Sabtu, Januari 16, 2021

Berwisata di Era New Normal

Yang Bisa Kita Teladani dari Prof. Sartono Kartodirdjo

Prof. Sartono Kartodirdjo lahir pada tengah malam 15 Februari 1921. Di sebuah puskesmas kecil di daerah Wonogiri.  Ayahnya bernama Tirtosarojo bekerja sebagai seorang Amtenaar...

Warisan Mental Didik Orde Baru

"We’re just a lie, We’re just a fake, I can’t wait ’til I’m finally dead. Erase my numbers and hope to never return again. Computerized We are all neutralized...

China dan Kalahnya Corona di Indonesia

Suasana begitu mencekam melihat ribuan korban tersambar virus mematikan. Ada rasa khawatir, resah, serta gelisah jika sewaktu-waktu virus menyerang saat kita lemah. Semua orang...

Sebutir Debu di Terompah Kanjeng Nabi

  “Alas kaki Nabi Muhammad Saw, berada di atas kepala alam semesta/Dan seluruh makhluk berada di bawah bayang-bayangnya.”  --Jawahir al-Bihar fi Fada'il al-Nabi, Syaikh Yusuf bin...
Putri Nashada
Penulis critical thinking text, novel online, & pemula (penulis muda) Instagram: @putrixnasha_

Pada saat ini kasus Covid-19 selalu naik setiap harinya. Ya, semua aktivitas atau kegiatan kita lakukan se-maximal mungkin di rumah saja. Mulai dari Sekolah, sampai kegiatan yang telah terencanakan sebelumnya mau tidak mau harus dilakukan di rumah saja.

Namun, sulitnya perekonomian Indonesia di tengah-tengah Pandemi ini membuat pemerintah kewalahan untuk menanganinya. Karena itu, pemerintah memutuskan untuk berkegiatan kembali seperti semula dengan tajuk “New-Normal”yang mana seluruh masyarakat indonesia diperbolehkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting dengan catatan harus mengikuti protokol kesehatan.

“Apa saja sih protokol kesehatan yang harus kita patuhi di era New-Normal ini?”

Well, disaat melakukan kegiatan diluar rumah masyarakat wajib menggunakan masker yang higienis dan terjaga kebersihannya dan membawa hand-sanitizer kemana pun mereka pergi serta sering mencuci tangan agar tidak membawa virus kembali ke rumah. Selain itu, masyarakat wajib menjaga jarak dengan lawan bicara atau mengurangi interaksi dengan orang-orang yang ada diluar.

Maraknya era New-Normal ini membuat sebagian masyarakat Indonesia salah tanggap dalam menjalankannya. Padahal, kalau bisa dibilang era New-Normal ini dibuka untuk meningkatkan perekonomian Indonesia setidaknya 50% saja. Maka dari itu, Pusat Pembelanjaan mulai dibuka, Kantor Umum, Bank, dll.

“Bagaimana dengan Tempat Wisata?” 

Yup, sebagian Tempat Wisata pun mulai dibuka kembali seperti Kolam Renang, Pantai, Hotel, bahkan tempat-tempat transportasi yang mendukung seperti Bandara Udara, Stasiun KRL mulai dibuka kembali sejak beberapa bulan yang lalu.

Bedasarkan info yang saya cari tahu, setiap orang yang ingin berwisata keluar kota atau daerah wajib membawa hasil rapid dan swab test yang bersignifikat “Negative” dengan tubuh yang sehat atau tidak membawa sumber penyakit/virus datang.

Banyaknya masyarakat yang pergi berwisata atau liburan di tengah-tengah New Normal ini tidak sedikit meningkatkan kasus orang yang terpapar virus Covid-19 lho.

“Tapi bukannya dengan berwisata ke tempat yang telah dibuka selama New-Normal ini akan membantu perekonomian Indonesia juga ya?”

Memang sih, akan meningkatkan setidaknya sedikit perekonomian di negara kita. Tapi coba dipikir lagi deh, ribuan tenaga medis di luar sana sudah kewalahan menangani pasien yang terpapar virus Covid-19 ini, dan orang-orang diluar sana tetap pergi berwisata dengan tetap mematuhi protokol kesehatan

Menurut saya, New-Normal ini dilakukan karena untuk meningkatkan sedikit perekonomian Indonesia dengan se-minim mungkin. Jika jumlah masyarakat yang berwisata di era New-Normal ini melampaui batas atau bisa dibilang agak berlebihan, kapan selesainya virus Covid-19 ini?

“Tapi untuk sebagian artis atau influencer, mereka memang pergi berwisata karena pekerjaan mereka yang mengharuskan berwisata atau mengunjungi suatu tempat dan tentu saja membantu keuangan tempat wisata tersebut. ”

Wah, kalau boleh jujur hal-hal seperti ini sering saya dapatkan dari media dan sedang marak menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat Indonesia. Menurut saya, menaikkan ekonomi tidak mesti dengan beramai-ramai berwisata ke tempat dengan segrombolan banyak orang. Dari padangan saya sendiri banyaknya masyarakat yang menyalah gunakan kalimat “Berwisata untuk bekerja” atau “Berwisata untuk membantu ekonomi masyarakat” kadang agak sedikit melenceng. Kenapa? Karena sampai sekarang kasus orang yang terpapar Covid-19 semakin tinggi, dan bepergian di tengah-tengah New-Normal ini sudah agak berlebihan.

Maka dari itu, untuk siapapun yang membaca opini saya ini, saya harap kalian semua berada di situasi yang sehat dan baik-baik saja. Ayo sama-sama kita hilangkan ego kita untuk menurunkan kasus Covid-19 dengan cara mengurangi aktivitas diluar rumah dan lebih menjaga kesehatan pada diri kita sendiri. Bayangkan berapa orang yang mengurangi aktivitas atau kegiatan diluar rumah akan membantu banyaknya penambahan kasus Covid-19 ini, terima kasih.

Putri Nashada
Penulis critical thinking text, novel online, & pemula (penulis muda) Instagram: @putrixnasha_
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.