Jumat, Januari 15, 2021

Belajar dari Sang Imam dan Sang Pastor

RUU Tembakau untuk Industri atau Rakyat

Tembakau atau dalam bahasa latin disebut dengan nicotiana tobacum, merupakan tanaman perkebunan. Tembakau mula-mula muncul di Amerika tengah pada masa sebelum masehi. Dengan bukti adanya ukiran...

Konsumerisme dan Falsafah Hidup Masyarakat Indonesia

Hasil riset yang dirilis oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menunjukkan bahwa ternyata masyarakat Indonesia tergolong sebagai tipe masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan diri...

Membaca Peta Politik Amien Rais

Beberapa waktu lalu, KPK menyebut Amien Rais menerima aliran dana terkait kasus dugaan korupsi alat kesehatan (alkes) sebesar Rp 600 juta. aliran dana itu...

Bung Karno dan Kertanagara

Jika Bung Karno berumur panjang, tahun ini beliau berumur 118 tahun, suatu usia yang masih bisa dicapai manusia Indonesia yang sehat sebagaimana banyak diberitakan...
harimbawa
Made Harimbawa adalah seorang engineer yang kini menjadi asisten pengajar di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Made Harimbawa tertarik pada berbagai bahasan: dari kebijakan publik hingga soal budaya, dan spritualitas. Twitter: @harimbawa.

Sabtu kemarin, 14 Oktober 2017, saya menghadiri kuliah umum di Universitas Paramadina yang mengangkat tema “Ketika Agama Membawa Damai, Bukan Perang”. Ada dua pembicara utama yang mengisi acara: yang satu seorang imam, dan yang satu lagi seorang pastor.

Keduanya berasal dari negara bagian Kaduna, di barat laut Nigeria. Pernah ingin saling bunuh, Imam Muhammad Ashafa dan Pastor James Wuye kini seolah tidak terpisahkan. Keduanya kini bersama menjadi juru damai berkeliling Nigeria hingga ke mancanegara.

Pasjor James Wuye (kiri) dan Imam Muhmmad Ashafa. Foto oleh Andrew Sheargold.
https://tanenbaum.org/

Walaupun berupaya menebar perdamaian, Imam Ashafa dan Pastor Wuye mengaku tidak selalu disambut dengan terbuka, bahkan tidak jarang mereka menerima ancaman. Tapi saya lihat, semua itu tidak terlalu dipikirkan mereka. Ini memunculkan pertanyaan: apakah kita semua memang menginginkan perdamaian?

Di mana-mana kita bisa dengar orang-orang menyerukan perdamaian. Yang muslim saling sapa dengan “Assalamualaikum”. Yang Kristen/Katolik mengucap “Shalom”. Sedangkan, yang Hindu ketika berpisah mengucapkan “Shanti”, dan yang Buddha mengucapkan “Sadhu”. Salam, shalom, shanti, sadhu, semuanya adalah doa dan harapan perdamaian.

Sebagai negeri yang berketuhanan, ternyata kita—seperti saudara-saudara kita di Nigeria, dan di tempat-tempat lainnya—masih belum sepenuhnya hidup dalam perdamaian. Kita menginginkannya, tapi perjalanan mencapainya penuh kerikil tajam. Apa sebab? Padahal kita tidak kekurangan forum, para pegiat, dan nasihat-nasihat perdamaian.

Ada sesanti yang masyur dari Afrika: “Jika kau ingin cepat, berjalanlah sendirian. Tapi jika kau ingin bisa pergi jauh, berjalanlah bersama-sama.” (Mendengarkan ini, saya membayangkan padang savana Afrika yang lapang, tandus, dan berbahaya. Masuk akal!) Pertanyaan saya sebelumnya bisa disusun ulang demikian: Mengapa kita seolah susah berjalan bersama-sama (menuju perdamaian)?

Satu hal, mungkin karena kita “belum” ingin pergi jauh. Kita masih ingin cepat sendirian. Perhatikan saja keseharian kita. Tanpa memedulikan kendaraan yang lain di jalan raya, misalnya, kita sering mendadak memotong jalan sehingga yang lain harus berhenti. Secara individu, mungkin kita akan cepat sampai tujuan. Tapi secara kolektif, arus jalan menjadi lebih lambat. Apalagi jika banyak yang demikian: semakin amburadul!

Mungkin ada juga yang bilang, “perdamian itu membosankan”. Hidup yang tanpa konflik/ketegangan terasa hambar. Lagi pula, bisakah kita mencapai kedamaian yang sempurna? Rasanya tidak. Ketegangan pun dibutuhkan; misalnya untuk menghadapi penindasan atau kejahatan, menegakkan kebenaran, atau untuk mencapai perdamaian itu sendiri. Di samping hidup dalam damai, kita juga “berhak” berkonflik atau bersitegang dengan sesuatu yang kita anggap salah.

Kita seringkali menginginkan perdamaian, tapi “menekan” konflik/ketegangan. Alih-alih terselesaikan, konflik/ketegangan tadi malah merembet ke mana-mana. Perdamaian bukan sekadar “ketiadaan konflik fisik”. Perdamaian dimulai dari dalam diri: Apakah pikiran kita sudah tenang, tanpa kecurigaan, tanpa permusuhan? Jika jawabannya belum, maka kita harus berhati-hati. Suatu saat—dengan pemicu yang tepat—konflik pasti pecah kembali.

Jujur saja, bangsa kita belum mahir mengelola konflik/ketegangan. Lihat saja “perang” label, dan aksi saling bungkam setiap kali isu-isu sensitif muncul. Hampir tidak ada pengayaan atau pendewasaan yang terjadi. Padahal titik keseimbangannya berada di antara dua ekstrem: “diam adalah emas” dan “tong kosong nyaring bunyinya”.

Perdamaian tidak bisa berdiri di atas pengekangan, tapi ia hanya bisa tegak di atas kebebasan. Terbiasa hidup dalam kekangan, mendengar kata ‘bebas’ pikiran kita sering membayangkan anarki, atau hal-hal ekstrem lain, sehingga kita selalu merasa perlu otoritas untuk mengendalikan kehidupan kita. Di sini, saya teringat kata-kata Lao Tzu, “Peraturan ada (dibutuhkan) selama kita masih hidup dalam ketidaksadaran.” Kita masih belum (mau) dewasa.

Keinginan “mau menangnya sendiri” dan di sisi yang lain “malas menjadi dewasa” inilah yang membuat kita tidak bisa berjalan jauh. Keduanya lahir dari ego. Imam Ashafa dan Pastor Wuye menunjukkan bahwa ego inilah yang harus ditundukkan terlebih dahulu sebelum kita bisa mengambil langkah pertama menuju perdamaian.

Dalam konflik antaragama yang terjadi di Nigeria di awal dekade 1990-an, Imam Ashafa kehilangan mentor dan dua sepupunya. Di sisi lain, Pastor Wuye kehilangan tangan kanannya. Ingin balas dendam, keduanya sempat terlibat peperangan. Namun ketika mereka menyadari bahwa kasih dan pemaafan lebih mulia daripada menuruti ego masing-masing, mereka baru bisa berdamai dengan diri sendiri dan kemudian, dengan pihak lawan.

Imam Ashafa mengibaratkan kebencian seperti kita menenggak racun namun berharap orang lain yang mati. Kebencian itu menggerogoti diri sendiri, padahal orang yang kita benci sudah move on. Pastor Wuye juga mengingatkan bahwa perang akan menciptakan lingkaran setan saling bunuh, semakin banyak kesengsaraan, dan pada akhirnya: kemiskinan.

Ketika ditanya apakah toleransi saja cukup, Imam Ashafa dan Pastor Wuye menjawab sama: tidak! Toleransi berarti hidup dalam batas-batas yang ditentukan, yang apabila dilanggar, maka kekerasan pun bisa dibenarkan. Kita membutuhkan lebih dari itu! Kita perlu mempraktikan cinta kasih, menerima perbedaan, dan saling menghormati. Kita butuh apresiasi!

Untuk itu, kita harus menyadari keterbatasan kita dalam memahami Yang Maha Tak Terbatas. Kita tidak bisa membiarkan ego mengungkung-Nya dalam pemikiran kita yang sempit. Untuk bisa bekerja sama, kita juga tidak bisa merendahkan derajat orang lain yang berbeda dengan kita dan merasa diri superior. Semua itu harus di-un-learn.

Ketika kita men-de-human-isasi, “mencabut status” kemanusiaan seseorang, maka saat itu pula kita memberikan izin untuk bisa memperlakukan dia seenaknya. Inilah mengapa, seorang cendekiawan yang sering tampil santun, dan sopan bisa mendiskriminasi, menindas orang lain. Dalam sekejap, pengendalian dirinya runtuh. Irosnisnya, mereka yang berperilaku demikian, sebenarnya sedang merendahkan kemanusiaannya sendiri.

Oleh karena itu, semua upaya bina damai—meminjam istilah Ihsan Ali-Fauzi yang membuka perbincangan di auditorium Nurcholis Madjid pagi itu—harus dimulai dari pengelolaan diri. Sampah kecurigaan, kesalahpahaman, kebencian, amarah, nafsu, dan lain sebagainya harus dibersihkan terlebih dahulu. Baru kemudian, rasa persaudaraan antarumat manusia bisa tumbuh. Buahnya adalah perdamaian.

Saya setuju dengan Imam Ashafa dan Pastor Wuye, bahwa untuk mencapai perdamaian kita perlu mengubah diri. Kita harus mengubah “kegemaran” kita berkonflik/bersitegang. Kita harus mengubah cara kita berdialog, menjadi lebih terbuka dan tulus. Kita juga harus mau meluangkan waktu untuk saling mengenal, mengapresiasi perbedaan dan kesamaan yang ada, seperti Sang Imam dan Sang Pastor.

Ingatlah sesanti (pesan perdamaian) leluhur kita: Bhinneka Tunggal Ika; bahwa yang nampaknya berbeda-beda ini sesungguhnya tunggal. Ilusi perbedaan muncul karena keterbatasan dan kekerdilan diri kita sendiri, seperti lima orang buta yang mencoba menjelaskan seekor gajah. Vasudhaiva kutumbakam—seluruh dunia ini adalah satu keluarga.

harimbawa
Made Harimbawa adalah seorang engineer yang kini menjadi asisten pengajar di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Made Harimbawa tertarik pada berbagai bahasan: dari kebijakan publik hingga soal budaya, dan spritualitas. Twitter: @harimbawa.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.