Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Benarkah Ulama Klaim Mendukung Capres? Ulama yang Mana?

Pemuda di Antara Garis Revolusi

"Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia," - Bung Karno Semangat,...

Pikiran dan Zaman yang Melampaui Tuhan

Pikiran selalu mengundang perdebatan dalam pikiran saya, maupun ketika dibicarakan dengan teman-teman saya. Pikiran itu merupakan sesuatu yang semimistik, pasalnya pikiran ini tidak bisa...

Memahami Perkembangan Ilmu Ekonomi-Politik

Memahami Perkembangan Ilmu Ekonomi-PolitikOleh Muhammad Dudi Hari Saputra, MA. (Tenaga Ahli Staf Khusus Kementerian Perindustrian Republik Indonesia)Konsep ekonomi-politik sebagai ilmu hubungan internasional mulai berkembang...

Amien Versus Luhut: Tontonan “Politik Opera Sabun”

Perdebatan sengit antara Amien Rais dan Luhut Binsar Pandjaitan yang diekspos sejumlah media massa, menarik perhatian publik dan menjadi viral di masyarakat. Dua tokoh...
zakie andiko ramadhani
Intellectualegacy.blogspot.com |

Kondisi politik di Indonesia akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan oleh berbagai elite politik hingga masyarakat awam.

Suasana pelik mewarnai setiap berita di media massa yang setiap detik tidak melewatkan update berkaitan progress siapa cawapres pilihan bakal calon presiden pertahana Joko Widodo yang akhir-akhir ini mengambil perhatian masyarakat dan perhatian lawan tandingnya Prabowo Subianto dan koalisinya.

Tak heran dari semua elemen partai dari majelis suro, ketua partai hingga kader-kadernya saling berkontestasi menggalakan dukungan dari berbagai pihak untuk mendapatkan legitimasi masyarakat dan sebagai simbol dukungan kepada calon presiden tertentu dari politisi senior, mantan presiden, media hingga para ulama diklaim dukungannya dalam kontestasi menuju pemilihan presiden 2019.

https://www.google.co.id/search?q=ijtima+ulama+untuk+jokowi&client=ms-android-xiaomi&prmd=niv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiQopKm0s_cAhVBUN4KHegYAqgQ_AUIEigC&biw=360&bih=560#imgdii=JAeTGTvU5glrwM:&imgrc=kC66A52JvjEIlM:

Beberapa waktu  yang lalu,  salah satu portal berita online yaitu RILIS.ID mengunggah berita berjudul Golkar Klaim Ulama Dukung Jokowi dalam berita tersebut berisikan bahwa sekelompok ulama telah memberikan deklarasi dan dukungan kepada Jokowi untuk menjadi presiden di 2019 nanti yang disampaikan langsung oleh Wasekjen Partai Golkar, Sarmuji.

Hal ini merupakan respon dari pernyataan koalisi dari lawan tandingnya yang menyatakan bahwa berdasarkan Ijtima ulama dan tokoh nasional merekomendasikan Prabowo Subianto menjadi Capres 2019.

https://www.google.co.id/search?q=ulama+dukung+prabowo&client=ms-android-xiaomi&prmd=niv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj4kd_R1c_cAhXJUd4KHVxsBaUQ_AUIEigC&biw=360&bih=616&dpr=2#imgrc=Lsom-yxmFBgxTM:

Hal yang menarik untuk didiskusikan adalah mengapa Ulama menjadi target yang strategis untuk dikalim dukungannya terhadap capres tertentu? Dan dari kelompok ulama mana yang diklaim telah mendukung salah satu bakal capres yang ada antara Jokowi atau Prabowo? Serta benarkah mereka Ulama? Hal ini akan saya diskusikan kemudian.

Menarik memang kehidupan politik domestik di Indonesia untuk dikaji, sejak Pilkada Gubernur DKI Jakarta beberapa bulan yang lalu, kondisi politik di Indonesia diwarnai isu SARA terutama agama yang akhirnya dapat membuat opini masyarakat terpolaritas dalam segmen  segmen sensifitas agama.

Hal ini tidak dapat kita munafikkan karena kekuatan nilai agama yang ada ternyata mampu mengalahkan calon pemimpin tertentu dan memenangkan calon yang lain. Isu agama menjadi komoditas yang menarik untuk dijadikan isu politik.

Mungkin inilah yang dikatakan oleh Karl Marx seorang filsuf asal Jerman yang berpendapat agama adalah candu bagi masyarakat hal ini dikarenakan agama bisa menidurkan penderitaan yang diderita masyarakat, serta juga menjadi kekuatan masyarakat untuk memperjuangkan suatu kepentingan. Tak jarang, semangat yang ada dalam masyaraka beragama disalahgunakan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Setiap kelompok dalam masyarakat tentu memiliki pemimpinnya masing  masing. Kelompok masyarakat beragama biasanya diwakili oleh pemimpin yang kita biasa sebut sebagai ulama. Ulama merupakan istilah bahasa arab, jamaknya disebut alim, dan secara bahasa artinya orang yang berpengetahuan.

Kyai atau Ulama adalah tokoh masyarakat  yang dianggap memiliki pengetahuan, pemikiran, tingkah laku, fatwa hingga anjurannya diyakini oleh masyarakat sebagai suatu kebaikan, kebenaran dan dapat diikuti masyarakat. Hingga tak jarang  pilihan politik yang diklaim oleh ulama atau kyai tertentu dianggap dapat merepresentasikan pilihan masyarakat di suatu tempat walaupun terkadang tidak begitu adanya.

Oleh karena itu, tak heran hari ini ulama ataupun kyai menjadi sasaran empuk para politisi untuk dijadikan lat legitimasi mereka untuk mendapatkan kepercayaan dan dukungan.

Terdapat beberapa klasifikasi yang saya dapatkan dari cuplikan video Mata Najwa dengan Gusmus yang mendiskusikan tentang Ulama. Dimana Gus Mus menyebutkan dalam video tersebut mengklasifikasikan paling tidak terdapat paling tidak 5 kategori ulama atau kyai. Kategori yang akan saya jelaskan paling tidak sagat relevan dengan kondisi yang ada di Indonesia pada hari ini.

Kategori Pertama, Gus Mus mengatakan menurut Sosiolog Arief Budiman, ulama itu ada yang produk masyarakat, karena masyarakat melihat ilmunya, melihat lakunya, maka masyarakat menyebutnya sebagai ulama. Oleh karena itu masyarakat menaruh kepercayaan dan seharusnya kepercayaan itu dijawab dengan kebenaran.

Selanjutnya, ulama kategori kedua adalah produk pers (media massa). Gus Mus menjelaskan karena pers menyebut  nyebut seseorang sebagai ulama, maka masyarakat terbentuk opini orang tersebut sebagai ustadz ataupun ulama. Maka masyarakat akan terbiasa dan menganggap ia sebagai ulama.

Kategori ketiga adalah ulama produk pemerintah, Gus Mus menjelaskan bahwa ulama kategori iini dibentuk oleh pemerintah melalui lembaga yang dibentuknya, seperti Majelis Ulama Indonesia, jadi orang yang masuk ke lembaga tersebut otomatis akan disebut sebagai ulama tanpa dilihat oleh masyarakat pengetahuan, ilmu dan kebenaran orang  orang yang ada di lembaga tersebut.

Kategori keempat adalah pers yang dibentuk oleh politisi. Ulama kategori ini dibentuk oleh politisi dengan hanya legitimasi melalui koversi pers oleh sebuah partai atau kelompok tertentu yang  misal mengatakan sebanyak 200 ulama telah mendukung partai kami dan lain  lain, dimana tidak  jelas siapa dan darimana ulama yang diklaim tersebut. Hal tersebut digunakan oleh kelompok politisi atau partai sebagai sarana praktis menarik simpati dan dukungan masyarakat terhadap pilihan politik yang ada.

Kemudian ulama kategori kelima adalah ulama produk sendiri, Gus Mus mengatakan bahwa ulama jenis ini hanya cukup menggunakan aksesoris seperti sorban, peci haji dan mempunyai keahlian acting dan hafalan beberapa ayat al-quran serta hadist saja. Kategori jenis ini dianggap sangat membahayakan umat apabila ulama tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran agaa itu sendiri, misal fitnah, menganjurkan ujaran kebencian dan menghalalkan segala cara. Karena masyarakat menganggap dan mempercayai ia sebagai seorang ulama.

Sebagai kesimpulannya, Gus Mus mempunyai definisi sendiri tentang siapa itu ulama. Ulama menerutnya adalah seorang yang merefleksikan dirinya dengan perilaku nabi. Dimana di dalam Al Quran dijelaskan karakteristik nabi adalah tidak tahan melihat penderitaan masyarakatnya.

Oleh karena itu ulama seharusnya adalah seorang yang tidak tahan melihat penderitaan masyarakatnya dengan mengeliminasi kemungkinan memilih calon presiden yang justru akan lebih menyengsarakan masyarakatnya, dan tidak mudah dijadikan sebagai alat legitimasi politisi untuk menarik simpati rakyat tanpa tahu kebenaran dan kebaikan calon presiden yang didukungnya. Karena salah pilihan maka akan menjerumuskan masyarakat ke dalam kesengsaraan di masa depan.

zakie andiko ramadhani
Intellectualegacy.blogspot.com |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.