Sabtu, Maret 6, 2021

Bencana dan Kedermawanan, Dari Celengan Masjid ke Filantropi

Hariman, Mahasiswa, UU Cipta Kerja, Ada Apa?

Masih dalam suasana demonstrasi mahasiswa yang menolak UU Cipta Kerja. Sebelum Subuh tadi, saya melihat masih ada demonstrasi yang akan dilakukan pada hari ini,...

Dibalik Netralitas Mahfud MD

Negarawan merupakan sebutan yang pantas bagi siapa-siapa yang memberi sumbangsih besar bagi negaranya, ahli dalam kenegaraan, dan atau berkontribusi dalam dinamika pembangunan negara dari...

Gunung Kendeng dan Merawat Perlawanan

Siang menjelang sore, ditengah hiruk pikuk Hari Raya Idul Fitri yang belum usai dengan segala kegembiraan aktivitas konsumtif yang menjadi tren dan laku sosial....

Muhammad Sang Pembebas

Islam adalah agama penyempurnaan. Islam lahir dari zaman nabi Adam. Pada masa Muhammad lah ajaran Islam itu disempurnakan dan telah membahas segala hal mengenai...
suryani amin
sosiolog, penulis paruh waktu

Saat getaran  beruntun mengguncang Lombok dan sekitarnya, perhatian dan simpati terus membanjiri. Sebab kita punya ingatan kolektif tentang gempa maha besar di Aceh dan beberapa bencana serupa dalam magnitude yang  lebih kecil. Melihat banyaknya korban, tidak ada yang tak  tersentuh hatinya.

Gempa lombok sejauh ini menyebabkan 560 orang korban jiwa dan lebih  80 ribu  rumah rusak. Belum  lagi ratusan ribu penduduk dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya untuk sementara waktu (BNPB, Agustus 2018). Demikianlah risiko tinggal di kawasan rawan bencana.

Apalagi jenis bencana seperti gempa bumi, memiliki karakteristiknya yang khas, bisa terjadi cepat tanpa bisa diprediksi waktu terjadinya. Sebagian  kawasan seperti Lombok memang merupakan kawasan seismik aktif.

Paska gempa Lombok, upaya turut menolong diatas dasar rasa welas asih marak. Bantuan dalam berbagai bentuknya segera dimobilisasi. Inisiator bantuan tidak saja lembaga namun juga individu.

Dari jasa tenaga sukarela masa tanggap darurat, bantuan medis, makanan, pangan, infrastruktura  hingga dukungan psiko-sosial  bagi korban. Jenis terakhir umumnya ditujukan bagi anak-anak dan korban yang mengalami trauma, apalagi terpaksa menjauh sementara dari tempat tinggal.

Banyak sekali simpul-simpul   yang disiapkan untuk mejadi saluran bagi bantuan kemanusian tersebut. Jenis  yang paling populer dan lazim misalnya  adalah mobilisasi pendanaan bersumber dari publik. Dari sini menarik  menelisik bagaimana  pengorganisasian respon kemanusiaan, sikap dan persepsi kelompok  penyumbang mengalami pergeseran.

Secara etimologi filantropi  berasal dari bahasa Yunani. Secara harfiah berarti “kasih pada manusia”. Filantropi  purba kemudian berkembang dan meluas maknanya menjadi gagasan  dan tindakan yang diekspresikan dalam bentuk donasi dan dukungan lain untuk tujuan membantu manusia.

Di Indonesia, filantropi seakan menemukan momentumnya dengan frekuensi  bencana yang kerap terjadi dengan skala dampaknya yang luas. Tidak hanya itu, berbagai insiden kemanusiaan diluar kejadian bencana juga banyak terjadi.

Dahulu, saluran-saluran filantropi tidak banyak tersedia. Donasi umumnya  dikumpulkan dan disampaikan melalui media-media filantropi konvensional. Saluran yang populer,  terbatas pada   kelompok pengelola bantuan berbasis keagamaan.

Didalamnya termasuk pengelola zakat, celengan masjid, kotak sumbangan dan kolekte yang dipungsut melalui  gereja. Masyarakat memercayakan donasinya kepada kelompok tersebut  tanpa  ekspektasi  atas akuntabilitas pengelolaannya. Kita percaya dan merasa cukup. Setidaknya tuntunan kewajiban beragama penganutnya sudah dipenuhi.  Begitulah sistem filantropi lama bekerja.

Seiring  waktu, pilihan-pilihan sasara  filantropi semakin terbuka. Perkembangan teknologi memungkinkan  kita mengakses informasi lebih banyak. Bahkan jika hendak menyasar target khusus penerima donasi, sangat bisa dilakukan.

Sikap kritis pemberi bantuan mulai muncul. Berangkat dari kenginan  untuk mengoptimalkan pemanfaatan donasi, para pendonor hadirnya sistem manajemen filantropi yang  terlembaga dan lebih tertata.

Tuntutan kaum filantropis tersebut direspon dengan kelahiran  lembaga-lembaga  yang didirikan khusus untuk menjadi saluran filantropi, dengan pendekatan yang lebih modern. Lembaga tersebut  umumnya berbadan hukum dan dikelola secara profesional oleh sejumlah  anggota tim yang bahkan bekerja purna waktu.

Dalam sistem baru ini, para  filantropis diberi akses yang lebih terbuka dan transparan untuk tahu pengelolaan donasi yang diberikan. Rekaman pencataan  rapi dan menunjukkan  sampai  penerima donasi.

Selain  soal transparansi, soal ketimpangan juga menjadi isu  umum dinegeri ini. Keberadaan lembaga-lembaga filantropis baru tersebut  diharapkan membantu pemerataan distribusi bantuan kemanusiaan untuk sampai kepada yang berhak. Hingga menjangkau lokasi-lokasi  secara geografis sulit diakses.

Selain itu, lembaga  semacam ini unggul secara dari sisi kemampuan pengelola,  metodologi dan perangkat.  Standar operasi  sudah disusun dengan instrumen yang lengkap sejak masa penjajakan, perencanaan, dan distribusi. Selain itu, platform mobilisasi bantuan kemanusaan juga memanfaatkan teknologi digital. Setiap orang, dimananapun bisa menyalurkan dan mengakses informasi  lebih terbuka. Cara-cara demikian yang ditempuh semakin menyuburkan gerakan filantropis.

Sebelumnya, kita tidak pernah membayangkan bahwa donasi dalam bentuk hewan kurban penduduk Jakarta bisa diiterima oleh saudara kita di Papua atau dilokasi bencana yang secara fisik   terentang jarak yang jauh. Dengan sistem filantropi saat ini, semua menjadi mungkin. Dalam contoh lain, kita tidak pernah berpikir bahwa kita bisa  memilih  donasi untuk kelompok khusus yang kita inginkan. Seperti difabel atau anak-anak  dengan derita sakit yang tak lazim atau berkebutuhan khusus.

Lebih jauh, saat ini gerakan  filantropi di Indonesia bergerak maju secara positif  dengan visi jauh melampaui kebutuhan respon kemanusian jangka pendek.  Filantropi  telah menjadi gerakan sosial.  Beberapa  kelompok  bahkan   memiiliki idealisme untuk  mengambil  peran  dalam perwujudan keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan denga modalitas kaum dermawan.

Pergeseran ini positif  sebab memakmurkan perilaku filantropis warga negara. Selain itu memberi pilihan-pilihan yang lebih banyak  untuk memilih  saluran yang dikehendaki. Pada akhirnya, lembaga filantropi dipaksa berpacu , berkompetisi menjadi lebih  kredibel demi merebut kepercayaan publik. Dari celengan masjid, filantropis bergerak jauh mengikuti zamannya.

suryani amin
sosiolog, penulis paruh waktu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.