Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Bom Waktu Eks Kombatan ISIS?

Pelajaran Penting Dua Garis Biru

Keliru jika menganggap film Dua Garis Biru Gina S. Noer hanya mempromosikan perilaku zina. Lewat skenario yang mengalir, cerita yang lekat, dan gaya bertutur...

Cara Dunia Hiburan Mencipta Mitos

Masih ingat ketika Iwan Fals bertransformasi di tahun 2012 lalu? Setelah lama tak ada kabar, tiba-tiba muncul sebagai pengiklan sebuah merk baru kopi instan. Pastinya...

Belajar (Islam) dari Negeri Barat

Ketika mendengar kata “Barat”, pemikiran langsung akan tertuju kepada negara-negara Adidaya yang mengekslpoitasi dan menginvasi negara-negara Islam. Lebih dari itu, pelbagai kerusuhan dan peperangan...

Mo Salah, Islam, dan Sepakbola

Kalau berbicara sepakbola, orang umumnya lebih senang berbicara tentang Messi dan Ronaldo, tetapi kali ini, mari kita berbicara tentang Mohamed Salah atau lebih dikenal...
Muhamad Imannulhakim
Iman is a student at Bandung Institute of Technology. Despite his background in engineering, he also has interests in politics and global conflicts, especially those that happen in the middle east.

Pada tanggal 12 Februari lalu, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa mereka tidak akan memulangkan eks-kombatan ISIS di Suriah yang berjumlah lebih dari 660 orang. Keputusan tersebut diambil dengan argumen untuk menciptakan rasa aman bagi 260 juta rakyat Indonesia.

Namun begitu, apakah keputusan yang pemerintah ambil sudah tepat? Apakah solusi itu akan memastikan Indonesia mencegah terorisme oleh ISIS atau dari organisasi serupa?

Para anggota ISIS dari awal sudah menyadari bahwa senjata utama mereka bukanlah senjata api, bom, ataupun tank. Senjata utama mereka adalah ideologi. Sehingga memahami bagaimana melawan dan bagaimana mencegah semakin radikalnya ideologi tersebut haruslah menjadi agenda semua negara dalam memerangi terorisme sejenis ISIS.

Namun begitu, saya melihat hampir semua negara tidak mau mengambil pusing dalam masalah ideologi dari ISIS ini dan seolah-olah menganggap bahwa menahan ISIS di luar batas negara mereka adalah solusi terbaik. Untuk itu saya berargumen bahwa keyakinan tersebut tidak hanya ceroboh, tetapi juga berbahaya.

Karena pertama kita harus mempertimbangan masa depan para eks-kombatan ISIS ini. Masa depan mereka akan menyangkut masa depan bagi banyak orang. Kini mayoritas dari eks-kombatan ISIS berada di beberapa penjara milik SDF (Syrian Democratif Forces).

Mereka ditahan disana tanpa ada kejelasan sampai kapan dan apakah suatu saat mereka akan bebas. Menurut pendapat pribadi saya, itu bukan hal yang buruk untuk mereka dikurung di penjara tersebut selamanya, terlepas dari bagaimana hukum internasionalnya melihatnya.

Tapi, kita juga harus mempertimbangkan semua kemungkinan. Jika kita melihat biografi dari Abu Musab Al-Zarqawi sebagai pendiri Al-Qaeda di Iraq(AQI) dan Abu Bakr Al-Baghdadi sebagai penerusnya dan orang yang mengganti nama AQI menjadi ISIS, mereka berdua memiliki kesamaan, yaitu mereka pernah dipenjara diantara orang-orang radikal lainnya.

Di penjara itulah ideologi mereka saling menguatkan antara satu tahanan dengan lainnya. Dan di sanalah mereka dibentuk menjadi seorang ekstrimis dengan penuh dendam dan visi untuk menghancurkan negara-negara yang menurut mereka tidak sejalan dengan Islam.

Dengan kata lain, di penjara itulah mereka dibentuk menjadi bom waktu, yang tinggal menunggu kesempatan untuk meledak. Dan ini kini sedang terjadi lagi kepada para eks-kombatan ISIS.

Kita harus selalu ingat bahwa musuh utama kita bukanlah ISIS tapi ideologi ISIS. Dan membiarkan para eks-kombatan ISIS ini terkonsentrasi di satu tempat hanya akan memperkuat ideologi mereka.

Yang kedua yang harus kita pertimbangkan adalah masa depan dari sistem yang mengurung para eks-kombatan ISIS. Untuk menjaga kedaulatan Turki dari pemberontakan yang mungkin terjadi oleh kaum Kurds di perbatasan Turki, Turki sejak 2019 lalu menggempur wilayah-wilayah SDF.

Bahkan untuk menyelamatkan diri merekapun, SDF sempat mempertimbangkan untuk menjalin koalisi dengan pemerintahan Bashar Al-Ashad dan Russia. Hal ini menunjukan seberapa tidak bisa ditebaknya masa depan dari SDF, organisasi yang menangani sistem yang menjadi tembok satu-satunya dalam menahan anggota ISIS untuk tidak kembali mengotori dunia. Dan kita tidak bisa mengharapkan situasi yang terkendali dari sistem yang tidak bisa diprediksi.

Yang ketiga adalah kita harus mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika suatu saat SDF tidak bisa menahan mereka lagi. Mungkin, jika para eks-kombatan ISIS ini berhasil kabur mereka tidak akan bisa masuk ke negara asal mereka seperti Indonesia. Tapi itu tidak berarti mereka tidak bisa melakukan kerusakan.

Mereka akan tetap melakukan kerusakan dimanapun mereka berada. Baik itu di Suriah, Irak, ataupun Yordania. Dan ketika itu sudah terjadi, siapa yang harus bertanggungjawab? SDF kah karena mereka gagal mengurung kombatan ISIS atau negara-negara lain yang menolak untuk mengambil andil dalam melawan terorisme ini?

Para eks-kombatan ISIS adalah bom waktu bagi dunia yang menunggu kesempatan untuk meledak. Dan kita tidak bisa mengambil keputusan secara egois hanya dengan berlandasan keyakinan bahwa kesempatan itu tidak akan pernah datang. Kita tahu seberapa bahayanya mengumpulkan orang-orang radikal di satu tempat.

Untuk itu, kita harus benar-benar mempertimbangkan mana keputusan yang terbaik: apakah dengan menolak mereka dan berharap kesempatan untuk bom itu meledak tidak akan pernah terjadi atau dengan mencoba menjinakan bom itu dengan mengambil andil dalam menentukan masa depan mereka oleh dan di tangan kita?

Muhamad Imannulhakim
Iman is a student at Bandung Institute of Technology. Despite his background in engineering, he also has interests in politics and global conflicts, especially those that happen in the middle east.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.