Minggu, April 11, 2021

Bibliosida, Pendidikan, dan Konflik

Pilkada 2018: Daulat Rakyat Mencari Pemimpin Baik (II)

Komponen Pemimpin Baik Pertanyaan lanjutan dari adanya hak untuk bebas menentukan pilihan adalah apakah cara menjalankan pilihan sudah dipahami pemilik hak? Apakah rakyat boleh memilih...

Kasus Ustad Abdul Somad dan Lagi-Lagi Masalah Toleransi

Toleransi selalu menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Di Indonesia yang merupakan negara dengan identitas masyarakat majemuk, perbedaan pandangan dalam masyarakat sering kali menimbulkan konflik...

Gerakan Cinta Indonesia

Ada semangat baru mencintai Indonesia. Mencintai dasar negara dan pondasi kebangsaan Indonesia. Bahkan, semangat ini bertumbuh menjadi arus baru setelah bertahun-tahun negeri ini dikepung...

Haedar Nashir, Sang Uswah Penebar Ukhuwah

Suhu pra-pilpres yang makin memanas, tak ayal membuat masyarakat terjebak dan larut dalam sengatnya persaingan politik, terutama dalam mempertahankan dan mengampanyekan pilihan politik—bagi yang...
Annadi Muhammad Alkaf
Mahasiswa Sosiologi Universitas Padjadjaran

Pemberangusan, pembakaran, pelarangan, penyensoran, dan penghancuran buku atau yang dikenal dengan istilah bibliosida telah terjadi sejak zaman Sumeria kuno pada 4100-3300 SM sebagaimana temuan para arkeolog pada sebuah kuil di kota Uruk.

Fernando Báez dalam bukunya: “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” membagi peristiwa-peristiwa bibliosida ke dalam tiga gelombang besar berdasarkan zaman. Pertama, yaitu pemberangusan buku pada zaman dunia kuno. Kedua, dari era byzantium hingga abad ke-19. Ketiga, pemberangusan buku dari abad ke-20 hingga sekarang.

Salah satu peristiwa bibliosida terbesar di era dunia kuno adalah musnahnya 40.000 buku dari perpustakaan Alexandria pada 9 November 48 SM saat terjadi perang saudara atau kekacauan politik di Mesir.

Pun pada era byzantium hingga abad ke-19 juga terjadi serangkaian peristiwa bibliosida, seperti penghancuran ribuan naskah di Vietnam selama masa invasi Cina yang dimulai pada 1407 atau Pierre d’Esgain yang dituduh menentang Raja Henry III sehingga ia ditangkap pada Desember 1584 dan tulisan-tulisan satirnya disita hingga dilenyapkan.

Peristiwa-peristiwa semacam itu terus berlanjut hingga era modern saat ini. Seperti yang santer diberitakan belakangan ini, di Indonesia, buku-buku “kiri” kembali menjadi polemik bahkan sampai berujung pada pemberangusan buku-buku tersebut. Salah satu jaringan toko buku terbesar di Indonesia bahkan sampai terpaksa menarik buku-buku kiri dari peredaran.

Dari serangkaian peristiwa bibliosida tersebut terdapat satu ciri yang sama, yaitu: ketakutan. Ketakutan akan adanya pergolakan yang mengancam status quo. Penulis, secara pribadi berpendapat bahwa penghancuran atau segala jenis bibliosida adalah suatu tindakan penghinaan intelektual, baik terhadap penulis buku maupun terhadap pembaca.

Bagaimana mungkin, buku yang merupakan buah pemikiran dari penulisnya diberangus begitu saja atau seorang pembaca yang terkesan dianggap bodoh sehingga menelan mentah-mentah isi buku yang dibacanya. Sekali lagi, ini adalah penghinaan intelektual.

Lebih lanjut, hal ini menjadi semakin menarik jika dikaitkan dengan sistem pendidikan, khususnya di Indonesia. Sistem Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami ketimpangan dari segi penyerapan maupun penyampaian ilmu karena cenderung beraliran konservatif atau liberal ketimbang pendidikan kritis.

Pendidikan, secara tidak sadar terpisah dengan aspek-aspek kehidupan lainnya yang pada akhirnya menghilangkan daya kritis individu yang berujung pada langgengnya status quo segelintir orang atau kelompok.

Pendidikan hari ini juga dapat dilihat lebih cenderung dijadikan sebagai alat penyuplai tenaga-tenaga terampil yang dibutuhkan pasar/industri. Untuk itulah sebenarnya diperlukan metode pendidikan yang lebih progresif atau yang dikenal dengan pendidikan kritis. Menurut pendidikan kritis, pendidikan bertugas untuk menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil.

Terkait dengan hal tersebut, penulis menilai bahwa buku-buku “kiri” atau pemikiran-pemikiran kiri mempunyai peran yang penting sebagai penyeimbang agar tugas dan tujuan pendidikan seperti yang tersebut diatas dapat tercapai dan juga agar pendidikan tidak terkesan dogmatis. Mengapa seperti itu?

Jawabannya sederhana, karena buku-buku atau pengajaran-pengajaran yang diberikan di sekolah selama ini lebih banyak beradasarkan pemikiran-pemikiran atau sumber-sumber yang cenderung mengarah pada kapitalisme atau liberalisme. Sebagai contoh, saat di sekolah menengah tentu kita masih ingat tentang mata pelajaran ekonomi yang didalamnya memuat prinsip ekonomi yang berbunyi: “Usaha sekecil-kecilnya, untung sebesar-besarnya.”

Penulis menilai, prinsip (kapitalis) semacam itu tidak begitu relevan dengan sistem sosial masyarakat karena dapat berujung pada pengekploitasian sumber daya alam maupun manusia secara berlebihan. Akan tetapi, di sisi lain, ruang gerak kita sebagai individu juga sangat dibatasi sehingga sulit untuk mencari referensi-referensi lain, selain referensi-referensi yang dianggap aman dan diberikan oleh pemerintah.

Demikianlah sebuah ironi di negeri ini, di satu sisi individu dituntut untuk mengedepankan logika dalam berperilaku namun disisi lain seolah-olah dicegah untuk berdialektika. Di cegah untuk berbeda dan mengalami pertentangan-pertentangan baik dalam bentuk pikiran maupun perbuatan. Dengan kondisi yang seperti itu, tak heran jika banyak terjadi pembiaran terhadap ketidakadilan yang ada. Dan alasan kenapa semua ini dibuat,  (sekali lagi) tidak lain dan tidak bukan adalah untuk langgengnya status quo sebagian orang atau kelompok.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan bahwa pemberangusan buku-buku atau pun sumber-sumber referensi alternatif bukanlah suatu hal bijak yang dapat diterima. Meski dengan alasan menjaga ketentraman dan keamanan di masyarakat. Pada dasarnya, masyarakat akan terus berkembang mencari bentuk sesuai dengan zamannya.

Konflik-konflik akan tetap terjadi sebesar apapun usaha negara untuk mencegahnya. Lagipula, konflik jika dilihat dari aspek sosiologis justru merupakan unsur yang penting dalam interaksi yang oleh karenanya tidak dapat dikatakan bahwa konflik selalu tidak baik, merusak, atau memecah belah.

Justru konflik dapat menyumbang banyak terhadap kelestarian kelompok dan mempererat hubungan antar anggotanya. Pada akhirnya, persoalan pemberangusan buku-buku maupun perbedaan pemikiran menjadi hanya soal sejauh mana keterbukaaan pemikiran dari para pemegang otoritas dan kebijakan terhadap adanya perbedaan-perbedaan.

Daftar Pustaka:

Báez, Fernando. 2013. Penghancuran Buku dari Masa ke Masa. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Martono, Nanang. 2014. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.

Veeger, K. J. 1985. Realitas Sosial. Jakarta: Gramedia.

Annadi Muhammad Alkaf
Mahasiswa Sosiologi Universitas Padjadjaran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.