OUR NETWORK

Bom Hari Ini: Revolusi Kognitif dan Overdosis Imajinasi

Pertanyaannya, mungkinkah melakukan rekayasa genetik untuk mengeliminasi kekerasan?

Ternyata revolusi kognitif 70.000 tahun lalu yang menurut para pengkaji biologi evolusioner diduga jadi faktor utama sapiens dapat bertahan berkembang-biak dan meninggalkan neandertal dalam kepunahannya tak juga membuat sapiens belajar.

Naluri kekerasan yang dulu berguna sebagai siasat bertahan hidup di alam liar dan biomolekul merekam itu menjadi instruksi genetik yang diwarisi oleh anak turun sapiens, terlanjur melekat hingga puluhan ribu tahun berikutnya dan sewaktu-waktu masih terus bisa aktif.

Meski hukum evolusi hanya bersedia menyisakan spesies sapiens menjadi penguasa tunggal di planet ini, dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh kelompoknya – berikut beserta ide-ide humanisme yang tumbuh, rupanya tak cukup untuk meredam naluri kekerasan. Dan kekerasan itu kini telah meluas, tidak lagi hanya dengan kekerasan fisik, tetapi juga menjamah kekerasan simbolik, kekerasan bahasa, kekerasan ekonomi, kekerasan politik, dan yang lebih penting, kekerasan terhadap akal sehat.

Hari-hari ini, sebagai konsekuensi logis dari revolusi kognitif yang membuat sapiens memiliki kelebihan menciptakan tatanan ‘imajinasi bersama’ melalui bahasa, telah membuat konsumsi imajinasi yang berlebih dalam tempurung sapiens jadi bebal karena defisit rasionalitas. Imajinasi yang over dosis mengakibatkan seolah cuma kelompok tertentu saja yang berhak menghuni bumi yang diangankan. Tak boleh imajinasi lain hadir.

Gerombolan sapiens yang tak pandai melawak itu tunduk digerakkan oleh imajinasi tentang idealitas dunia yang ingin mereka wujudkan. Sebuah pertengkaran yang lahir sebagai efek samping dari revolusi kognitif. Persis sekelompok kera yang berperang memperebutkan teritori.

Hari ini bom meledak di tiga gereja di Surabaya. Beberapa hari yang lalu, lima aparat dibunuh di penjara dan disusul dengan penusukan. Dua-duanya terjadi di Indonesia, sebuah negara di Benua Asia, dengan bejibun masalah antropologi tak jauh berbeda dengan belahan bumi lain.

Karena di tempat-tempat yang lain, sapiens juga terus-menerus tewas menjadi korban kekerasan, menjadi korban dari imajinasi tentang penunggalan idealitas dunia yang dibayangkan oleh sekelompok sapiens. Kenyataan itu memberikan informasi bahwa siapa saja sapiens yang memaksa mewujudkan penyeragaman imajinasi, adalah mereka yang di saat bersamaan rentan menghadirkan mimpi buruk di tempat yang sama. Gerombolan sapiens yang mimpi di siang bolong.

Hasil revolusi kognitif puluhan ribu tahun lalu itu memang telah menghasilkan konstruksi diagram moral yang mengendalikan tingkah sapiens. Instruksi genetika merekam sandi yang diwariskan turun-temurun dari masa purba. Dengan analogi sebuah titik sumbu x dan sumbu y, yang satu sama lain saling bertolak belakang. Katakanlah, seperti antara surga dan neraka, baik dan buruk, dosa dan pahala, beradab dan biadab, kekerasan dan kelembutan, dan seterusnya.

Sesungguhnya tidak ada spesies sapiens yang secara absolut menghuni titik tertentu saja di dalam diagram moral, karena ada gradasi di sana. Reaksi kimia dalam otaklah yang menentukan fluktuasi emosi sapiens dan mendikte tingkah spesies itu. Dan kini, penjelasan paling mutakhir terkait brutalitas yang dihasilkan sapiens pada sesamanya adalah penjelasan mengenai moral, tentang identitas, tentang ekonomi dan politik, dan teori konspirasi.

Pertanyaannya, mungkinkah melakukan rekayasa genetik untuk mengeliminasi kekerasan? Barangkali inilah salah satu yang mendorong para ilmuwan di belahan bumi lain belakangan ini mencoba memodifikasi DNA neandertal.

Tetapi itu wacana lain. Yang jelas bila bercermin pada riwayat evolusi sapiens, betapa ironis revolusi kognitif menghasilkan jenis sapiens yang menghuni abad ini, karena ia tak juga mampu mengambil pelajaran dari apa yang telah dilewati leluhurnya.

Di saat sebagian sapiens lain terus-menerus berusaha memodifikasi hidup agar menjadi lebih layak untuk dihuni anak cucu mereka berikutnya, sebagian lain justru berusaha untuk menghidupkan kembali naluri purba dengan membuat kerusakan. Seperti membangun istana pasir supaya disapu ombak, seperti Sisipus yang memanggul batu ke atas bukit untuk digelindingkan lagi ke bawah terus-menerus.

Semoga senantiasa diberi ketabahan bagi keluarga korban hari-hari ini.

Pembaca, pesepeda, penonton film, yang merangkap peneliti Antropologi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…