OUR NETWORK

Belum Untung, Sudah Buntung: Prahara Artis di Panggung Politik

Namun, banting setirnya artis ke dunia politik tidak selalu berjalan mulus

Di luar fenomena artis ”hijrah” dalam hal agama, fakta lain yang sedang tren di Indonesia adalah maraknya pesohor ”hijrah” ke dunia politik. Hijrah mesti diberi kutip karena tidak selalu mewakili makna yang sesungguhnya. Tabiat ”hijrah” yang terakhir ini sudah berlangsung lama sebenarnya. Dan lestari sampai saat ini.

Namun, banting setirnya artis ke dunia politik tidak selalu berjalan mulus. Terkadang amat terjal bahkan. Di tengah liku-liku yang terjal itu, beberapa kalangan kemudian ramai-ramai meminta sang idola ”rujuk” ke panggung hiburan, entertainment, panggung yang kali pertama membesarkannya.

Tidak salah lagi, beberapa hari lalu rintangan itu giliran menghadang seseorang yang kita anggap lebih dari sekadar musisi, Ahmad Dhani Prasetyo. Tiga cuitan di Twitter pada Maret 2017 mengantarkan pentolan Dewa itu masuk hotel prodeo. Hakim menganggap Ahmad Dhani melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik dengan menyebarkan ujaran kebencian.

Pro-kontra terkait dengan hal itu biarlah diurus oleh pihak-pihak yang bersangkutan dan berkepentingan di milis-milis lain sana. Tulisan ini hendak difokuskan pada gejala menyeberangnya artis dari panggung hiburan ke panggung politik yang sudah buntung sebelum untung.

Dari Panggung Hiburan ke Panggung Politik

Para pesohor yang berpaling ke dunia politik ini berasal dari beragam profesi. Mulai penyanyi, musisi, presenter, hingga pemain film. Dikutip dari artikel Manzilatun Ni’mah, Transformasi Selebriti Menjadi Selebriti: Urgensi Personal Front dalam Ranah Sosial, fenomena hijrahnya selebritas menjadi politikus bukanlah barang baru.

Dalam sejarah perpolitikan di Amerika, misalnya, sudah tercatat beberapa nama pesohor yang menduduki jabatan publik. Di antaranya, Ronald  Reagan (presiden ke-40 Amerika Serikat, 1967–1975) dan Arnold Schwarzenegger (gubernur California 2003–2011).

Di India, Amitabh Bachchan menduduki jabatan anggota parlemen pada1984–1987. Di Indonesia sendiri, pascareformasi, fenomena artis yang menduduki jabatan politik formal mulai menyeruak. Ada tokoh sekaliber Dede Yusuf, Deddy Mizwar, Rano Karno, Desy Ratnasari, Zumi Zola, hingga Pasha Ungu. Proses mereka dalam gelanggang politik pun tak luput dari kontroversi.

Bahkan, ketampanan Zumi Zola luntur di hadapan hukum. Mantan gubernur Jambi itu dibui setelah terlibat dalam sebuah kasus gratifikasi dan suap. Pasha Ungu malah sibuk dengan gaya rambutnya yang lebih disorot publik ketimbang berita tentang kinerjanya selama menjadi wakil wali kota Palu.

Efek pembelahan politik tahun ini juga memakan ”korban” para pesohor. Berkiprah di panggung politik itu diterjemahkan tidak hanya sebagai caleg, misalnya, tetapi juga sikap dan dukungan kepada calon tertentu.

Langsung saja kita sebut nama Ratna Sarumpaet, Neno Warisman, dan, tentu saja, Ahmad Dhani. Juga termasuk penulis novel Islami –yang novelnya kerap difilmkan– sekaligus putri kesayangan Amin Rais, Hanum Salsabila Rais, yang secara tak terduga ikut-ikutan berkiprah di dunia politik.

Di titik ini, saya ingin tegaskan bahwa politik itu kerap menjerumuskan. Dalam dunia politik, kawan bisa secepatnya menjadi lawan dan lawan pun bisa sekejap menjadi kawan. Dalam politik juga sering pihak lain dianggap enemy (musuh), bukan sekadar opposite (lawan).

Ratna Sarumpaet, yang lebih dikenal sebagai seorang aktivis, seniman, dan pemain teater, mungkin akan menyesali keputusannya cawe-cawe di dunia sarat ”prahara” ini. Ibarat peribahasa panas setahun dihapus hujan sehari, kiprah Ratna Sarumpaet di dunia pergerakan dan sastra yang cukup cemerlang itu seperti hilang tak berbekas lantaran sikap sembrononya di dunia politik.

Yakni ketika ia secara ceroboh menyebar disinformasi soal penganiayaan yang menimpa dirinya hingga wajahnya ”babak belur”. Ternyata, itu hanyalah cerita khayal yang bersangkutan. Akibatnya, ia dilorot dari tim Badan Pemenangan Prabowo-Sandi.

Cerita Ratna memakan ”korban” lain. Hanum Rais, yang kini menjadi caleg dari PAN, partai yang didirikan ayahnya, sempat menyebut Ratna Sarumpaet laksana Cut Nyak Dien dan Kartini. Ya, seperti itulah faktanya: politik itu sering membutakan. Hanum pun, saya kira, setelah itu cukup meratapi ucapan berbau politisnya tersebut.

Dunia Politik Tidak Lebih Baik

Pasca-putusan hakim kepada Ahmad Dhani dengan penjara1,5 tahun, beberapa kalangan ramai-ramai menulis ulasan tentang istri Mulan Jameela tersebut. Bukan ihwal dukungan tentang politik, melainkan keinginan publik agar Ahmad Dhani kembali ke dunia hiburan.

Di Jawa Pos edisi Rabu (30/1) bahkan ada dua tulisan langsung yang membahas nostalgia ketokohan Ahmad Dhani di panggung hiburan. Pertama kolom berjudul Oh, Ahmad Dhani karya musikus-penulis Erie Setiawan. Kemudian, tulisan wartawan Jawa Pos dengan judul Pakde, Nggak Pengin Berkarir di Musik Aja?.

Dua tulisan di atas menggambarkan betapa Ahmad Dhani memang begitu mahir di dunia hiburan, khususnya tarik suara. Ia amat dicintai banyak kalangan kendati sikapnya sering ceplas-ceplos, tanpa tedeng aling-aling –ulah yang sayangnya mengantarkannya ke vonis1,5 tahun itu.

Ratna Sarumpaet setali tiga uang. Tidak sedikit yang menyayangkan ketika ia turut cawe-cawe di dunia politik. Bayangkan jika Ratna Sarumpaet fokus saja di dunia aktivis dan sastra, pasti gairah teater semarak lagi. Tentu juga akan menyusul karya-karya epik lain setelah Maluku: Kobaran Cintaku, Marsinah: Nyanyian dari Bawah, dan Alia: Luka Serambi Mekah. Ah, saya merindukan aktivis perempuan ini kembali ke dunia sastra.

Kerinduan terhadap karya-karya religi kontemporer pastinya juga dirasakan para penikmat karya Hanum Rais (bersama Rangga, suaminya). Setelah novel-novel seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Bumi Terbelah di Langit Amerika, dan terakhir I Am Syarahza, praktis Hanum Rais urung menelurkan tulisan lagi. Saya menengarai ia masih sibuk dengan aktivitasnya sebagai caleg DPRD Yogyakarta.

Semoga di tengah keriuhannya di dunia politik, Hanum Rais masih menyempatkan berkarya lagi, dengan ide-ide yang lebih segar dan kekinian. Semoga pula Hanum Rais tidak ”keseleo lidah” lagi dalam adaptasinya di dunia politik.

Apalagi Ahmad Dhani. Para penggemarnya, termasuk saya yang kagum dengan kiprahnya di belantika musik tanah air, masih amat berharap sang idola ”bertaubat” dari politik. Kembali murni ke panggung hiburan, saya pikir, adalah pilihan yang bajik.

Fenomena Zumi Zola, Pasha Ungu, Ratna Sarumpaet, Hanum Rais, hingga Ahmad Dhani mudah-mudahan bisa dijadikan pelajaran bagi para pesohor lain. Turut mengabdi kepada bangsa dan negara tak melulu diperantarai oleh kendaraan politik. Atau, jangan-jangan syahwat politik memang amat menggiurkan.

Pasalnya, ada anekdot yang bunyinya begini: dunia politik itu bisa membuat orang baik kelihatan buruk.

Penyelaras bahasa Jawa Pos, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah, penulis buku Mendidik dari Akar Rumput (2019)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…