Sabtu, Desember 5, 2020

Berebut Perhatian Netizen

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Fenomena “Share Link” dan Masifnya Revenge Porn

“Share link dong!” menjadi kalimat yang tidak asing didengar saat ini. Beredarnya video-video mesum di media sosial yang tidak seharusnya disebarluaskan. Seolah nampak diwajarkan,...

Sengkarut Bansos dan Sengkarut Koordinasi Pejabat Publik

Problematika pandemi covid-19 tidak saja dalam dimensi kesehatan. Sebagaiman dibahas dalam Indonesia Lowyer Club (ILC), Selasa, 12/05/2020 di salah saru TV swasta; TV-One. Lebih jauh,...

Macetnya Nalar di Antara Kemacaten Jalan Menuju Bandara

Jadwal penerbangan erat kaitannya dengan sikap disiplin. Mulai dari penumpang, pilot, kru kabin, petugas bandara, hingga penjaga loket, semua diikat oleh tali yang sama,...
Tamimy
Psikolog lembaga pemasyarakatan kelas II b Tenggarong. Penulis buku Sharing Mu Personal Branding Mu

Saat ini, era digital hampir membuat kebiasaan masyarakat kita sedikit bergeser dari yang semestinya. Budaya saling sapa penuh perhatian ala bangsa indonesia yang kental pada sesama, sedikit banyak beralih pada perhatian layar yang isinya interaksi semu semata.

Tak terkecuali tua maupun muda, bahkan anak-anak pun banyak yang menjadi kecanduan beraktifitas di dalamnya. Tak sedikit pula mereka yang niatnya berkumpul bersama teman maupun sanak family menjadikan ajang pertemuan silaturrahmi, sebagai ladang adu “Pamer” gadget baru, pekerjaan mapan, hingga gebetan om yang sudah punya istri, kali aje.

Pertemuan yang seharusnya menjadi media untuk temu kangen, justru malah menjadi ajang seolah sibuk sendiri-sendiri dengan pose kepala tertunduk ke layar gadget. Tak peduli di sekitarnya memandang dengan sinis, ataupun sarkatis aksi menyelesaikan “war” dalam permainan perang adu strategi pun tetap kudu di selesaikan.

Realita tersebut menjadikan kita mulai mafhum manakala masyarakat zaman now lebih asik memegang gadget dibandingkan pacul, panci, buku, hingga, tasbih. Jika dahulu kita akan bisa melihat para anak kampung antusias berbondong-bondong sholat tarawih sebagai momentum merekatkan silaturrahmi di samping melirik kembang RT yang jarang muncul, sekarang lain lagi ceritanya.

Minimal dengan selesai sholat tarawih seseorang dapat memiliki momentum untuk mengetikan status terbaru, “Alhamdulillah bisa sholat tarawih”, “Alhamdulillah bisa tarawih bareng doi”, “Nikmatnya bisa sedekah lagi, walapun cuma sedikit (1 juta)”.

Di tengah masyarakat kita yang katanya menjadi masyarakat revolusi digital 4.0, media online khususnya media sosial memang salah satu alasan orang untuk melakukan “sesuatu”. Yah minimal dengan melakukan sesuatu ada hal yang bisa dijadikan sebagai bahan posting untuk memperlihatkan eksistensi diri, hingga menambah followers.

Aktifitas Berdoa Modern

Kita tentu memahami bahwasanya doa adalah sebuah aktifitas yang dikerjakan, diucapkan, dirapalkan, dan di harapkan untuk sebuah keinginan. Aktifitas berdoa tersebut termaktub dalam ibadah-ibadah, maupun momentum pengharapan dimana hasilnya nanti adalah apa yang diinginkan, diharapkan, dan diimpikan menjadi sebuah kenyataan.

Berdoa sendiri berdasarkan ajaran-ajaran yang di berikan oleh para pemuka agama akan selalu mengedepankan nilai-nilai keikhlasan hati, pikiran, dan perlakuan. Dengan mengedepankan keikhlasan maka seorang individu yang berdoa dididik untuk tetap sabar dan tak kenal lelah hingga apa yang ia panjatkan dapat dikabulkan.

Rumus keikhlasan tersebut adakalanya menjadi sesuatu yang kontradiksi manakala doa itu hanya menjadi penghias beranda status facebook, cuitan twitter, instastory instagram, hingga celotehan wadpad yang di share ke media sosial miliknya. Keikhlasan pada akhirnya menjadi dobel fungsi, antara sebuah sindiran dan kapitalisasi personal untuk mencari eksistensi.

Like, dan komentar yang ada muncul di status ataupun postingan menjadi pemanis untuk memperlihatkan bahwasanya ia seseorang artis yang populis di kalangan netizen maupun followers setia. Tak sedikit pula postingan dalam bentuk doa pada akhirnya dijadikan sebagai mekanisme unjuk kebolehan maupun prestasi yang dapat ia capai.

“semoga perjalanan ke paris hari ini dapat memberikan manfaat”, “bismillah otw”. Yah begitulah selentingan status yang kadangkala menghiasi beranda media sosial kita hari ini.

Cukup ketik amin maka anda akan masuk surga, cukup ketik amin maka rezeki kan mendatangi anda. Selentingan tersebut mungkin teringat di benak kita, sebuah selentingan yang pada akhirnya membuat media sosial facebook terkenal dengan fasilitas doanya.

Bahkan ada candaan yang mengatakan bahwasanya eksistensi twitter kalah dengan facebook akibat di twitter tidak ada fasilitas doa. Mungkin karena masyarakat indonesia dikenal dengan nilai religious yang kental, pada akhirnya cap-cap fasilitas peribadatan di media sosial membuatnya makin eksis dan kuat.

Mengembalikan fitrah doa

Seyogyanya berdoa adalah aktivitas yang dilakukan dengan mengharap pada yang maha kuasa. Oleh karenanya, segala aktivitas ibadah terlebih lagi doa, jika disandarkan pada manusia yang memberikan like maupun komentar tentu saja justru membuat rusaknya niatan doa kita. Jika sudah rusak niat kita, masihkah kita yakin ganjaran harapan dalam doa tersebut akan di kabulkan?

Tentu saja kita menginginkan doa yang kita panjatkan menjadi sebuah kebaikan bagi diri kita. Kebaikan akan optimisme sebuah cita-cita dan harapan yang terkandung di dalam sebuah doa. Memaknai bulan suci ramadhan kali ini ada baiknya kita sama-sama melakukan introspeksi diri, apakah selama ini doa yang kita panjatkan sudah benar atau tepat bentuk penyampaian dan niatnya.

Atau jangan-jangan doa yang selama ini kita panjatkan tidak di kabulkan, diakibatkan rasa ria yang masih bersarang di dalam niat kita. Periksa kembali niat kita untuk memposting sebuah doa, memang sih postingan doa di media sosial tidak ada masalah. Bahkan hal tersebut juga tidak membuat sesuatu kerusakan yang signifikan terhadap arah kehidupan orang lain.

Namun lebih daripada itu akan lebih baik merapalkan doa penuh harap dalam ketenangan dan kekhusyukan. Bukan di media sosial yang penuh ramai hingga para netizen yang maha benar. Atau jangan-jangan doa yang kita ucapkan hanya sebatas seremonial untuk berebut perhatian netizen.

Meyakini bahwasanya simbol keikhlasan hanya bisa dirasakan dalam hati. Sebuah ketulusan mungkin sulit terlihat di zaman yang serba butuh PAP hingga no picture seringkali dianggap hoax. Namun setiap ketulusan yang dimiliki seseorang cepat atau lambat pada akhirnya akan berdampak dan dirasakan bagi orang di sekitar. Wallahu’alambishoab.

Tamimy
Psikolog lembaga pemasyarakatan kelas II b Tenggarong. Penulis buku Sharing Mu Personal Branding Mu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Format Baru Kepemimpinan di Era Disrupsi

Baru-baru ini bangsa Indonesia diisukan dengan adanya penambahan masa jabatan kepemimpinan presiden hingga tiga periode, ataupun ada yang mengusulkan pemilihan presiden dilakukan secara demokratis...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.