Jumat, Februari 26, 2021

Bersih-Bersih Noda Pemilu

Generasi Netflix dan Politik Orang Tua

“Gue suka banget series baru di Netflix, lo harus nonton!” Ini pesan dari teman saya yang lagi suka-sukanya nonton series di Netflix. Dia kemudian cerita...

Ketika Paham Apatis menjadi konsumsi kaum Intelektual

Manusia adalah ciptaan yang paling mulia yang diberikan akal dan pikiran untuk memikirkan apa yang harus diperbuat.Aristoteles juga pernah berkata bahwa Manusia adalah “Makhluk...

Gerakan Mahasasiswa Bukanlah Gerakan Premanisme

Sejarah mencatat bahwa keberlangsungan negara ini tak luput dari peran seorang pemuda. Baik sebelum kemerdekaan atau pun sesudahnya. Seperti penggulingan orde lama hingga orde...

Mencari Stimulan Ekonomi di Beranda Negeri

Belum lama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 Bumi Flobamora yang terkontraksi sebesar 5,62...
Bahrur Rosi
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya Jakarta

Sri Soemantri M mengatakan bahwa demokrasi pancasila ditemukan dalam UUD 1945, khususnya alinea keempat, yang kemudian dipatrikan kembali dalam sila keempat Pancasila yakni, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Semangat demokrasi Pancasila yang terdapat dalam UUD 1945 tersebut kemudian diterjemahkan dalam mekanisme suksesi kepemimpinan dalam agenda 5 (lima) tahunan yang dikenal dengan pemilihan umum.

Perjalanan dari sejarah panjang bangsa ini sudah mengajarkan bagaimana pemilu harus diselenggarakan dan bagaimana demokrasi harus dibangun secara baik. Pemilu merupakan bagian penting dari prinsip negara demokrasi, jika pemilu bisa diselenggarakan dengan baik maka hal tersebut bisa menjadi pertanda untuk dikatakan sebagai negara yang demokratis.

Meminjam bahasanya Robert Dahl dimana demokrasi menekankan aspek kompetisi, Partisipasi, dan kebebasan politik dan sipil. Kompetisi juga disebut dengan kontestasi yang mensyaratkan kontestan dalam merebut kekuasaan negara.

Kontestasi yang benar adalah adanya kompetisi dalam ruang dan regulasi yang terukur dan menjamin adanya kebebasan dan adil. Begitu hal nya dengan kontestasi penyelenggaraan Pemilu 2019, yang untuk pertamakalinya akan dilaksanakan secara serentak untuk memilih Anggota DPR, DPD, dan DPRD serta memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Indonesia saat ini bisa dikatakan mengalami krisis multidimensional. Bangsa ini seakan hidup di bibir pantai, menghadap samudra krisis tidak bertepi. Gelombang datang, susul-menyusul, mendamparkan lapisan-lapisan masalah tidak berkesudahan. Ke mana pun berpaling, yang ditemukan wajah kerawanan. Politik berkembang secara teknik, tetapi mundur secara etik; demokrasi melahirkan perluasan korupsi, kebebasan informasi membawa luapan sensasi dan industri kebohongan (hoax). (yudi latif, 2018)

Noda Pemilu

Pemilu 2019 harus dilaksanakan secara sehat dan waras, pemilu tidak boleh hanya dijadikan sebagai jalan untuk meraih kuasa dengan menghalalkan segala cara. Politik uang, politisasi sara, dan hoax harus dijauhkan dari ruang publik dalam setiap ajang demokrasi, karena publik harus dicerdaskan dengan hal politik yang beradab bukan merusak demokrasi.

Esensi berdemokrasi adalah penghargaan dan penghormatan tehadap hak pilih orang lain. Bukan hanya ajang memenangkan persaingan meraih kekuasaan dengan membeli suara rakyat dengan uang, bukan ajang provokasi, menghujat, menghinakan, dan menjatuhkan sesama. Namun bagaimana memenangkan persaingan dengan cara yang elegan, santun dan bermartabat.

Pemilu yang menurut Pasal 22 E UUD 1945 harus dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, jujur, dan adil harus di tegakkan sebagai standar pemilu yang demokratis. Pemilu tidak boleh ternoda oleh politik uang, politisasi sara, hoax, narasi kebencian dan sikap saling menjatuhkan tidak boleh dipertontonkan di depan publik. Masyarakat tidak boleh diperlihatkan pada wajah demokrasi yang seram dan suram, demokrasi yang tidak sehat yang merusak persatuan dan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemilu Bersih

Austin Ranney Profesor Ilmuan Politik Amerika yang ahli tentang partai politik, telah membuat rumusan pemilu yang demokratis dengan delapan kriteria pokok, yaitu pertama, adanya hak pilih setiap warga negara secara aktif maupun pasif. Kedua, adanya keseteraan bobot suara. Ketiga, tersedianya kandidat dari latar belakang ideologis yang berbeda untuk para pemilih.

Keempat, adanya hak dan kebebasan nominasi bagi rakyat untuk mencalonkan figus-figus tertentu yang dipandang mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Kelima, ada persamaan hak kampanye. Keenam, kebebasan waga negara memberikan suara tanpa tekanan dan diskriminasi. Ketujuh, kejujuran dan keterbukaan dalam penghitungan suara. Kedelapan, Menyelenggarakan Pemilu secara periodik.

Pemilu 2019 harus dijadikan sebagai pemilu yang bersih dan demokratis menurut cara yang beradab dan beretika. Pemilu harus dibersihkan dari noda yang dapat mengotori esensinya seperti politik uang, politisasi sara, hoax, kampanye hitam dan lain sebagainya. Hal-hal yang dapat merusak meriah dan sakralnya penyelenggaraan pemilu harus disingkirkan dan dibuang jauh-jauh.

Target memperoleh kemenangan untuk meraih kekuasaan tidak boleh dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara yang tidak dapat dibenarkan. Pemilu hanya ajang pergantian kekuasaan secara konstitusional, maka cara meraihnya juga harus dilakukan secara konstitusional.

Mengutip kata-kata Presiden ke-4 RI Gusdur bahwa “tak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian”. Tenun kebhinekaan dan semangat kebangsaan harus berdiri diatas segala kepentingan apalagi hanya atas dasar kekuasaan. Tidak boleh ada kepentingan yang dapat memecah belah persatuan, semua harus bisa mempersatukan sesama anak bangsa. Karena pemilu yang baik bisa melahirkan pemimpin yang baik sesuai harapan semua golongan, pemimpin yang bisa menghadirkan perbaikan dan membawa keluar negara dari krisis multidimensional.

Pada akhirnya seluruh elemen bangsa, baik penyelenggara pemilu, peserta pemilu, dan seluruh masyarakat tanpa memandang siapa dan darimana harus berpegang teguh pada prinsip yang sama bahwa pemilu harus dilaksanakan sesuai UUD 1945, pemilu harus berwajah meneduhkan bukan menyeramkan, pemilu harus diselenggarakan secara bersih bukan dipenuhi dengan noda kepentingan, pemilu harus berjalan demokratis bukan pemilu tak beretika. 

Bahrur Rosi
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.