Rabu, Oktober 28, 2020

Belajar dari Pendukung Jepang di Piala Dunia 2018

Cara Tuhan Mengajarkan Investasi

Bertanam boleh jadi merupakan aktivitas penghidupan manusia paling tua. Dengan bertanam, manusia hidup dan mengembangkan kehidupan bumi. Apa yang kita makan hari ini adalah...

Hijrah dari Politik Hoaks Menuju Politik Kebangsaan

Istilah kata hijrah minggu-minggu ini sangat viral khusus di media sosia (medsos). Hal ini berangkat dari ajakan Presiden kita untuk mengajak kita semua  khusus...

Santri, Gus Dur, Kiai, dan Hukum

Berawal dari pertemuan disebuah warung kopi, saya bertemu dengan salah seorang teman. Dia bercerita tentang kegelisahan yang dihadapinya. Dia berprofesi sebagai guru di pondok...

Cara Kuntowijoyo Membela “Yang Bukan Manusia”

Negara punya tata, desa punya cara, dan pasar punya aturan. Begitu yang terus digemakan Kuntowijoyo lewat tokoh Pak Mantri, dalam novelnya “Pasar”. Ikat pinggang...
Fabio Syadino
Mahasiswa ilmu hukum Universitas Andalas Padang

Sepakbola tidak hanya menampilkan pertandingan 90 menit di lapangan. Sisi lain sepakbola juga menampilkan emosional, drama, dan respect. Piala dunia menghadirkan banyak pendukung dari berbagai belahan dunia, berbeda negara, suku, budaya, warna kulit hadir di Rusia.

Selain mendukung tim kebanggaan, pendukung atau suporter juga mewakili masyarakat atau warga negaranya. Jika pendukung atau suporter melakukan hal yang positif maka masyarakat dunia menganggap negaranya merupakan negara yang berperilaku positif begitu pula sebaliknya jika menampilkan karakter yang tidak positif akan memunculkan stigma negatif yang mana akan dianggap melawan norma-norma yang ada.

Menurut Howard S. Becker tindakan perilaku negatif atau menyimpang sesungguhnya tidak ada. Setiap tindakan sebenarnya bersifat netral dan relatif tergantung dari sudut pandang mana orang menilainya. Pendukung atau suporter yang datang langsung dianggap sampel bagi karakter dan perilaku masyarakatnya, baik dalam jumlah yang banyak ataupun sedikit. Karakter dari pendukung yang hadir bisa dianggap mewakili dari kelompoknya.

Suatu kebanggan jika sebuah negara mengikuti piala bergengsi sekali empat tahunan itu. Jepang yang berasal dari Asia Timur dan merupakan wakil dari benua Asia untuk Piala dunia Rusia 2018. Walaupun terhenti dibabak 16 besar piala dunia Rusia 2018 ada banyak pelajaran yang didapat dari Jepang di Piala dunia.

Tidak hanya tim sepakbolanya yang menampilkan penampilan terbaik tetapi pendukungnya juga menampilkan karakter yang terbaik. Salah satu hal yang menarik tatkala pertandingan sudah selesai, para pendukung negara Matahari terbit memungut sampah yang berada disekitar stadion.

Sebenarnya ini simpel tapi tidak semua orang bisa memulai dan melakukannya. Kebersihan dan kedisiplinan menjadi salah satu karakter yang harus ditanamkan oleh pendukung sepakbola.

Dari hal kecil ini, akan menggambarkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Pepatah Jepang mengatakan “datang dalam keadaan bersih, pergi dalam keadaan bersih” . Hal itulah yang mendorong para pendukung Jepang dalam melakukan aksi bersih-bersih di Piala Dunia Rusia 2018.

Suporter jepang di piala dunia 2018 membuktikan bahwa menonton sepakbola di stadion tidak harus menyisakan sampah apalagi kerusakan fasilitas umum. Bagi suporter sepakbola, banyak ragam dan kreatifitas yang ditunjukan selama pertandingan. Kedisiplinan dan Cultur budaya menjadi ciri khas dari masing-masing pendukungnya dalam mengekspresikan dukungannya.

Pentingnya menjaga kebersihan ditempat umum juga harus diterapkan oleh semua kalangan, hal ini sebagai bentuk kepedulian terhadapa lingkungan sekitar. Patut kita apresiasi para pendukung Jepang dan mereka layak menjadi calon suporter terbaik di Piala dunia Rusia 2018

Fabio Syadino
Mahasiswa ilmu hukum Universitas Andalas Padang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.