Senin, April 12, 2021

Benarkah Mayoritas Penghuni Neraka itu Wanita?

PRT Migran Memikul Beban Lebih Berat

“Assalamualaikum… Apakah bisa meminta bantuan? Ibu saya di Arab Saudi sudah hampir 2 bulan tak ada kabar”, chat inbox pengaduan kasus masuk melalui facebook...

Konsumerisme dan Falsafah Hidup Masyarakat Indonesia

Hasil riset yang dirilis oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menunjukkan bahwa ternyata masyarakat Indonesia tergolong sebagai tipe masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan diri...

Cyber Islamic Environments

Diskusi tentang cyber Islamic environments sebenarnya sarat dengan kompleksitas. Beragam aspek tentang islam yang itu berada di dunia maya harus diterjemahkan sebagai wajah islam...

Kampanye Atraktif

Saat ini, kita berada pada situsasi arus tanpa batas. Banyak ahli atau penulis menyatakan era industri 4.0. merupakan arus tanpa batas media yang sulit...
Rosidin
S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pendidikan Islam [2010-2012]. Dosen STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang. Penggemar Kajian Tafsir Tarbawi (Pendidikan) secara khusus dan kajian keIslaman secara umum.

Tulisan ini merupakan cuplikan hasil terjemahan penulis terhadap buku Reclaiming the Mosque: the Role of Women in Islamic’s House of Worship karya Jasser Auda, hlm. 53-56. Membahas tentang salah satu hadis-hadis misoginis yang cenderung merendahkan kaum wanita.

Ada beberapa, dan sayangnya populer, hadis-hadis yang tampak merendahkan kaum wanita. Hadis-hadis problematis ini berdampak pada persepsi peran wanita dalam Islam secara umum dan di masjid secara khusus.

Namun demikian, hadis-hadis semacam itu bertentangan dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan al-Qur’an terkait martabat dan hak-hak asasi wanita, dan bertentangan dengan begitu banyak bukti hadis lain tentang interaksi Nabi SAW dengan wanita dan status tinggi yang beliau berikan kepada kaum wanita.

Seperti yang akan kita lihat di bawah ini, hadis-hadis semacam itu secara salah diklaim sebagai sabda Nabi SAW, atau memang benar sabda Nabi SAW, yang di(salah)tafsirkan secara terpisah dari konteks dan makna yang sebenarnya.

Misalnya, hadis yang menyatakan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Jabir ibn Abdullah RA meriwayatkan: “Saya mengikuti shalat hari raya (Idul Fitri) bersama Rasulullah SAW. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, tanpa adzan atau iqamah. Lalu beliau berdiri, dan sambil bersandar pada Bilal, beliau memerintahkan orang-orang agar bertakwa kepada Allah SWT dan mematuhi segala perintah-Nya. Beliau memulai dengan kaum laki-laki dan menasihati mereka; lalu berjalan ke arah kaum wanita dan menasihati mereka. Beliau bersabda: ‘Bersedekahlah’… Para wanita pun mulai membagikan perhiasan mereka sebagai sedekah, melemparkan anting-anting dan cincin mereka ke pakaian Bilal (Bukhari, 1462).

Saya merasa ini adalah tugas yang tidak dapat saya hindari untuk memberi catatan kritik terhadap hadis tersebut, meskipun beberapa pembaca mungkin mendapati catatan saya terkesan ofensif, mengingat status tinggi kitab Shahih Bukhari. Saya harus menegaskan bahwa Imam Bukhari melakukan pekerjaan luar biasa dalam mengumpulkan koleksi hadis; akan tetapi, beliau dan para perawinya tidaklah sempurna.

Hal ini secara khusus terbukti saat hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri, saling bertentangan; atau bertentangan dengan al-Qur’an dengan cara yang melampaui konsiliasi [mustahil dikompromikan], yang terjadi beberapa kali dalam kitabnya yang luar biasa tersebut.

Dalam setiap kitab hadis, peristiwa-peristiwa biasanya diriwayatkan dalam sejumlah cara yang berbeda-beda, dengan perbedaan dua atau tiga kata antar riwayat yang berbeda-beda.

Terkadang, kata-kata tersebut tidak menunjang makna hadis; sebaliknya, pada kasus lain, perbedaan tersebut merupakan suatu pertentangan, yaitu satu kalimat selaras dengan prinsip-prinsip al-Qur’an dan moral keteladanan Nabi SAW, sedangkan kalimat yang lain –dengan satu kata atau lebih– menyiratkan makna yang bertolak belakang dengan prinsip-prinsip al-Qur’an dan moral keteladanan Nabi SAW.

Dalam hadis tersebut, dan setelah instruksi Nabi SAW bagi kaum wanita untuk “bersedekah” sebagaimana yang diriwayatkan di atas, beliau berbicara dengan kaum wanita tentang neraka.

Ini merupakan urutan pidato beliau menurut puluhan hadis dan riwayat terkait peristiwa hari itu (Bukhari (29, 3241, 5198, 6449, 6546), Muslim (2740), Tirmidzi (2602, 2603), Ahmad (2087, 3376, 7891, 5321, 19350, 19479), Ibn Hibban (7615, 7616, 7649), Bayhaqi (1345), Muwaththa (445), Nasa’i (1891, 9215, 9216, 9217, 9219, 9220, 11757), Abu Dawud (872, 2882), Al-Bazzar (5340), Jami Muammar Ibn Rasyid (20610, 20611), dan Thabarani (2485, 12765, 12766, 12767).

Namun demikian, hadis-hadis tersebut berbeda-beda dalam beberapa detail penting. Yang paling terkenal adalah kata-kata Imam Bukhari yang dikutip di atas, menurut Jabir, di mana beliau mengklaim bahwa setelah Nabi SAW bersabda “bersedekahlah”, Nabi SAW mengarahkan pidato beliau kepada para shahabat wanita dengan bersabda: “Bersedekahlah, karena sesungguhnya saya melihat bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka”.

Dalam hadis lain, dikatakan bahwa Nabi SAW bersabda tentang neraka dan mayoritas wanita tersebut secara umum, bukan ditujukan secara khusus kepada para shahabat wanita. Dalam Shahih Bukhari juga (No. 29), hadis lain menyatakan: “Saya ditunjukkan neraka, dan saya menemukan bahwa sebagian besar penghuninya adalah kaum wanita”.

Ada berpuluh-puluh hadis yang serupa, dalam Shahih Bukhari dan sumber-sumber lain, dengan redaksi yang menyiratkan salah satu dari dua makna di atas. Dalam hadis-hadis tersebut, dinyatakan bahwa para wanita itu kemudian bertanya mengapa seperti itu keadaannya, dan jawaban Nabi SAW adalah:  “Kaum wanita itu tidak berterima kasih kepada pasangan mereka”  atau beliau berbicara kepada para shahabat wanita: “Kalian sering mengutuk dan tidak berterima kasih kepada pasangan kalian”.

Saya menemukan dua kelompok hadis di atas sangat problematis dan tidak masuk akal, dalam konteks pidato pada hari raya (Idul Fitri)! Lebih penting lagi, hadis-hadis tersebut tidak sesuai dengan kepekaan dan keluhuran akhlak Nabi SAW yang ditegaskan al-Qur’an dan apa yang ditunjukkan oleh Nabi SAW dalam banyak contoh lain ketika beliau berinteraksi dengan kaum wanita.

Bagaimana mungkin Nabi SAW selama perayaan hari raya Idul Fitri, (tega) memberitahu para sahabat wanita, yang sangat dipuji al-Qur’an dengan redaksi yang jelas (Quran 9:100, 48:25, 48:29, 58:22, dan lainnya) bahwa sebagian besar dari mereka adalah penghuni neraka? Apa artinya ini?

Sangat disayangkan bahwa salah konsepsi ini dan “fakta” asumtif bahwa sebagian besar penghuni neraka adalah kaum wanita, sebagaimana disinyalir hadis-hadis tersebut, memiliki dampak yang cukup negatif terhadap budaya muslim dan pemahaman umum tentang status wanita dalam Islam.

Akan tetapi, ada beberapa hadis lain, dalam Shahih Bukhari dan kitab lainnya, yang menggunakan redaksi yang sedikit berbeda dari pidato Nabi SAW, namun dengan arti yang cukup berbeda. Sebelumnya dalam kitab yang sama, Shahih Bukhari (No. 29), hadis lain yang kali ini menurut Abdullah ibn Abbas RA menyatakan:  “Saya ditunjukkan neraka, dan saya menemukan bahwa sebagian besar penghuninya adalah kaum wanita yang kufur”.

Bagian lain dari hadis, yang menjelaskan “wanita yang kufur” sebagai orang yang mengutuk segalanya dan tidak berterima kasih kepada pasangan mereka, sekarang masuk akal. Di sini Nabi SAW memberitahu kepada para sahabat wanita tentang sejumlah kaum wanita kafir yang menjadi penghuni neraka, bukan bahwa mereka atau kaum wanita secara umum adalah penghuni neraka.

Bahkan, dalam riwayat lain, dalam Shahih Ibn Hibban misalnya, Nabi SAW menambahkan contoh dari salah satu dari kaum wanita yang menjadi “penghuni neraka.” Beliau menjelaskan, “Seorang wanita dari Himyar, yang berpostur sangat tinggi, mengikat kucing miliknya, namun tidak memberinya makan dan minum; serta tidak membiarkan kucing itu makan apapun dari serangga-serangga di tanah (H.R. Ibn Hibban, 7649).

Wanita yang membuat kucingnya kelaparan sampai mati, sudah pasti termasuk salah satu “penghuni neraka”, bukan sahabat wanita Nabi SAW, dan bukan kaum wanita secara umum!

Rosidin
S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pendidikan Islam [2010-2012]. Dosen STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang. Penggemar Kajian Tafsir Tarbawi (Pendidikan) secara khusus dan kajian keIslaman secara umum.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.