Senin, Januari 25, 2021

Budaya Pengetahuan dan Enigma Dahlan dalam Spirit Muhammadiyah

Bahaya Dibalik Politik Tagar

Melihat panasnya Pertarungan dan gesekan politik di masyarakat akhir-akhir ini, cukup menarik bagi kita jika kembali membuka buku karya dari Evans dan Kevin Raymond...

Janji Politik Mengoyak Kehidupan Berkelanjutan

Secara global, saat ini kecenderungan dunia mengarah pada tujuan pembangunan berkelanjutan. Tujuan pembangunan berkelanjutan menitikberatkan pada keberlanjutan ekonomi dengan mendukung kapasitas sosial yang inklusif...

Redefinisi Kemiskinan

"Spare no effort to free our fellow men, women, and children from the abject and dehumanizing conditions of extreme poverty" Perang melawan kemiskinan global telah...

Inkonstitusionalitas Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang Ormas

Wacana Pembubaran Organisasi Masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia beberapa waktu lalu hangat diperbincangkan di berbagai ruang publik, saat ini makin menemui titik kulminasinya, puncaknya terjadi...
Hari Naredi
Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UHAMKA

Dahlan, hanya ia yang tahu pasti apa dan mengapa ia mendirikan Muhammadiyah. Setelah itu yang tersisa hanyalah enigma bagi siapa saja yang hendak memahaminya.Setelah Dahlan tiada, enigma ide-idenya itu terus dirajut membentuk pola-pola dari proses reproduksi makna hingga kini.

Pengembaraan ide Dahlan adalah proses pencarian hakikat dan jati diri. Ia tidak sedang asyik bergelayut di dahan, ranting dan dedaunan surga dalam dunia spiritual atau metafisika sendirian saja, Dahlan yang sesungguhnya adalah Dahlan sebagai ide hidup, ide tentang mengapa, bagaimana, hendak kemana hidup itu sesungguhnya.

Jika hidup itu tentang mengada dan hidup yang mengada hadir bersamaan dengan hadirnya kecemasan terhadap hidup itu sendiri, maka Ide Dahlan hidup dalam dialektika itu, ia pembawa pesan di tengah kecemasan.

Ide Dahlan membuka jalan berisi makna hakikat kehidupan bukan untuk di ambil dan di telan mentah-mentah lantas berhenti di kerongkongan hingga tersedak.

Dahlan membuka jalan agar ide itu terus maju menuju hakikat hidup yang sesungguhnya terus memanjang dalam waktu dan meluas dalam ruang. Berita tentang idenya masih ditafsirkan dan terus di tafsirkan hingga kini, walau Dahlan hidup di zamannya dengan idenya, dalam lintasan sejarah adalah sebatas pada usianya.

Dahlan sebagai ide, ia hidup dan menghidupkan, memberi inspirasi, memancing imajinasi. Dahlan sebagai individu dengan maha karya ciptaannya, yaitu Muhammadiyah yang kini berusia 107 tahun memang menjadi kebanggaan tersendiri namun demikian hendaknya jangan terjebak di masa silam yang bersifat romantik belaka.

Sesungguhnya bukan itu yang mungkin Dahlan kehendaki, Ide Dahlan ide tentang mengada dalam hidup. Ia bisa hinggap kepada siapa saja, dimana saja, kapan saja oleh siapa saja.

Biarkanlah ide Dahlan itu bebas menembus batas, meretas, kemana saja. Ide Dahlan sesungguhnya adalah spirit utama, eksistensi itu sendiri, ia bukan lembaga, la bukan hak yang harus dimiliki, ia bukan suatu sosok kongkret.

Ide Dahlan itu adalah enigma wajah eksistensial yang hidup didalamnya tentang diri yang tercerahkan, tersimpan cahaya, ia bisa hadir hadir dalam sosok manusia, mengada dalam lembaga, ada dalam setiap gerak dan langkah zaman.

Refleksi 107 tahun adalah sebuah teks kehidupan, didalamnya berisi rajutan-rajutan, jaringan-jaringan makna eksistensi umat manusia yang tercerahkan dan Dahlan dengan idenya memasukkan ruh Muhammadiyah ke dalam enigma kehidupan. Ijinkan Saya menamainya dengan “Ide kebudayaan yang tercerahkan.”

Pandangannya Dahlan luas tetapi terkadang tafsir-tafsir yang muncul menyempitkannya, sikapnya penuh kasih dan penghayatan yang dalam akan dunia yang terisi dan diisi oleh keniscayaan perbedaan dan keragaman kadang ditafsirkan sempit dalam dikotomi hitam putih. Ide Dahlan itu hidup dan menghidupi, tetapi banyak  tafsir mencoba membekukannya.

Semoga di 107 milad Muhammadiyah  ini umat manusia merasakan kehangatan dalam cahaya Muhammad yang sejiwa dengan spirit jamannya menembus dalam akal budi sehingga mampu hidup kembali membaca teks enigma kehidupan dengan sudut pandangan baru lebih sehat, lebih bermutu, lebih luas, terasa dan dirasakan keteduhannya, kedamaiannya, muncul dalam dialektika etika, estetika, inilah moderasi ide Dahlan, membangun peradaban dengan akal budi yang tercerahkan.

Akal budi, ide universal dalam budaya pengetahuan umat manusia yang tercerahkan akan membawa kesadaran diri bahwa pengetahuan adalah spirit utama. Pengetahuan adalah sebuah budaya eksistensial. Kesadaran itulah sesungguhnya spirit Muhammadiyah.

Kebaikan, kebenaran dan keindahan adalah berkah pengetahuan yang sesungguhnya diterangi cayaha Illahi inilah sumber dari spirit Muhammadiyah. Semoga muncul Dahlan-Dahlan baru pembawa pesan ide pencerahan bagi seluruh umat manusia di setiap zaman dan disetiap masa.

Hari Naredi
Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UHAMKA
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.