Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Berantas Terorisme Hingga Ke Akarnya

Menyikapi Kasus Penganiayaan Guru oleh Murid di Sampang

Dunia pendidikan digemparkan lagi dengan berita tindakan criminal. Seorang guru kesenian di SMA Negeri 1 Torjun, bernama Ahmad Budi Cahyono, meninggal dunia setelah koma...

Untuk Kiri Merah Jambu dan Kiri Merah Maroon

Hiruk pikuk pemilu legislatif dan presiden 2019, ternyata juga menyentuh sebagian orang yang katanya dulu pernah kiri atau mengaku kiri, karena pernah baca buku-bukunya...

Peran Cheng Ho

Pelayaran Cheng Ho atau disebut juga Zheng He pada 1403-1433 M menunjukkan peradaban China telah maju dan memiliki pandangan ke depan dalam konstelasi global...

Atribut Kesalehan yang Salah Tempat

Seberapa nyaman atribut dan pemampilan yang kita pakai? Nyaman bagi kita yang memelihara dan memakai haruslah nyaman pula bagi mereka yang melihat atau memandang. Kalau...
mudzakki Mabrur
Mahasiswa asal Banjarnegara, aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Web : wacanbuku.com

Aksi teror seolah menjadi hal yang akrab bagi masyarakat, terlebih Indonesia sebagai bangsa yang heterogen. Tentu singgungan hal-hal yang berbau SARA sangat sensitif dan dapat memantik api emosional yang berlebih. Apalagi jika sampai mengorientasikan aksi tersebut pada fatwa suci agama. Tentu kita sepakat, tidak ada satu agamapun yang membolehkan umatnya berbuat aksi teror kepada siapapun. Logisnya, segala bentuk teror sudah pasti melanggar norma agama.

Kejahatan kemanusiaan yang tidak humanis seperti terorisme memang harus diberantas di bumi pertiwi yang plural ini. Karena jika terus terjadi dan mengakibatkan ketakutan terhadap yang menyaksikan fenomena tersebut maka rasa takut akan terus menghantui warga negara. Pemerintah seharunya mampu untuk melindungi warga negaranya agar ketimpangan tersebut tak terus berulangkali terjadi.

Ingatlah bahwa terorisme atas nama jihad di jalan agama dan Tuhan merupakan tindakan dan gambaran kedangakalan nalar pikir para pelaku teror yang tidak berperikemanusiaan. Olehnya itu, stop aksi teror atas nama apapun dan mulailah memperhalus perasaan dan membuka pikiran yang memanusiakan.

Aksi teror beruntun yang menghiasi di berbagai media, baik media cetak, media elekltronik ataupun media sosial secara pasti mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang bagi siapapun yang menjadi konsumen berita tersebut. Tidak terkecuali peserta didik yang notabenenya merupakan pengguna media sosial aktif yang setiap saat dapat mengakses sumber berita ter-update.

Eksistensi kelompok teroris sejatinya tidak lepas dari regenerasi yang terus dilakukan dengan merekrut anggota-anggota baru yang disiapkan menjadi martir. Mereka merekrut anggota dengan berbagai cara. Mulai dari pertemuan-pertemuan tertutup hingga propaganda melalui dunia maya.

Akhir-akhir ini, isu tentang terorisme dan radikalisme di Indonesia masih menjadi isu yang sangat berbahaya dan terus-menerus terjadi. Isu itu seperti rayap yang menggerogoti kayu, seperti penyakit kronis yang mengancam pertahanan negara. Ironisnya, setiap kejadian teror, beberapa oknum membawa nama agama sebagai cuci tangan perbuatan keji mereka.

Tidak ada ajaran kekerasan dalam Islam, tidak ada paksaan dalam Islam, dan Islam tidak mengajarkan kebiadaban, terorisme, apalagi nge-bom orang tak bersalah. Intinya, jihad itu bukan terorisme. Atau terorisme itu bukan jihad.

Islam tidak mengenal kata teroris, semua itu hanya sebuah rekayasa yang bertujuan untuk mempecah belah agama Allah yakni agama Islam yang cinta akan kedamaian, tidak mengenal kekerasan atau tindakan biadab seperti yang mereka lakukan.

Di era globalisasi seperti sekarang, terorisme bukan hanya di lakukan dalam bentuk pengeboman ataupun pembajakan alat transportasi massal. Melainkan dengan cara doktrinasi, dimana sarsarannya sebagian besar berasal dari kalangan pelajar terutama mahasiswa yang secara psikologis masih bisa di goyahkan pendiriannya.

Mengalahkan kelompok teroris tidak selalu mengakhiri terorisme karena kemampuan operasional kelompok berbeda dari kekuatan dan ideologisnya. Dengan demikian, bukannya mati, ada kemungkinan bahwa ancaman teroris bisa berubah dan tumbuh lebih kompleks.

Terorisme merupakan suatu tindakan pidana atau kejahatan luar biasa yang menjadi perhatian dunia, terutama Indonesia. Terorisme yang terjadi akhir-akhir ini memiliki keterkaitan ideologis, sejarah dan politik serta merupakan bagian dari dinamika lingkungan strategis pada tataran global dan regional.

Kehidupan aksi terorisme yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa tahun terakhir ini kebanyakan dilakukan oleh orang Indonesia dan hanya sedikit aktor-aktor dari luar. Berbagai aksi teror tersebut jelas telah melecehkan nilai kemanusiaan martabat bangsa, dan norma-norma agama.

Salah satu instrumen penting dalam upaya penanggulangan terorisme adalah database terkait daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme sebagai akar masalah. Perolehan database tersebut harus dilakukan dengan baik agar penanggulangan terorisme maksimal dilakukan.

Berbagai usaha yang dilakukan bahkan setelah terjadi Bom Bali 1 pemerintahan RI membentuk suatu ketentuan undang-undang yang dinamakan “Undang-undang Republik Indonesia Nomor.15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang nomor.1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme menjadi undang-undang”.

Terlebih Pemerintahan RI membentuk suatu kesatuan khusus yang dinamakan Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia.

Tragedi ledakan bom belum lama ini menunjukan bahwa aksi terorisme harus terus diwaspadai, dimana bentuk gerakan dan perkembangan jaringannya terus berubah sehingga sukar untuk dilacak. Sulitnya penyelesaian permasalahan terorisme ini terjadi karena masih banyak faktor yang menyebabkan terorisme dapat terus berkembang. Dari faktor perbedaan ideologis dan pemahaman tentang agama yang berbeda-beda sampai kesenjangan sosial dan pendidikan yang membuat masyarakat lebih mudah untuk disusupi oleh jaringan-jaringan teroris.

Pada hakekatnya teroris punya keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan itu benar. Mereka mengatas-namakan agama sebagai kedok kejahatan mereka. Padahal jika kita cermati, hal demikianlah yang bisa mengadu domba satu agama dengan agama yang lain, yang tentunya juga akan merusak citra islam yang indah dan damai. Tentu hal demikian bukan hanya menjadi musuh bangsa, tetapi menjadi musuh kita semua sebagai kaum muslim.

Pola Terorisme terus berubah dan berkembang. Sedangkan pada permukaan intinya tetap merencanakan suatu tindakan dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang melanggar hukum untuk menanamkan rasa takut. Ini sangat efektif digunakan sebagai alat strategis dalam menghadapi lawan yang dihadapinya.

mudzakki Mabrur
Mahasiswa asal Banjarnegara, aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Web : wacanbuku.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.