Minggu, November 29, 2020

Bencana yang Mengerikan

Mengubur Politik Kebencian

Peristiwa teror di dua masjid Christchurch kembali menghentak publik. Lebih-lebih, peristiwa itu disinyalir dilatarbelakangi persoalan isu rasial. Supremasi identitas yang menyelinap menjadi sebab tindakan...

Sisi Kelam Aladdin dan Agrabah

Aladdin adalah seorang karakter utama dari kisah fiksi yang merupakan adaptasi karya sastra Arab Abad Pertengahan Seribu Satu Malam denga judul yang sama. Aladdin...

Akal Sehat Versus Siasat Jahat

Ini tentang sebuah sikap yang perlu diuji dengan mekanisme nalar publik. Kehidupan politik kita hari-hari kini kian dikotomis. Problemnya, perbedaan-perbedaan itu bukan lagi dalam...

Inisiasi Nasionalisme dalam MPLS Peserta Didik Baru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menyita perhatian publik, melalui rencana menggandeng Tentara Nsional Indonesia (TNI) dalam pembinaan pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Digandengnya...
Hasibuddin -
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

2018 menjadi tahun yang kelam bagi Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 25 Oktober 2018 ada 1.999  bencana yang telah terjadi baik skala kecil maupun yang berskala besar.

Banjir di Lampug, kemudian Longsor di Brebes, ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Sinabung,  bahkan Gempa-Tsunami di Palu hingga Tsunami di Anyar Banten turut menghanyutkan Indonesia pada penghujung tahun 2018 ini. Banyak rumah yang terseret arus banjir, rumah yang tertimbun tanah akibat longsor, rumah yang dihujani krikil akibat letusan gunung, rumah roboh akibat gempa dan tsunami, bahkan ribuan orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Bencana-bencana di atas adalah bencana yang hanya berdomain di daerah-daerah tertentu dan tidak berimplikasi secara umum atau menghanguskan seluruh negeri. Namun, ada bencana yang lebih mengerikan yang bersifat luas. Bencana yang dimaksud adalah bencana yang bisa merobohkan dan meruntuhkan Negara Kesatuan Rupublik Indonesia (NKRI).

Banyak kasus yang telah terjadi untuk merobohkan NKRI yang berdiri dengan kokoh ini. Hoax, ujaran kebencian, segregasi dimana-mana, bahkan yang lebih berbahaya lagi munculnya sekelompok yang bersikeras ingin mengubah ideologi negara menjadi haluan yang berperangai pada satu golongan saja.

Pesta demokrasi sebentar lagi akan digelar. 17 April 2019 dirasa tinggal sejengkal oleh stakeholder untuk memenangkan pertarungan. Sehingga mereka pun mencari cara agar dirinya-lah yang dapat dipercaya oleh masyarakat untuk mengisi kursi pemerintahan.

Bervariasi cara mereka lakukan untuk merebut hati masyarat, mulai dari cara halus hingga cara-cara yang tak lazim pun mereka kerjakan. Jokowi misalnya, ia berpolitik secara halus. Dengan cara terus menerus kerja, kerja dan kerja, sehingga masyarakat pun menaruh hati kembali padanya.

Namun, masih ada cara licik yang dilakukan oleh mereka yang ingin merebut hati masyarakat. Salah satunya Ratna Sarumpaet, ia menjadi pelaku hoax yang kejam. Ia telah membohongi seantero negeri demi kepentingan kelompoknya.

Selain itu, ujaran kebencian masih menyelimuti negeri ini. Bahar Bin Smith salah satunya, tak puas dengan menganiaya beberapa anak yang juga termasuk santri, kemudian ia beralih pada pemerintah, di mana Presiden Jokowi ia katakan ‘banci’. Untungnya, presiden RI ke-7 itu tetap sabar menghadapi ujaran yang tak beradab itu.

Selanjutnya, hegemoni segregasi bertumpu dimana-mana. Kelompok satu dengan kelompok lain saling berpisah, bercerai-belai. Mereka merasa kelompoknya-lah yang paling benar, sehingga permusuhan dan perpecahan dengan mudah menghantui mereka sekaligus tidak dapat dihindarkan.

Kasus yang lebih menakutkan lagi ialah munculnya suatu golongan yang bersikeras ingin mengubah ideologi Pancasila. Hizbut Tahri Indonesia (HTI) pernah bermukim di negeri ini. Ia merupakan kelompok yang ingin membentuk negara Islam, kemudian ia juga akan menyatukan negara ini bersama negera Islam lainnya. Sungguh tak bisa dibayangkan jika semua itu terjadi. Namun, pemerintah telah berhasil mengusir paham mereka dari tanah pluralis ini.

Kasus-kasus tersebut sudah pantas dikonversi menjadi bencana besar yang dapat mencederai bahkan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Jika hal tersebut terus mengalir dengan deras,  tidak dapat dipungkiri negara ini akan roboh.

Pemerintah sebagai Decision Maker  sebenarnya telah berusaha untuk memecahkan dan menanggulangi bencana yang mengerikan tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan,  baik secara persuasif maupun koersif. Formula Persuasif berupa mendukung masyarakat yang mendirikan organisasi anti _hoax_, radikal dan semcamnya. Sedangkan koersif dilakukan dengan cara mengusir paham-paham yang tidak berseberangan dengan ideologi bangsa, menghapus web atau akun yang dianggap pemicu konflik dan seterusnya.

Pemerintah tidak bisa melakukan upaya-upaya penanggulan tersebut hanya dengan sendirinya. Ia membutuhkan kerja sama dan sama-sama kerja dari masyarakat untuk memecahkan persoalan dan menanggulangi terjadinya bencana .

Kedua struktur-elemen tersebut tidak dapat dipisahkan. Pemerintah mempunyai kewajiban untuk membangun, memperbaiki dan merawat NKRI. Sedangkan masyarakat sudah semestinya mendukung segala kebijakan dan tidak merusak bangunan yang telah kokoh. Sehingga tidak ada bencana yang mengerikan yakni robohnya NKRI.

Hasibuddin -
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.