Selasa, Maret 2, 2021

#blacklivesmatter Menggugah Kita Peduli Papua

Ambisi Caleg Milenial

Pemilihan umum (Pemilu) serentak 2019 kian memberi warna. Kenapa tidak, semangat anak muda coba ditunjukkan pada Pemilu tahun ini. Banyak hadir politikus muda lintas...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Penulis: M. Dudi Hari Saputra, MA. (Direktur Eksekutif Moderate Institute)Konsep Dasar PowerKekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca...

Rindu Rubrik Anak

Bis Sekolah yang ku tunggu ku tunggu  Tiada yang datang Ku telah lelah berdiri berdiri Menanti-nanti Sepenggal lirik lagu anak berjudul Bis Sekolah nampaknya sedikit mampu mengilustrasikan rasa...

Siapkah Indonesia Menghadapi Pasar Bebas APEC?

Asia-Pasific Economic Coorperation atau di singkat APEC merupakan bentuk kerjasama ekonomi antara negara-negara kawasan Asia Pasifik yang berjumlah 21 negara. APEC pertama kali berdiri...
Azizah Qonita
Penulis, Mahasiswi tingkat tengah.

Baru-baru ini dunia maya diramaikan oleh tagar #blacklivesmatters yang menyuarakan persoalan rasisme. Hal ini bermula ketika viralnya video tindakan rasisme yang dilakukan oleh aparat Amerika Serikat terhadap warganya yang berkulit hitam, yaitu George Floyd.

Dalam video tersebut terlihat Floyd ditahan oleh petugas, sementara petugas lain ada yang menempatkan lutut kirinya di antara kepala dan leher Floyd.  Lalu, di dalam video tersebut Floyd mengatakan “Aku tidak bisa bernapas” berulang kali sambil menyebut ibunya dan memohon “tolong, tolong, tolong”, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dan berujung kepada kematian.  Adanya tindakan yang dilakukan aparat ini diawali oleh laporan tuduhan dari seorang karyawan toko yang melaporkan bahwa Floyd telah membeli rokok menggunakan uang kertas palsu.

Diwartakan The Guardian, kematian Floyd ini memicu demonstrasi yang cukup besar di berbagai negara.  Mereka menuntut keadilan atas meninggalnya pria kulit hitam tak bersenjata dalam penaanan. Tuntutan ini ada juga dikarenakan anggapan bahwa kematian yang terjadi pada George Floyd bukanlah hal yang wajar, karena bila dilihat dari barang bukti yang ada dapat dikatakan kematian George Floyd ini merupakan pembunuhan berencana .  Hal ini diperkuat oleh hasil autopsi yang menunjukan kematian dari George Floyd ini dikarenakan sesak napas.

Hal inilah yang menyulut massa untuk melakukan aksi gerakan #blacklivesmatters. Karena, kejadian yang menimpa George Floyd ini memperlihatkan bahwa tengah terjadi rasisme sistemik yang menjangkiti tubuh kepolisian Amerika Serikat.  Walaupun hal ini ditepis oleh presiden Amerika Serikat, yaitu Donald Trump.

Namun, berdasarkan daftar panjang kasus kepolisian yang ada, hal ini bukanlah sesuatu hal yang baru. Pada nyatanya, seringkali ras kulit hitam mengalami kekerasan di tangan negara, agen negara, atau anggota mayoritas kulit putih.

Hal tersebut tentu tak terlepas dari adanya wacana rasisme yang dilanggengkan oleh penguasa yang didominasi oleh ras kulit putih kepada ras kulit hitam yang telah terjadi berabad-abad.  Maka perlunya perjuangan untuk menegakan keadilan, bahwa ras kulit hitam juga mendapatkan hak hidup yang layak agar tidak terpinggirkan dari kehidupan.

Dibalik Trending #blacklivesmatters yang turut diramaikan oleh warga Indonesia ini, tentu merefleksikan kembali terkait rasisme yang terjadi di Indonesia. Karena, berbicara persoalan rasisme yang dialami kulit hitam ini mengingatkan kita terhadap rasisme yang seringkali terjadi pada orang Papua.

Persoalan rasisme di Indonesia ini cukup memprihatinkan, hal ini tak terlepas dari sorot dan pengembangan berita terkait kasus rasisme ini dorongannya tidak sebesar yang terjadi di luar, seperti pada kasus George Floyd. Sehingga dalam penanganan kasus rasisme seringkali tidak maksimal dan terkadang tindakan rasis ini dianggap lumrah. Adanya trending #blacklivesmatters ini membuat banyak orang tergugah dan menyuarakan kembali terkait isu rasisme yang dialami oleh orang Papua.

Orang Papua seringkali mendapatkan perilaku serta klaim yang cenderung diskriminatif dari aparat negara maupun warga sipil. Hal ini terbukti dari beberapa orang papua yang membagikan kisahnya lewat platform media sosial. Mereka bercerita bagaimana mereka seringkali dianggap manusia yang tidak benar (mabuk-mabukan), terbelakang, berbadan bau dan kotor, seperti monyet dan perlakuan yang tidak layak lainya. Tak hanya itu, mereka juga pernah mendapatkan tindakan represifitas berbumbu rasisme, seperti yang terjadi pada George Floyd.

Hal ini dapat terlihat pada 13 Juli 2016 lalu, Obby Kogoya seorang mahasiswa asal Papua yang berkuliah di Yogyakarta mendapatkan perlakuan rasis.  Tindakan ini di mana ia di depan asrama Kamasan dikejar, ditendang, dipukuli, lalu ditangkap saat hendak mengikuti sebuah aksi protes.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yaitu Asfinawati mengatakan bahwa watak rasis aparat membuat mereka memperlakukan berbeda orang Papua.  Indikatornya sederhana, di mana aksi yang dilakukan oleh orang Papua, apa pun isunya, akan dituduh makar, padahal aksi dari kelompok lainya tidak apa-apa.   Watak rasis tersebut membuat aparat terbiasa mencari-cara kesalahan yang sebenarnya tak pernah ada.

Kasus lain terjadi pada tiga tahun setelah kejadian tersebut.  Terdapat sekelompok personel TNI serta oragnisasi reaksioner melakukan penyerangan dan pengepungan asrama Papua di Surabaya. Alasannya, mereka melihat ada bendera Merah Putih yang dipasang pemerintah Kota Surabaya jatuh ke selokan.

Tindakan penyerangan ini dilakukan secara bertahap dari TNI, Satpol PP dan ormas berdatangan, lalu mengepung asrama itu selama 24 jam. Bermacam makian bernada rasis diteriakkan massa sambil sesekali melempari batu ke arah dalam asrama. Mereka di intimidasi tanpa adanya kesempatan untuk berbicara. Adanya intimidasi ini seperti justifikasi bahwa mereka pasti salah, hal ini tak terlepas dari wacana rasisme terhadap ras kulit hitam.  Padahal dalam kasus ini belum adanya investigasi terkait permasalahan yang memicu tindakan rasis ini.

Tentu dapat dilihat adanya rasisme yang terjadi di Indonesia juga telah sistemik dan mengakar.  Hal tersebut dapat terlihat dari bagaimana aparat serta warga sipil memperlakukan secara rasis orang papua dalam tindakan sehari-hari, sehingga tindakan ini seringkali tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Adanya trending #blacklivesmatters ini membuka banyak mata untuk peduli dan kembali menyuarakan terkait isu rasisme yang terjadi pada orang Papua. Hal ini dapat terlihat banyak yang mulai menyuarakan terkait #papualivesmatters bersamaan dengan menyuarakan #blacklivesmatters.  

Peyuaraan terkait #papualivesmatters ini semakin marak ditambah dengan keputusan PTUN terkait Presiden Jokowi dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) melanggar hukum atas pemblokiran internet di Papua dan Papua Barat.

Maka, perlunya untuk  terus memperjuangkan kesetaraan dan menyuarakan isu terkait rasisme agar tidak ada lagi diskriminasi dibumi Indonesia ini.  Karena, adanya rasisme ini dapat menimbulkan efek domino yang berkepanjangan, salah satunya kesehatan mental.

Bacaan:

https://tirto.id/kronologi-kematian-george-floyd-yang-jadi-penyebab-demo-di-as-fEyQ

https://tirto.id/kasus-rasisme-represi-seperti-george-floyd-berulang-di-indonesia-fEB6

https://inet.detik.com/cyberlife/d-5033323/blacklivesmatters-tuntutan-keadilan-george-floyd-yang-dibunuh-polisi-as

Azizah Qonita
Penulis, Mahasiswi tingkat tengah.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.