Senin, April 12, 2021

Bencana dan Semesta Akal Sehat

Covid-19: Mudik Versus Pulang Kampung

Virus Corona, COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat...

Dinamika Korupsi Para Elite

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kasus korupsi berjamaah yang dilakukan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang, kasus tersebut berawal dari penangkapan...

Motif Dagang Senjata Korea Utara

Uji coba nuklir keenam yang dilakukan Korea Utara telah meningkatkan kekhawatiran dan ketegangan akan kemungkinan pecahnya perang di Semenanjung Korea. Globaltimes mengestimasi, untuk menembakkan...

BTS dalam Sampul Majalah TIME dan “NGL” versi Kita

Ketika tulisan ini dibuat, sudah terhitung 4 hari sebelum Majalah TIME edisi sampul BangtanBoys (BTS) akan dijual secara resmi di seluruh dunia. Jumlah eksemplarnya...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Mungkin tidak ada kata lain untuk melukiskan berbagai tragedi bencana alam yang kita alami selain tiga kata ini, berita, cerita dan derita. Walaupun berbeda sedikit abjad huruf paling depan yang memulai ketiga kata ini (b, c dan d), ketiganya pada akhirnya melukiskan bagaimana bencana melahirkan tiga hal yang berurutan tersebut.

Palu, tanggal 28 September 2018. Jumat saat magrib menjelang, semua orang mulai menapaki malam dengan aktivitas ibadah, dan sebagianya mulai bercengkerama dengan keluarga. Tapi tiada yang menyangka, gempa datang berkali-kali dan disusul air laut menggulung apapun yang ada di depannya, tak peduli rumah megah, manusia miskin atau kaya, lelaki, perempuan atau anak-anak.

Beberapa menit kemudian, teluk Palu mayat-mayat bergelimpangan, dan sampai sore ini (29/9) jiwa manusia di minta kembali Sang Pencipta. Berbagai kisah bencana terus menghampiri bangsa kita, gempa besar bertubi-tubi terjadi di Lombok dan Sumbawa. Terlalu banyak jiwa, harta benda musnah, ya begitulah negeri kita memang terletak jalur gempa yang sangat rawan bencana.

Apa yang ‘sebenarnya’ sedang terjadi? Semua tiba-tiba berfikir. Bencana begitu beruntun, mulai gempa, tsunami, likuifaksi, erupsi gunung berapi yang dialami oleh negeri ini menimbulkan berbagai tanda tanya. Banyak orang berusaha menjelaskannya, berdasarkan posisinya, pengetahuannya, kepentingannya, dan tentu cara pandang-nya terhadap dunia.

Semua manusia, mulai dari tukang becak, petani, kiyai (atau paranormal), santri, ahli geologi, oceanologi berusaha mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Dan memang semua orang, berhak menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bukan hanya ahli geologi, kiyai, paranormal yang memiliki ‘kewenangan’, tetapi kitapun sah menjelaskan kejadian ini, dan kalau mungkin menangkalnya…

Ahhli geologi menjelaskan batu dalam bumi (patahan euro-asia) sedang bergerak aktif. Yang akhirnya menimbulkan benturan antar patahan, yang mengakibatkan gempa, serta air laut muncrat ke daratan secara tak terduga.

Akhirnya terjadi Tsunami. Ahli lingkungan berkata: ozon di lapisan atmosfir mulai menipis, dan terbentuk lapisan rumah kaca, akibat berlebihnya konsumsi bahan bakar karbon (kulkas, pabrik kendaraan bermotor), hutan yang digunduli, paru-paru bumi hancur dan berbagai penyebabnya.

Akhirnya meningkatlah pemanasan bumi, musim tidak bisa lagi di prediksi. Hujan deras tiba tiba terjadi, angin puting beliung menerjang tanpa kenal ampun, banjir, longsor, menerjang semuanya, badai tropis dan sejenisnya. Para ulama, sembari menyitir Alqur’an menjelaskan: “…bila sebuah negeri yang sebagian orangnya kufur terhadap nikmat Allah (dengan korupsi dan sejenisnya) maka nantikanlah bencana akan meimpa. Bukan hanya untuk orang yang berbuat dosa, tetapi, semua manusia sebuah negeri akan merasakannya…”

Dan, tentu di banyak kalangan orang kecil (macam kita), dari peloso-pelosok kampung, petani dan buruh kecil, kemudian menerka-nerka, bahkan sampai membuat penjelasan lain, yang barangkali akan mendapatkan tuduhan irrasional dan bermuatan klenik. Dari mulut ke mulut sekarang ini tersiar ‘kabar-burung’, bisa jadi hoax,  bisa jadi juga sekedar ekpsresi ketika akal sehat terbentur kenyataan .Bahkan di berkali-kali obrolan di warung kopi jauh di tengah pedesaan negeri ini tersiar kabar: “mitos gempa dan tsunami, di laut selatan terkait dengan murkanya Ratu sang Penguasa Samudera Hindia”

Kini kita terkaget-kaget, dan melupakan bahwa jika kita melihat ke belakang hamparan kepulauan nusantara terbentuk dari bencana-bencana dahsyat. Letusan Supervolcano Toba dan Tambora, naiknya permukaan air laut yang menenggelamkan banyak peradaban. Meskipun para cerdik cendikia sendiri selalu mengingatkan agar hal ini tidak dikaitkan dengan ‘hal – hal yang irrasional’, keterkejutan dan trauma akan mengantar banyak orang ke dua serba muram dan berduka, dan mencoba mencari jalan keluar dari duka itu.

Tanpa harus berdebat ‘mana yang lebih benar’ berbagai versi ini, baik versi ‘rakyat kebanyakan’ yang menurut sebagian cerdik cendikia sebagai irrasional. Atau pandangan Badan yang mengurusi bencana sebagai gejala alam biasa. Namun setidaknya ada beberapa penjelasan

Mengapa ‘orang kebanyakan’ berusaha menjelaskan bencana ini dengan soal Nyi Rara Kidul, Batara Kala, atau mitos-mitos lain, di hubungkan dengan kekuasaan politik di negeri ini? Apakah karena orang jawa menyakini, alam semesta (kosmos) ini sebagai harmoni -antara alam nyata dan ‘alam ghaib’, jika di ganggu harmoni itu akan rusaklah dunia? Ataukah begini cara orang kebanyakan ‘mengkritik dan menertawakan perilaku kita semua” yang terus-menerus mengumbar angkara murka, menebarkan kebohongan dan provokasi.

Terlepas dari semua perdebatan ini, bencana adalah bencana. Dimana semua orang menderita, kehilangan harta benda dan jiwa raga. Dalam situasi seperti ini alangkah bijaknya jika kita melihat bencana sebagai saat tempat membantu penderitaan sesama, tanpa memandang atribut yang melekat dalam dirinya. Agama, suku, ras atau pun kelompok politiknya.

Dan yang pasti bencana tidak lain adalah kegagalan manusia dalam berdialog dengan harmoni semesta, dimana Tuhan telah menciptakan hukum-hukum alam, yang apabila manusia dengan keserakahan nya menerjang hukum-hukum itu, maka kehancuran alam dan seisinya teramat dekat. “Telah tampak kerusakan di langit dan di bumi akibat ulah tangan manusia…” 

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.