai tingkat pusat. Hal ini penting untuk masyarakat yang utamanya belum memahami konsep patronase.

Penutup

Pelanggaran peserta pemilu yang paling fatal selain black campaign, ialah patronase. Menggunakan dana dari sumber manapun, memaksa suara pemilih dalam kontestasi penentu masa depan bangsa adalah bagian dari merammpas hak asasi. Karena setiap orang mempunyai hak untuk menentukan pilihannya, apapun pertimbangannya, apapun sumber referensinya.

Masa depan negara kita ditentukan oleh suara kita yang berdasarkan hati nurani. Pilihanmu akan mengantarkanmu pada program-program partai, anggota dewan dan pemimpin negara yang menentukan arah bangsa kita. Maka dari itu, menjual suara kita bukanlah suatu pilihan akan kegundahan dalam menentukan.

Sumber :

Burhanuddin Muhtad. 16 Juni 2013. Money Politics And Electoral Dynamics In Indonesia: A Preliminarystudy Of The Interaction Between “Party-Id” And Patron-Client 

Rekha Adji Pratama. Maret 2017.  Patronase Dan Klientalisme Pada Pilkada Serentak Kota Kendari Tahun 2017 dalam Jurnal Wacana Politik

mia abz
Pegiat Literos yang masih menjadi mahasiswi magister ilmu komunikasi Universitas Diponegoro
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.