OUR NETWORK

Bencana Alam dan Sesat Pikir Zaman Now

‘Mata air’ dan ’air mata’,  frasa ini tersusun dari dua kata ‘mata’ dan ‘air’. Namun bila susunan kata ini di bolak-balik maknanya akan sangat lain. Mata air, adalah bagian penting dalam hidup manusia, karena disanalah muncul air yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia di bumi. Bahkan air adalah unsur yang tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan manusia namun kadangkala menjadi bencana tiada tara. Dan ’air mata’ punya makna lain, air mata adalah simbol kesedihan, keputus asaan disatu sisi, dan kerinduan, kebahagiaan luar biasa.

Air, selain menjadi kebutuhan pokok sehari-hari, air mempunyai fungsi ritual bahkan hampir di semua agama. Setiap agama menjadikan air sebagai alat penyuci. Dalam Islam misalnya, ritual berwudhu, mandi besar dan lain sebagainya menjadi bagian yang terpisahkan dari ritual inti Islam ini, yakni shalat. Ada sesuatu yang penting dalam hal ini yakni menyangkut keberadaan air. Dalam tradisi jawa misalnya, misalnya ada ritual siraman, bagi temanten, upacara tingkeban (ketika seorang perempuan hamil 7 bulan), sampai acara bersih desa. Kesemuanya menunjukkan, keberadaan air dan mata air menjadi sangat penting.

Bahkan dalam sebuah Hadist, rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan berkata-kata kepada tiga golongan manusia pada hari kiamat, tidak membersihkan mereka dari dosa dan mereka akan diazab dengan azab siksa yang pedih. Mereka itu ialah seseorang yang mempunyai lebihan air di Padang Sahara tetapi dia enggan memberikan air tersebut kepada musafir yang memerlukan…(HR Bukhari dan Muslim). Betapa air menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Bahkan dalam sejarah air merupakan variabel penentu dari peperangan, dan hancurnya suatu peradaban.

Dan seiring dengan perjalanan waktu, kisah semesta dengan berbagai kekayaannya, -termasyuk air-  sering kali berubah menjadi bencana. Tsunami, banjir bandang, longsor, gelombang besar yang menenggelamkan, menunjukkan bahwa air dianugerahi Allah swt kekuatan dahsyat untuk merubah kehidupan manusia dalam waktu sekejap. Saat bumi telah ditelanjangi oleh keserakahan manusia, hutan-hutan digunduli, tanah resapan air ditutupi beton, sampah menumpuk di mana-mana, maka air yang melimpah akan menerjang semuanya. Mata air dan air mata akan bertemu pada situasi yang berbeda. Air mata kebahagiaan saat para petani menangis haru saat air hujan mengguyur sawah mereka saat kemarau panjang, dan air mata kepedihan saat arus air menggelamkan semuanya.

Kearifan Zaman Old dan Fenomena Bencana Alam

Musim hujan telah datang. Setelah kemarau lewat, hujan datang dalam intensitas yang cukup tinggi di banyak wilayah dinegeri ini. Belum lama berselang kita dikejutkan dengan bencana banjir dan tanah longsor akibat curah hujan yang teramat tinggi, akibat Siklon Cempaka dan Dahlia di selatan Jawa. Belakangan kita akrab dengan tayangan bencana banjir atau tanah longsor, menjadi pemandangan di berbagi media massa maupun media digital. Tapi apakah bencana akan usai segera?

Negeri kita sering di sebut sebagai dapur bencana, dimana pertemuan patahan bumi ada di negeri kita, dan berbagai posisi geografis yang membuat ancaman bencana menjadi salah satu agenda yang musti siap kita hadapi. Tentu pernyataan ini bukan bermaksud untuk mendahului rencana Tuhan, tapi tidak salah kiranya jika kita menyiapkan sistem peringatan dini kebencanaan (disaster early warning system).

Kenapa kehidupan bangsa ini seolah terus diliputi kecemasan akan bahaya bencana (tragedi) yang mengancap kehidupan di negeri ini? Barangkali kita perlu merefleksi diri. Kesombongan kita sebagai manusia yang menahbiskan diri sebagai manusia dengan corak pikir rasional nampaknya mulai diuji. Modernisasi barangkali menawarkan kehidupan yang lebih baik, dengan kemampuannya mengkalkulasikan segala sesuatunya secara lebih tepat.

Di masa lalu, nenek moyang kita menggunakan narasi-narasi –yang disebut irrasional- berupa mitos untuk mendefiniskan bencana. Bahkan dalam kehidupan yang lebih luas mitos digunakan untuk membangun nilai-nilai, tentang apa yang indah, apa yang tidak indah. Nilai-nilai etika tentang apa yang diperbolehkan untuk dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Nilai tersebut agar tetap dijaga dan ditaati, maka moyang kita mencipta segenap ritual dan tradisi yang ditata sedemikian rupa. Antopolog Victor Turner (1980), menyebut bahwa ritual bagi ‘manusia tradisional’ merupakan alat ampuh untuk membaca realitas, sekaligus digunakan sebagai momentum untuk mewariskan dan menyebarkan pada kehidupan sosial dimasa kini maupun generasi selanjutnya. Sebagai contoh adalah manusia Jawa, berbagai ekspresi ritual, digunakan untuk membangun hukum sosial dan menjadi media untuk mengelola lingkungan. Situs hutan dan pohon besar misalnya, dimana menyediakan sumber mata air di Jawa  akan selalu menjadi pusat kegiatan ritual, dan menjadi tempat yang dikeramatkan. Setiap manusia dididik untuk menghormati tempat tersebut, dengan bahasa ritual sebagai tempat keramat, dan pada akhirnya menjadi pusat dari aktivitas pemenuhan hajat hidup khalayak.

Situs keramat, seperangkat mitos dan ritual, dihadirkan untuk menggambarkan kekuatan super yang dapat mengendalikan bahkan menjadi kekuatan penghancur keserakahan manusia. Penjaga situs keramat, para Danyang, menjaga tempat itu, sembari memberikan ancaman kuwalat bencana bagi mereka yang tidak peduli, tak menghormatinya, dan merusak tempat-tempat penting itu. Dengan ancaman kuwalat mekanisme ekslusi sosial di ciptakan, mereka yang melanggar akan dikeluarkan dari sistem  sosial yang terjaga baik. Bahkan ancaman kuwalat  ini bisa terwaris kepada generasi mereka sesudahnya.  Sebaliknya, sumber kehidupan berupa air dan kesuburan akan menjadi berkah bagi masyarakat disekitarnya.

Sesat Fikir Zaman Now

Peradaban modern, yang kini sering disebut dengan Jaman Now,  menyediakan instrumen baru menghadapi kehidupan yakni rasionalitas. Filsuf dan ilmuwan sosial modern seperti Comte, Weber telah menahbiskan lahirnya peradaban baru yang disebut era manusia rasional. Ditangan rasionalitas, nilai-nilai lama di tundukkan.

Agama di modernisasi, dan dirasionalisasi . Perilaku manusia harus diukur dengan standarisasi yang ketat dan terukur, suatu itung-itungan numerik dan matematis. Pada saat yang sama itung-itungan rasional dan matematis itu pada akhirnya dengan kehendak purba manusia, yakni keserakahan tak terkendali. Keserakahan itu menyatu dengan cerita tentang rasionalitas dan pada akhirnya menundukkan nilai-nilai penjaga kelestarian, sembari menghancurkan dan mengeksploitasi lingkungan.

Kombinasi rasionalitas dan keserahakan manusia inilah yang melahirkan kapitalisme neoliberal yang secara sistematik meruntuhkan keseimbangan alam, eksploitasi lingkungan dan sekaligus mengubur nilai-nilai kebaikan Jaman Old sebagai kenangan. Konsekuensinya ternyata tidak ringan. Bencana alam yang diakibatkan oleh ulah manusia, menjadi rutinitas yang dengan mudah ditemui. Hutan-hutan dibabat habis oleh demi kepentingan pembangunan. Perizinan lingkungan menjadi tempat kolusi birokrasi, akademisi dan pengusaha sekaligus. Menyedihkan!

Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

TINGGALKAN KOMENTAR

geolive
    Feed has no items.
Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…