OUR NETWORK

Berbahasa dengan Klakson

Bunyi mampu mewakili pesan yang penuh makna.

Ternyata, sebuah pesan tak melulu diungkapkan lewat kata-kata. Ia bisa pula diungkapkan lewat bunyi. Apakah anda pernah melihat lelaki memainkan gitar untuk menyatakan perasaan pada wanitanya? Sang lelaki mencoba menyampaikan rasa cintanya yang terwakilkan lewat petikan senar gitar tersebut.

Begitulah, bunyi ternyata adalah bahasa. Tentu, ia bukan “sekedar bahasa” jika anda memaknai bahasa sebagai rentetan kata yang keluar dari mulut. Bunyi mampu mewakili pesan yang penuh makna. Dalam berkomunikasi, tak jarang kita mewakilkan pesan yang ingin disampaikan melalui bunyi. Salah satu bentuk komunikasi lewat bunyi adalah bunyi klakson.

Secara pribadi, saya termasuk orang yang jarang membunyikan klakson. Bahkan dalam keadaan nyaris tertabrak saja, saya lebih memilih berteriak dari pada memencet klakson. Bukan karena suara saya lebih cetar membahana, tetapi saya merasa kurang efektif jika hanya sekedar memencetnya.

Rupanya, saya salah. Bunyi klakson ternyata justru sangat efektif dalam berkomunikasi di jalan raya yang ramai dan riuh itu. Makanya, ada banyak varian bunyi klakson (termasuk telolet). Semakin besar kendaraannya, semakin nyaring dan tegas bunyinya. Ya, bunyi klakson sepeda motor tidak sedahsyat truk atau bus kan? Efeknya, kita jadi lebih waspada dan berhati-hati jika berpapasan dengan kendaraan tersebut.

Dalam percakapan sehari-hari, urang Banjar di sekeliling saya melafalkan kata ini dengan beragam cara. Ada yang bilang “klakson-mengelaksoni”, ada pula yang menyebutnya “klapson-mengelapsoni”, dan yang terakhir ada yang mengatakannya “tiit-tit- mentiti-ti” (bentuk onomatope dari bunyi klakson). Nyatanya, kata yang benar dalam KBBI adalah ‘klakson’ yang berarti alat berupa terompet yang dibunyikan dengan listrik pada mobil atau motor sebagai peringatan akan keberadaan kendaraan tersebut.

Dengan tingkat kepadatan arus lalu lintas di kota ini, tentu kita sudah tak asing akan bunyi klakson. Bunyi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan, dikonsumsi hampir setiap hari. Seperti halnya di Banjarmasin dan Yogyakarta, setelah saya cermati, fungsi klakson sudah mengalami perluasan. Selain untuk menyatakan keberadaan si mobil atau motor sehingga motor lain mengalah dan memberikan jalan, klakson digunakan untuk menyampaikan pesan dan perasaan orang yang membunyikan. Bagaimana bisa?

Untuk menyatakan terima kasih

Hal ini umumnya terjadi saat ada seseorang mengarahkan sang pengendara untuk memarkir mobil dengan benar, atau saat ada orang yang memberi ‘atrit’ pada sang pengendara untuk melewati jalan sempit.

Dikarenakan sebuah bantuan harus dibalas dengan ucapan terima kasih, maka sang pengendara sudah seharusnya melakukannya. Jadi, usai proses bantu membantu yang indah itu, jika mereka malas membuka jendela mobil, mereka akan membunyikan klakson dengan durasi yang pendek dalam sekali pencetan. Bunyi klakson tipe ini sudah mampu mewakili rasa terima kasih.

Untuk bertegur sapa

Hal ini bisa terjadi di dalam komplek atau gang tempat tinggal mereka dan bisa juga di jalan besar jika mereka bertemu teman atau kolega. Untuk bertegur sapa, mereka memilih untuk membunyikan klakson dari pada membuka jendela dan berteriak memanggil. Biasanya, pencetannya lebih dari satu kali.

Bisa dua atau tiga kali bahkan lebih, sampai si pendengar peka bahwa ada seseorang yang ia kenal menyapanya. Jika sama-sama di dalam mobil, maka si pendengar pun akan membunyikan klaksonnya juga. Pertanda bahwa ia menangkap pesan tersebut dan membalas sapaannya. Klakson ternyata juga berperan untuk menjaga hubungan sosial, luar biasa bukan?

Untuk menyatakan emosi sang pengendara

Nah, bunyi klakson seperti ini sering membahana di jalan. Saya kadang heran sendiri, mengapa pengendara sering kali membunyikan klakson dengan ritme yang cepat dan berulang saat antri di lampu lalu lintas yang sudah hijau atau saat macet. Toh mereka semua ada di situasi yang sama, di mana tidak ada pilihan lain selain bersabar dan menunggu giliran untuk lewat kan?

Arkian, mereka melampiaskan kekesalan tersebut lewat bunyi klakson, karena mustahil membuka pintu mobil atau turun dari motor dan marah kepada semua orang yang ada di jalan.

Selain itu, bunyi klakson dengan ritme seperti ini juga sering digaungkan orang-orang yang demo, polisi yang mengejar penjahat, dan korban yang mengejar pencuri. Dalam situasi seperti ini, mereka berupaya menyampaikan kemarahan dan peringatan kepada yang di-klakson-i bahwa “Aku sedang mengejarmu, jadi jangan coba-coba lari!”. 

Untuk menggoda lawan jenis

Wah kalau yang ini jangan dibiasakan, ya. Umumnya, ritme klakson dengan tujuan seperti ini cenderung pendek dan berulang-ulang. Bunyi klakson jenis ini juga dapat dimaknai sebagai cat calling jika sudah berlebihan. Saya beberapa kali berhadapan dengan situasi ini. Saat itu saya menaiki motor menuju ke suatu tempat, tiba-tiba ada yang membunyikan klakson di belakang saya.

Saya menurunkan kecepatan untuk melihat siapa gerangan orang tersebut. Ternyata bukan orang yang saya kenal. Dia hanya dua pemuda iseng yang gemar melakukan hal-hal nirfaedah. Saran saya, jika ingin berkenalan, lebih baik anda langsung bicara dari pada main kode-kodean lewat klakson. Selain lebih gentle dan elegan, belum tentu, si doi menangkap maksud anda, kan?

Untuk menyatakan kekuasaan dan keadaaan darurat

Untuk poin yang satu ini umumnya terjadi pada iring-iringan mobil orang penting dan berkuasa, pejabat misalnya. Biasanya, akan ada bunyi klakson yang membahana sepanjang jalan.

Adapun untuk keadaan darurat, biasanya digaungkan oleh mobil ambulance atau pemadam kebarakan, sebab mustahil untuk berteriak di jalan agar orang-orang mengetahui keadaan darurat ini. Melalui bunyi klakson, pesan tersebut disampaikan secara sempurna dan membuat pengendara lain mafhum untuk menepi dan memberi jalan.

Inilah bukti bahwa pesan atau perasaan tak melulu harus disampaikan dengan kata-kata. Sebab, terkadang, ada situasi yang tak memungkinkan kehadiran kata. Saat ini terjadi, di situlah sarana penyampai pesan yang lain ambil alih, dan bunyi salah satunya. Uniknya, untuk kasus klakson ini, masyarakat sudah sama-sama mengerti apa maknanya.

Dalam ilmu Pragmatik, situasi seperti ini dikenal dengan istilah cooperative principle, sebagaimana yang diutarakan Grice beserta maksim-maksimnya. Cooperative Principle (Prinsip Kejasama) adalah serangkaian asumsi dan persepsi yang sama yang dimiliki seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Sederhananya, dalam berkomunikasi di jalan raya, di mana kata-kata tak selalu bisa diucapkan, para pengendara secara otomatis sudah menerapkan prinsip kerjasama ini. Mereka seakan selalu mampu menerjemahkan bunyi klakson itu sesuai dengan konteks dibunyikannya, sehingga tidak terjadi perbedaan persepsi yang berujung pada kesalahpahaman. Perbedaan persepsi akan terjadi jika salah satu diantara mereka tidak mengerti dan melanggar prinsip kerjasama ini.

Ya, hidup memang indah jika senantiasa bekerjasama, apalagi dalam berbahasa. Berbahasa dengan klakson memang nampak janggal, tetapi ia menjadi sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan saat berkendara di jalan. Selain menunjukkan keberadaan motor lain, ia juga berfungsi sebagai penjaga hubungan sosial dan media berinteraksi.

Husnul Athiya merupakan alumni UIN Antasari Banjarmasin. Gadis kelahiran 21 Oktober 1994 ini sekarang sedang melanjutkan study pascasarjana di UGM jurusan Ilmu Linguistik. Gemar menulis essay dalam berbagai topik. Pecinta hujan dan aroma buku baru, Bisa ditemui di instagram @yaya_athiya

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…