Rabu, Maret 3, 2021

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Melawan Caleg Eks Napi Rasuah

Pepatah atau seloko adat sebagai salah satu nilai yang hidup didalam keragaman masyarakat Indonesia yang beradab adalah sebuah petuah yang perlu dimaknai isinya, pepatah/ungkapan...

Manusia Silver: Pengemis Era Milenial?

Baru-baru ini terjadi kehebohan oleh adanya manusia perak. Yaitu seseorang yang membaluri tubuhnya dengan warna perak (silver). Kemudian orang tersebut bergaya layaknya patung di...

PSI dan Ilusi Popularitas Dunia Maya

Tanggal 2 November lalu, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) merilis hasil survei berjudul “Ada Apa dengan Milenial? Orientasi Sosial, Ekonomi dan Politik”....

Jokowi dan Matinya Profesionalisme TNI

Sama seperti seorang penjahit, seorang dokter juga dilengkapi dengan kemampuan untuk menyulam sebuah benang dan membuat jahitan untuk menutup luka terbuka. Tetapi, apakah bijak...
fadhel fikri
Penulis Aktif disitus PikiranKita. Ini Karya Pertama saya: Nikotin Agama.

PikiranKita

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati lingkungan keliru memahami cara berpikir ini sebagai sesuatu yang sudah final dengan sendirinya. Oleh karena itu kesimpulan yang sering muncul hanyalah tentang hidup harmonis dengan alam demi keberlangsungan kehidupan di muka bumi.

Vandana Shiva adalah salah satu aktivis yang menyimpulkan secara tidak akurat tentang bagaimana kelangsungan hidup hanya dapat dicapai dengan hidup sesuai aturan biosfer; berbagi dan peduli (Bauman et.al., 2017: 39). Siwa tampaknya berasumsi bahwa sistem ini akan selalu berkelanjutan dan menolak setiap perubahan yang mungkin terjadi tanpa campur tangan manusia.

Pernyataan seperti itu memang tidak sepenuhnya salah, tetapi bisa dibantah begitu saja dengan pengandaian: bagaimana jika suatu saat benda antariksa dengan ukuran lebih dari setengah bumi perlahan-lahan mendekati Bumi, bisa hidup sesuai dengan aturan jaminan biosfer manusia bertahan? Sangat tidak mungkin.

Inilah poin saya yang tidak sejalan dengan pandangan konservatif dalam lingkungan hidup. Gerakan back to nature yang dikampanyekan melalui cara religi hanyalah romantisme kuno yang tidak menjamin apapun tentang kelangsungan hidup di muka bumi. Hal serupa pernah saya uraikan dalam tulisan saya menganai Ekofeminis. Jadi, dalam tulisan kali ini saya akan mempertanyakan kerangka berpikir yang digunakan oleh aktivis lingkungan dan ekofeminist; dapatkah advokasi tentang lingkungan dibenarkan melalui paradigma holistik dalam ekologi? Di manakah sebenarnya jangkar etis dari environmentisme, apakah itu manusia atau bumi?

Apakah mungkin untuk mendukung lingkungan hidup dalam ‘paradigma holistik’?

Mengadvokasi untuk menyadari sesuatu selalu mengandaikan kerangka kerja yang dapat mendukung perubahan. Artinya, kampanye lingkungan hidup tidak mungkin dibangun di atas fondasi akhir. Oleh karena itu, para ekofeminist kemudian memilih untuk berpijak pada pemikiran konstruktivisme sosial sehingga mereka dapat membantah pemikiran bahwa kita harus mengubah konstruksi untuk keluar dari krisis ekologi.

Cara berpikir seperti ini memang secara filosofis bermasalah. Jika Merchant dan ecofeminist sebagaimana dijelaskan oleh Bauman (2017: 42) berkeras bahwa alam adalah konstruksi sosial, dalam nature and nurture debat, berarti harus menolak seluruh konsepsi konstruksi fisik dan biologis. Sedangkan penolakan tersebut bertentangan dengan paradigma interkoneksi (holistik) yang diemban oleh ekologi itu sendiri.

Ekologi, sebagaimana dikatakan Bauman, adalah upaya observasi yang melihat segala sesuatu saling berhubungan. “Tidak ada organisme di bumi,” kata Bauman, “itu bukan bagian dari jaringan koneksi dan hubungan; … Tidak ada yang terpisah, tidak ada yang sendirian (Bauman et.al., 2017: 38). ” Dalam kerangka seperti itu, konstruksi sosial tidak pernah lepas dari konstruksi alam. Padahal, jika kita dapat menyatakan bahwa alam memainkan peran penting dalam bagaimana konsep agama direkonstruksi (Bauman et.al., 2017: 2), maka itu berarti ia juga harus berperan dalam konstruksi sosial.

Jadi, kita bisa mempertanyakan kembali apakah alam memang hanya merupakan konstruksi sosial? Dalam paradigma holistik, jawabannya jelas harus ‘tidak’. Sebuah konstruksi tidak pernah mungkin dilakukan di ruang kosong, ia mengandaikan kondisi lain yang mungkin merupakan alam itu sendiri.

Tawaran filosofis: bagaimana seharusnya kita memandang krisis ekologi?

Saya akan mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara pandang lingkungan terhadap krisis ekologi. Di satu sisi, mereka melihat bahwa alam semesta, dalam istilah Capra, adalah ‘jaringan kehidupan’ yang mengandaikan keterkaitan satu sama lain. Di sisi lain, wacana ekologi selalu mengarah pada persoalan bagaimana manusia berperan besar dalam perubahan iklim. Artinya kita masih terjebak dalam kerangka antroposentris yang memandang manusia sebagai jangkar realitas; manusia adalah subjek aktif yang memiliki peran besar dalam kelangsungan hidup bumi.

Satu pertanyaan penting yang tampaknya hampir terlupa adalah apa penyebab aktivitas manusia dalam perannya dalam krisis ekologi? Apakah alam sama sekali tidak berperan dalam pola tindakan manusia dalam memperlakukan alam? Jika jawabannya ‘tidak’, maka konsep interkoneksi sudah salah sejak awal. Dengan cara berpikir seperti ini, manusia dianggap sebagai agen bebas yang terputus dari rantai kausalitas dunia material. Manusia selalu ditempatkan sebagai sebab, bukan akibat.

Menurut saya, jika sejalan dengan paradigma holistik, kita harus melihat bahwa segala sesuatu mulai dari pola-pola destruktif tindakan manusia, krisis ekologi, hingga pergerakan lingkungan, merupakan sebuah rantai kausalitas yang entah bagaimana terhubung satu sama lain. Kita tidak membutuhkan konsep konstruktivisme sosial untuk mengajak masyarakat peduli lingkungan.

Pada waktunya, alam akan memaksa manusia untuk beradaptasi dengan cara yang benar-benar baru   hal ini mulai dibuktikan dengan penemuan ilmiah yang dapat mengubah CO2 menjadi O2 dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan Caltech Reactor. Bukankah teori evolusi mengajarkan bahwa alam memaksa kita untuk berubah dari waktu ke waktu, atau apakah kita hanya takut gagal melanjutkan ke tahap evolusi berikutnya?

fadhel fikri
Penulis Aktif disitus PikiranKita. Ini Karya Pertama saya: Nikotin Agama.

PikiranKita

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.