Rabu, Maret 3, 2021

Budaya dan Agama Kemanusiaan

Gerakan Cinta Indonesia

Ada semangat baru mencintai Indonesia. Mencintai dasar negara dan pondasi kebangsaan Indonesia. Bahkan, semangat ini bertumbuh menjadi arus baru setelah bertahun-tahun negeri ini dikepung...

Bahasa Mengganggu Bangsa

Ada dalil yang mengatakan bahwa bahasa sangatlah cair, tergantung kebiasaan dan perspektif. Kecairannya kadang-kadang membuat banyak orang sulit menentukan mana bahasa yang sopan, mana...

Peran Milenial dalam Pemilu Serentak

Kita baru saja menyelenggarakan acara akbar yang rutin dilaksanakan dan cukup menyita banyak energi dari berbagai elemen bangsa yaitu Pemilu pada 17 April 2019...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...
Adi Candra Wirinata
Pencinta Kajian Sufisme dan Filsafat, dan aktif sebagai Direktur Komunitas Maos Boemi

Belakangan ini banyak ajakan hijrah, dari terbuka menuju tertutup, baik itu pakaian maupun pikiran. Doktrin-doktrin yang tak mampu membedakan antara agama dan budaya berkeliaran, mencari mangsa atau sekedar hinggap di kepala orang-orang yang belum cukup paham agama.

Saat ini banyak orang kesulitan membedakan antara agama dan budaya, sering sekali ditemui budaya yang dianggap atribut agama, fenomena ini yang kemudian menjadi keriteria orang yang belum sepenuhnya memahami agama secara sempurna. Ironisnya, religiusitas keagamaan diukur dari budaya yang dianggap atribut agama itu, hal ini yang kemudian mengikis kebudayaan Nusantara, karena tidak ada agama-agama besar yang turun atau lahir di Nusantara.

Dengan masalah yang demikian, menjadi sangat perlu memvitalkan kembali pemahaman agama dan budaya. Agama sangat jarang berbenturan dengan budaya, sedangkan budaya yang disakralkan atau budaya yang dianggap atribut agama sangat sensitif dengan budaya lain.

Tentu pemahaman yang baik bukan yang hanya mencari perbedaan atau persamaan belaka, tetapi keduanya adalah unsur pemahaman yang sempurna, oleh karena itu antara agama dan budaya harus jelas perbedaan dan persamaannya untuk melahirkan pemahaman agama secara sempurna.

Jika memang berbeda tidak perlu dipaksa sama, sebab selain berbeda tidak selalu bertentangan, juga bangsa yang dewasa bukan yang memaksakan persamaan, tapi menghargai perbedaan.

Agama dan Budaya untuk Manusia

Di hadapan Tuhan manusia tidak bisa apa-apa, tapi di dunia, yang khas dari manusia adalah wataknya yang tidak mungkin bisa diam di tempat, ia selalu mencari kehidupan yang lebih layak untuk dirinya.

Untuk menemukan kehidupan yang lebih layak manusia mengerahkan segala kemampuannya, dari pikiran hingga tenaganya. Manusia selalu bergerak untuk memanusiakan dirinya, di dalam agama selalu diajarkan untuk memanusiakan sesamanya. Sebuah agama bukanlah agama jika tidak mampu memanusiakan manusia, kualitas agama paling tidak dapat diukur dari seberapa besar manfaatnya terhadap manusia.

Manusia sebagai ciptaan Tuhan mendapatkan tugas untuk mengurus dunia, untuk tugasnya itu ia dibekali sebuah agama sebagai sebuah pedoman. Dalam hal ini, agama merupakan salah satu bentuk keber-tanggungjawab-an Tuhan tentang tindakan-Nya menciptakan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi. Agama diciptakan Tuhan untuk manusia dan kemanusiaan.

Agama dan manusia tidak dapat dipisahkan, sebab agama (samawi) adalah aturan yang diciptakan Tuhan untuk peradaban manusia di dunia. Jika agama menjauhkan manusia dari urusan dunia bahkan dengan manusia itu sendiri, maka agama tersebut tidak layak disebut agama.

Agama bukan sekedar urusan hidup setelah mati, tapi juga dan terutama adalah sebuah pedoman bagi kehidupan manusia di dunia. Agama yang hanya sekedar mengurus halal dan haram, dosa dan pahala, lalu surga dan neraka, dan tak mampu atau tidak mau mengimbangi perdaban kehidupan manusia, maka penganutnya hanya tinggal menunggu waktu kepunahan agamanya di muka bumi, lantaran sifat dunia yang keras dan tak selembut agama.

Tujuan lahirnya budaya dan penciptaan agama sangat jelas, yaitu kemanusiaan. Ini salah satu persamaan antara agama dan budaya, adapun perbedaannya adalah budaya lahir dari pengaruh watak masyarakat tertentu.

Karena pengaruh itu, maka terkadang suatu budaya tak sesuai dengan masyarakat yang tidak ikut mempengaruhi dalam melahirkan budaya tersebut. Setiap kelompok manusia memiliki budayanya sendiri. Sedangkan agama diciptakan Tuhan untuk bekal hidup manusia, murni untuk manusia, Tuhan tidak akan diuntungkan atau dirugikan dalam menciptakan agama. Karena ciptaan Tuhan, yang setiap manusia mengakui Kemaha Besaran-Nya, maka agama akan selalu sesuai dengan kehidupan setiap manusia.

Kesempurnaan Agama

Sebelum datangnya agama-agama yang lahir di luar Nusantara, Nusantara telah lama memiliki budaya yang hingga saat ini terlestarikan. Sebagai salah satu misal, Islam yang lahir di Arab dibawa oleh Wali Songo adalah Islam yang benar-benar murni, yang tidak bercampur dengan budaya Arab, sebab mereka paham bahwa budaya Arab tidak sesuai dengan masyarakat Nusantara.

Bahkan Wali Songo tidak mempermasalahkan sebutan syahadatain yang sering dilafalkan dengan sebutan sekaten, sebab apa guna sebuah bahasa jika tak mampu menyampaikan pesan, nyatanya sekaten lebih mampu menyampaikan pesan daripada syahadatain. Dengan ini, dapat dilihat bahwa pemahaman Wali Songo tentang budaya dan agama begitu dalam.

Di samping itu, sejarah telah mencatat bahwa pada masa pengusiran penjajah di bumi Nusantara Ulama’ belakangan memakai budaya-budaya Arab yang sangat dekat dengan Islam, sorban dan jubah contohnya, namun hal ini tidak bisa diartikan sebagai sebuah tindakan yang bertujuan untuk melestarikan budaya Arab di Nusantara, melainkan untuk menunjukkan bahwa Muhammad SAW sebagai pembawa Islam yang berkebangsaan Arab mengajarkan komitmen kebangsaan yang sangat kuat, mencintai kemanusiaan, dan membenci seluruh penindasan.

Perbedaan yang ada antara agama dan budaya selayaknya tidak dijadikan sebuah pertentangan, melainkan didialogkan demi menciptakan peradaban yang lebih tinggi. Budaya untuk menunjukkan sebuah eksistensi bangsa, bukan simbol dari sebuah agama. Budaya Arab bukan simbol Islam, begitu pula budaya-budaya lain bagi agama yang lahir di dalamnya.

Oleh karena itu, tolak ukur ketaatan umat beragama bukan dengan cara menunjukkan budaya tertentu, tapi tolak ukur seorang dalam memahami agama dapat dilihat dari bagaimana agama dijadikan bukan sekedar mengatur hubungannya dengan Tuhan, tapi juga hubungannya dengan sesama. Jadi, kesempurnaan agama adalah memanusiakan manusia melalui nilai-nilai ketuhanan.

Adi Candra Wirinata
Pencinta Kajian Sufisme dan Filsafat, dan aktif sebagai Direktur Komunitas Maos Boemi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.