Banner Uhamka
Selasa, September 22, 2020
Banner Uhamka

Budaya Tradisional dan Modern Life di Dubai?

Menilik Konsepsi Kematian dalam Era Teknologi

Kematian menjadi tahapan penting dalam siklus kehidupan manusia. Fenomena dan ritus terhadapnya banyak kita lihat dalam berbagai kehidupan sosial budaya masyarakat di dunia. Membahas...

Secercah Harapan Petani Garam Rawaurip

Ditengah hiruk pikuk persiapan pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali pada bulan Oktober nanti, petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon tengah berupaya...

Catatan Pemberantasan Korupsi 2019

Tak terasa tahun 2019 akan segera berakhir, momen di penghujung tahun selalu dipergunakan untuk melakukan refleksi semua hal yang telah dilakukan sepanjang tahun. Gunanya...

Mengapa Kita Membangunkan Kembali Singa yang Tidur?

Pembakaran bendera yang dilakukan oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di hari santri kemarin berbuntut pada kecaman keras dari pihak yang merasa disudutkan, walhasil muncul...
Winanda Aryansyah
Student of International Relation at Universitas Islam Indonesia.

Jika ada pertanyaan tentang apa kota paling modern di dunia saat ini, pasti kebanyakan orang akan setuju untuk mengatakan Dubai sebagai salah satu contoh dari kota modern yang ada di dunia saat ini.

Pendapatan per-kapita yang kian meningkat tiap tahunnya, mendorong kota ini untuk terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman, yang menjadikan kota  ini seperti apa yang kita kenal sekarang. Siapa sangka, kota yang hanya memiliki luas wilayah sekitar 4000 km² di kawasan teluk di Timur Tengah tersebut, saat ini telah berubah dan dikenal sebagai salah satu kota di dunia yang dianggap sebagai simbol dari kehidupan modern saat ini.

Tentu saja, opini tentang Dubai sebagai simbol kehidupan modern bukanlah hanya isapan jempol belaka. Adanya gedung tertinggi di dunia, mall terbesar di dunia, hingga kebun bunga yang berada di tengah dataran gurun yang tandus, dapat menjadi sekumpulan bukti yang memperkuat opini Dubai sebagai simbol kehidupan modern saat ini.

Belum lagi, ditambah banyaknya brand pakaian ternama yang juga ikut membuka store-nya di dubai, makin menjadikan kota ini layak disebut sebagai salah satu simbol kehidupan modern yang ada di dunia saat ini.

Sejarah Dubai

Sebelum menjadi kota metropolis yang sangat modern seperti sekarang, Dubai tentu saja memiliki sejarah yang tidak jauh berbeda dari kota-kota lain yang berada di wilayah teluk di Timur Tengah. Kota yang dulunya merupakan dataran tandus, yang bahkan masih kurang cukup untuk mengihidupi penduduknya, kini telah berubah menjadi kota modern yang selalu menarik minat orang dari seluruh dunia untuk sekedar berkunjung hingga tinggal menetap disana, untuk mencari penghidupan yang lebih layak,

Awal mula perkembangan pesat Dubai ini, berawal dari tahun 1950-an, dimana minyak, yang diketahui sebagai contributor terbesar bagi perkembangan Uni Emirat Arab dan khususnya Dubai, mulai ditemukan.

Sejak saat itu, minyak menjadi komoditas andalan dari wilayah tersebut, yang kemudian berhasil memberikan keuntungan yang sangat besar. Tetapi, penguasa dubai saat itu yang bernama Sheikh Rashid tidak cukup berpuas diri dengan keuntungan besar yang mereka dapatkan dari minyak pada saat itu. Beliau sadar, bahwa suatu saat minyak yang menjadi komoditas utama mereka tadi, akan habis.

Untuk mengantisipasi jika hal tersebut terjadi, maka Dubai juga harus mencari sumber pendapatan lain, agar selalu bisa bisa bertahan dan tetap berkembang dalam keadaan dunia yang selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, Sheikh Rashid memiliki keinginan yang kemudian berubah menjadi ambisi untuk menjadikan Dubai sebagai kota industri, perdagangan, hingga wisata tingkat dunia.

Cerita awal dari perkembangan modern Dubai ini berawal dari tahun 1999, dimana pada tahun tersebut Burj Al-Arab dibuka dan diakui sebagai satu-satunya hotel bintang tujuh yang ada di dunia.

Terlepas dari perkebangannya yang pesat hingga menjadikannya sebagai simbil dari kehidupan modern saat ini, timbul suatu pertanyaaan dibenak saya yaitu “Dimanakah Posisi Budaya Tradisional Dubai Saat Ini?” apakah dengan keadaan yang sangat berbeda 180 derajat dari puluhan tahun yang lalu, ditambah dengan banyaknya budaya luar yang masuk ke Dubai saat ini, menjadikan penduduk Dubai mulai meninggalkan budaya tradisionalnya, karena mereka sudah dipuaskan oleh kehidupan modern?

Dubai, Budaya, Kehidupan Modern

Pertanyaan tersebut menurut saya sangat tepat sekali untuk dilontarkan kepada Dubai saat ini, karena ktia tahu bahwa modernisasi sendiri punya dampak yang baik dan juga buruk.

Dalam menjawab pertanyaan saya diatas, saya sendiri justru menemukan fakta yang menarik terkait hal tesebut. Penduduk asli Dubai merupakan ras keturunan Arab mayoritas muslim, yang kemudian dikenal dengan panggilan Emirati.

Meski dihujani oleh budaya modern yang arusnya sangat cepat, para Emirati di Dubai ini tidak serta-merta melupakan budaya Tradisional mereka. Memang, saat ini mereka sudah tidak menunggangi unta lagi, melainkan sudah menunggangi mobil-mobil mewah. Tetapi, kehidupan berbudaya masih sangat kental dikalangan masyarakat lokal atau yang merupakan penduduk asli dari wilayah tersebut.

Eksistensi budaya tradisional Emirat masih sangat terasa di Dubai, walaupun kota ini sudah dikenal sebagai kota metropolis yang sangat modern saat ini. Masih dijunjung tingginya budaya dikalangan para Emirati dapat kita lihat dari keseharian mereka yang masih gemar untuk menggunakan gamis dan abaya sebagai pakaian sehari-hari mereka.

Emirati yang dikenal sebagai mayoritas muslim ini juga, masih menjunjung tinggi nilai-nilai dalam agama Islam seperti pedoman dari Al-Quran hingga Adzan yang selalu dikumandakan di Dubai ketika memasuki waktu shalat fardhu. Pada masa bulan Ramadhan, berbagai tempat makan umum seperti restoran dan café ditutup selama siang hari, karena umat muslim sedang berpuasa pada saat tersebut.

Perayaan hari besar yang masih sarat akan budaya juga selalu dirayakan dengan megah di Dubai, seperti Hari jadi Uni Emirat Arab, hingga Eid atau Idul Fitri. Budaya tradisional seperti mejamu tamu yang datang ke rumah, dan kemudian meminum teh bersama juga masih sering diterapkan di Dubai. Arsitektur bangunan yang memiliki ciri khas Emirat, hingga kaligrafi juga masih menjadi bukti kuat bahwa Dubai tidak melupakan budaya tradisional mereka.

Apa yang terjadi di Dubai saat ini, ternyata sangat menarik untuk diulik, karena disamping kehidupan modern yang terus berkembang disana, tetapi Dubai tidak semata-mata meninggalkan budaya tradisional mereka. Fakta ini dapat dilihat langsung dari para Emirati yang masih kental dengan budaya tradisonal mereka dalam beberapa aspek dari pakaian, menjamu tamu, hingga perayaan hari besar disana.

Ada baiknya, apa yang terjadi di Dubai ini dapat dijadikan sebagai contoh oleh kota-kota modern lain di dunia, bahwa tidak perlu meninggalkan budaya tradisional untuk jadi kota modern sepenuhnya. Budaya harus tetap dipertahankan karena itulah yang memberasakan setiap wilayah di zaman modern saat ini. Budaya tradisional dan modern dapat berjalan beriringan, Dubai sebagai salah satu buktinya.

Ditulis oleh :

Winanda Aryansyah
Student of International Relation at Universitas Islam Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Disiplin, Senjata Ampuh Melawan Corona

Sejak ditemukan penyakit Covid-19 yang diakibatkan oleh virus corona pada akhir tahun 2019, pandemi ini telah menembus angka 30 juta korban kasus positif di...

Teriakan yang Mematikan Pohon di Kepulauan Solomon

Ada kebiasaan menarik dari penduduk yang tinggal di Kepulauan Solomon: Meneriaki pohon. Untuk apa? Untuk menebang pohon yang mengganggu. Jika pohon itu terlalu besar, kayunya...

Menelisik Politik Hukum dan Kebijakan Kita

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keragaman, mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara harmonis merupakan hal yang esensial. Kehidupan yang inklusif atau keberdampingan para...

Jalan Buntu Reformasi Polri?

Perbincangan mengenai kepolisian tampak menghangat dalam beberapa bulan terakhir. Bukan karena prestasi semata Ia lantas diperbincangkan, melainkan keputusan dan tindak tanduk dari oknum-oknum anggota...

Komunis Pertama dalam Tubuh Organisasi Islam Di Indonesia

Pada tahun 1913 H. J. F. M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dia memulai karirnya sebagai seorang pengamut mistik Katolik tetapi kemudian beralih ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.