Rabu, Oktober 21, 2020

Budaya Indonesia Disimpang Jalan

Kecamuk di Ghouta Timur: Antara Humanisme dan Strategi Perang

Situasi memanas di Afrin, Suriah Utara, belum usai. Kini, Ghouta Timur kembali menjadi arena pertarungan kubu pemerintah dan oposisi. Jika sebelumnya, kontestasi di Afrin...

Menjadi Pembaca Pintar Masa Kini

Dalam salah satu Bab pada bukunya yang berjudul Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (1991), Kuntowijoyo memaparkan tentang Serat Cebolek, sebuah dokumen yang ditulis pada...

Belajar dari ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad

Sebagai mahasiswa kadang beberapa orang bertanya kepada saya: Nanti, setelah lulus kuliah, kira-kira kamu mau kerja apa? Saya suka jawab, kalau impian saya sangat...

Kita Butuh Kurikulum Toleransi di Sekolah

Kampanye dan perdebatan dalam pilpres kali ini sepertinya melupakan aspek penting lain dalam pendidikan yang sebenarnya punya relevansi untuk diperdebatkan yaitu soal model pendidikan/kurikulum....
Avatar
Lutfan Amin
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Indonesia merupakan sebuah negara dengan jumlah budaya yang sangat beragam, keberagaman ini bukan merupakan sebuah hal penghambat atau penghalang antar budaya untuk berkembang namun justru sebuah anugrah yang diberikan tuhan kepada indonesia. Budaya sendiri merupakan sebuah kebiasaan yang diturunkan kepada anak cucu dari generasi terdahulunya kepada generasi selanjutnya.

Saat kita tarik kepada keadaan indonesia dizaman modern ini, indonesia sedang dihadap oleh sebuah budaya baru, budaya barat yang juga mulai masuk ke daerah teritorial indonesia dengan dibawa oleh musafir yang disebut globalisasi. Ini adalah jenis spesies budaya baru, sama seperti budaya yang sudah terdahulu di indonesia sama sama membutuhkan penghargaan (Eksistensi).

Eksistensi tidak terlepas dari kesediaan masyarakat itu sendiri untuk membudayakan kebiasaan itu agar menjadi budaya. Budaya tradisional maupun budaya modern sama sama butuh sumber daya untuk mempertahankan kebiasaan-kebiasaan yang akan menjadi kebudayaan di masyarakat. Saat masyarakat sudah tidak lagi membiasakan kebiasaan kebiasaan yang berjalan sejak dulu maka disanalah budaya sedang berada diujung tanduk kematian budaya itu sendiri.

Budaya bukan hanya sebuah teori ataupun pengetahuan tentang kebiasaan orang zaman dulu, sering kita terjebak pada pemahaman bahwa budaya adalah cerita tentang kehidupan zaman dulu. Bukan, budaya adalah segala hal meliputi kebiasaan dan polahidup sebuah masyarakat, lebih dari sebatas perilaku namun nilai yang diimplementasikan melalui perilaku adalah sebuah hal yang sangat penting dari sebuah budaya.

 Budaya saat ini mulai mendapat perhatian besar dari banyak masyarakat tidak hanya indonesia namun seluruh dunia. Keaneka ragaman budaya diindonesia mulai disadaari oleh warga negara indonesia sendiri. Selain itu dari keanekaragaman dari masing masing budaya memiliki keunikan tersendiri sehingga menyadarkan banyak masyarakat indonesia bahwa budaya indonesia sangat potensial untuk diekplorasi semaksimal mungkin.

Eksplorasi budaya saat ini begitu masif dilakukan oleh banyak penggiat budaya selain itu yang masif dalam meksplorasi budaya adalah pihak yang menjadikan budaya sebagai komoditas. Barang jualan ? ya sangat banyak produk budaya yang dijadikan barang jualan baik guna mendapatkan profit, merealisasikan program ataupun dalam melakukan mobilisasi masa guna mencapai target tertentu. Dibalik banyaknya pihak yang memanfaatkan budaya sebagai barang dagangan masih banyak juga yang mempertahankan buday untuk menjaga kelestarian budaya agar anak cucu nya mengenal seperti apa kebiasaan yang dilakukan oleh para pendahulunya.

Akulturasi

Akulturasi jika kita tarik ke definisi nya adalah penggabungan dua jenis budaya yang tidak menghilangkan nilai-nilai dari masing masing budaya. Nilai adalah ruh dari budaya itu sendiri, saat akulturasi sudah menghilangkan nilai esensi dari sebuah budaya maka itu sudah bukan lagi akulturasi, namun pembunuhan budaya, atau penistaan lbahasa kerennya. saat satu budaya kita campurkan dengan budaya lain dengan porsi yang tepat makan produk akulturasi itu akan membawa masing masing produk awal nya dan memperkenalkan produk barunya.

Akan sesuai dan nikmat jika masing masing budaya yang diakulturasikan menempati porsi masing masing. Maksudnya, setiap budaya memiliki kekurangan dan kelebihan, saat masing masing budaya mengisi kekosongan dan mengosongkan diri untuk kelebihan budaya yain maka yang akan terbentuk adalah susunan resleting yang mampu merapatkan barisan. Namun saat masing masing budaya bersikukuh dan tidak mau mengalah namun pihak ketiga tetap memaksakan akulturasi maka yang akan terbentuk adalah konflik antar budaya dan hasilnya tidak akan mampu dinikmati dengan baik.

Menurut Paul B Horton & Chester L. Hunt (1984: 58) “Kebudayaan dapat dibagi ke dalam  kebudayaan materi dan non materi” kebudayaan non materi meliputi bahasa, perilaku, tarian, music dan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sedangkan kebudayaan materi meliputi artefak, maupun peninggalan berupa benda sebagai pendukung dari berlangsungnya kebudayaan.

Baik di budaya pendahulu maupun budaya modern memiliki masing masing hal tersebut, kita ambil contoh bahasa, bahasa budaya pendahulu jelas berbeda dengan budaya modern saat ini. Kecenderungan individu akan menggunakan bahasa yang digunakan oleh lingkungan di tempat tersebut. Hal itu dijelaskan oleh Summer yang menjelaskan adanya  ingroup outgroup, in group adalah setiap orang yang berada dalam kelompok social, setiap kelompok social cenderung memiliki budaya, bahasa dan kebiasaan yang seragam. Sedangkan out group adalah setiap individu yang berada diluar group. Pandangan in group akan berbeda dengan pandangan yang dimiliki out group baik terhadap anggota group maupun pihak luar group. Individu yang berada diluar group akan cenderung mendapatkan perlakuan berbeda, setidaknya dipandang berbeda dari anggota dalam group dan akhirnya akan menghasilkan kecenderungan untuk diskriminasi.

 Hal ini sesuai dengan teori etnosentrisme, yaitu cara pandang yang membenarkan kelompoknya sendiri dan cenderung menyalahkan pihak diluar kelompok yang akhirnya kelompok minoritas akan mendapatkan tekanan yang sedikit banyak berdampak pada cara pandang orang tersebut. Saat kaum minoritas tidak merasa puas dengan keanggotaannya sedikit banyak orang ini akan berusaha untuk dapat diterima dalam kelompok mayoritas dengan berbagai cara yang akhirnya harus mengikuti kebudayaan yang terbentuk di budaya mayoritas.

Modernitas merupakan budaya baru yang dipromosikan sebagai budaya kekinian, dengan didukung oleh artefak yang menyerang setiap orang dengan barang jualan yang lebih menggiurkan. Sebenarnya jika masyarakat dengan seluruh elemen melaksanakan konsesus untuk menolak segala jenis budaya baru maka masyarakat tersebut akan melakukan budaya baru yang mengintimidasi setiap pihak yang menerima budaya baru. Yang jadi permasalahan adalah budaya baru ini digerakkan secara masif oleh sebagian besar manusia didunia, akhirnya masyarakat Indonesia mau tidak mau harus menerima budaya baru ini. Budaya Globalisasi ini. 

Tidak ada pilihan lain apalagi menolak, prose masuknya budaya modern ini sangat mudah karena posisi Indonesia merupakan Negara demokratis yang membebaskan setiap warga Negara memilih apa yang dibutuhkan akhirnya budaya baru masuk tanpa harus mengetuk pintu. Budaya Indonesia berada dipersimpangan antara menyusuri jalan yang buntu karena ditutup oleh budaya modern atau memilih budaya modern yang masih memiliki jalan panjang.

Akulturasi menjadi tawaran yang lebih moderat, dengan mengesampingkan ego etnosentrisnya dan membuka pikiran terhadap budaya baru yang mungkin bisa digunakan sebagai alat menyampaikan budaya lama Indonesia. Akulturasi ini memiliki kecenderungan konflik antar budaya yang kemungkinan akan membunuh salah satu budaya, namun jika kita memilih tetap dengan “kolotitas” budaya lama kemungkinan mati akan lebih cepat didepan mata. Ada kecenderungan memperpanjang umur dan jika memang mampu diseimbangkan dengan konsisten oleh pelaku budaya maka segala kemungkinan untuk mempertahankan budaya Indonesia dapat terwujud. Yang diperlukan saat ini adalah loyalitas dan konsistensi mempertahankan budaya.

Avatar
Lutfan Amin
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.