OUR NETWORK

Belajar dari Muslim Cordoba

Dalam sejarah Spanyol, kita pernah disuguhkan sebuah peradaban masyarakat yang plural dan beradab. Kekuasaan Al-Andalus yang mewarisi tradisi abrahamik, mulai dari Yudaisme, Kristen dan Islam (seperti Muslim Cordoba). Agama-agama ini mempunyai peranan yang besar bagi pemikiran teologis yang berkaitan dengan agama yang misioner.

Kees De Jong (2004 : 14-16) menjelaskan bahwa masyarakat Al-Andalus merupakan masyarakat yang majemuk. Banyak keturunan orang Romawi, orang Visgoth, orang Vandal, orang Spanyol, orang Berber, orang Arab, orang Slav yang hidup bersama-sama dan saling berdampingan.

Selain itu, dari segi agama juga hidup rukun yaitu antara agama Islam, Kristen dan Yahudi. Lalu mengapa ada penerimaan dan sikap saling menghargai di antara masyarakat? Karena ada sebuah sistem pemerintahan atau struktur yang demokratis dan dipimpin oleh gubernur-gubernur, Amir-amir (gelarnya pernah berubah pada tahun 926 dan menjadi khalifah-khalifah). Sistem tersebut tidak menerapkan otoriter kekuasaan, tetapi setiap daerah ataupun provinsi diberikan keleluasaan untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat.

Jika kita melihat sistem yang ada di Indonesia, sistem tersebut sama dengan sistem otonomi daerah. Keadaan Spanyol sebelum invasi Islam masuk, Cordoba berada pada kekuasaan kaum Visgoth. Kaum ini tidak menguasai Spanyol secara penuh karena agama yang dianut adalah aliran Kristen Arian.

Selain berada di bawah kekuasaan Visgoth, kekuasaan Cordoba juga pernah dipimpin oleh kaum Aristokrat yang notabene adalah kaum elit penguasa pada waktu itu. Ada jurang yang besar antara penguasa dan masyarakat. Jurang besar itu mengakibatkan banyak rakyat menderita dan hidup tidak bebas. Mereka hanya bekerja sebagai budak-budak dan petani. Ada keputusan-keputusan sinode gereja tahun 693 yang menyatakan bahwa ada sentimen terhadap orang Yahudi, kemudian pada tahun 694 diambil keputusan bahwa apabila ada seseorang yang belum dibabtis (konfersi keagamaan) katolik akan dijadikan budak.

Zaman berubah pada saat invasi Islam masuk Spanyol. Invasi Islam menduduki Spanyol dan Prancis. Invasi tersebut dimulai pada tahun 630 dengan penaklukan kota Makkah oleh Nabi Muhammad. Pada tahun 717 banyak permasalahan yang terjadi dalam masyarakat Cordoba karena terjadi perang Tours/Potiers pada bulan Oktober 732, banyak orang Islam diusir dari Spanyol dan Prancis.

Permasalahan itu memberikan segi positif bagi kebudayaan Arab, karena pada saat itu kebudayaan tersebut telah berkembang dan dapat dipelajari oleh orang Kristen dan Yahudi, sehingga mereka dapat berbahasa Arab dan Spanyol. Hubungan antar agama (Islam, Kristen dan Yahudi) dalam masyarakat Cordoba, ditulis oleh Irving yang menyatakan sebuah hubungan antar agama di Cordoba yang saling menghargai (2004 : 16)

Irving (2002 : 15) mengatakan demikian, “Bangsa Arab menunjukan toleransi yang sangat mendasar dari golongan ahli kitab, setelah penaklukan golongan orang Kristen, mereka menikmati kebebasan sipil dengan gereja, hukum, pengadilan, hakim, uskup dan kebangsaan mereka sendiri. Pemimpin Islam hanya menuntut hak untuk menyetujui pengangkatan uskup dan memanggil Dewan gereja.

Golongan Kristen di selatan yang meletakan senjata dibiarkan memiliki tanah-tanahnya, tetapi harus membayar jizjah atau pajak untuk mendapatkan hak memberi suara. Di utara mereka tetap memiliki perkebunan buah-buahan dan dapat ditanami tanaman jenis lain, kemudian mereka diwajibkan membayar kharaj.” Golongan Yahudilah yang benar-benar tertolong oleh penyerbuan Arab ini. Mereka menjadi orang merdeka dan secara aktif membantu bangsa Arab dalam memerintah Spanyol.

Abdurahman I yang disebut sebagai Abdurahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik (728-788) adalah pendiri Emirat Ummyyah di Spanyol. Bagaimana seorang pemimpin mampu mempertahankan kesatuan dan menjadi lebih maju? Pada tanggal 15 Mei 756, kebetulan hari jumat, Abdurahman menaklukan Cordoba dan mengatakan bahwa dia memplokamirkan dirinya sebagai penguasa dan dengan sungguh-sungguh berjanji akan menegakan keadilan bagi semua kelas.

Keadaan pada saat itu juga berubah drastis, ia membagi tiap daerah dan dipimpin oleh gubernur, ia membangun dinding tembok yang terkenal dengan ibu kota Cordoba, ia membangun masjid Agung al-Hamra di Cordoba, membangun pusat pendidikan, ia juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat dengan membuat saluran-saluran air untuk irigrasi.

Oleh karena itu, banyak aspek yang berkembang dan maju, seperti hubugan agama-agama yang melahirkan masyarakat sipil (madani), ekonomi, politik, pendidikan, perdagangan dan masalah tentang moral yang berkaitan dengan persahabatan dan persaudaraan di antara masyarakat. Sesudah berakhirnya pemerintahan Abdurahman I, banyak persaingan yang menyebabkan disintegrasi bangsa pada saat itu. Banyak pemberontak dari suku-suku Arab dan Berber yang menggoncang kesatuan pemerintahan Cordoba. Pada saat itu pemerintahan diganti oleh Abdurahman III. Dia membuat keputusan tegas di tengah gejolak disintegrasi yang terjadi dengan membuat sebuah keputusan mengenai posisi dan perannya dengan sebutan Khalifah (pembela agama Allah).

Peran tersebut membuat adanya benteng yang kuat terhadap pemerintahan yang dipegang oleh Abdurahman III. Melalui posisi perannya yang teratas di Ummayah Spanyol, ia mampu menyelamatkan Andalusia dari serbuan suku-suku atau agama lain. Ia juga memperbaiki sistem ekonomi yang kacau balau menjadi lebih tertata dan baik, dia memperkuat benteng pertahanan dari ancaman luar sehingga keamanan masyarakat menjadi kondusif.

Pemerintahan yang khas pada masanya adalah tidak adanya perbedaan dalam pembagian peran kekuasaan pemerintahan baik orang Islam, Kristen maupun Yahudi. Semua bisa dan boleh menjadi pemimpin ataupun gubernur di setiap wilayah atau daerah. Sistem pertahanan yang kuat berasal dari kesatuan antara suku Berber, Slav, dan orang Spanyol yang dulunya adalah budak yang diperalat oleh kekuasaan sebelumnya.

Menilik Masyarakat Indonesia

Sejarah Indonesia telah membuktikan betapa sulitnya membangun masyarakat yang plural. Ketika tumbangnya orde baru, banyak golongan yang memberikan aspirasi dan berjuang untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Bahkan banyak golongan dan daerah yang ingin menjadikan bangsa Indonesia menjadi Negara theokrasi (berdasarkan hukum Tuhan).

Saya menyadari bahwa ada perbedaan yang sangat mutlak antara masyarakat Cordoba dengan masyarakat Indonesia. Pertama, pemimpin Cordoba menerapkan hukum theokrasi, namun bukan berarti menjadikan agama lain untuk memeluk agama Islam. Selain itu, kedua, tidak ada motivasi dari pemimpin dan pejabat negara yang menganggap bahwa agamaku yang paling benar dibandingkan dengan yang lain. Karena hal itu hanya membuat perpecahan di masyarakat.

Mohammed Arkoun (1999 : 16) mengatakan bahwa Islam akan meraih kejayaan jika umat Islam membuka diri terhadap pluralisme. Pluralisme bisa dicapai bila pemahaman agama dilandasi dengan paham kemanusiaan, sehingga umat Islam bisa bergaul dengan siapapun. Negara Arab pun sebenarnya sudah belajar akan pemikiran humanisme yaitu sekitar abad ke 10, Istilah yang dipakai adalah Munadharah.

Yang terjadi di Indonesia justru sebalinya. Peraturan dan undang-undang justru mengganggu hubungan harmonisasi antar agama mulai dari SKB 2 Menteri, peraturan toa, dll. Kita terlalu memberikan perspektif personal agamis dalam tatanan peraturan pemerintahan, sehingga perpektif universal menjadi lenyap. Cara beragama hanya atributif, tanpa menyentuh hal-hal yang esensial (inti ajarannya).

Oleh karena itu, keterbukaan antara masyarakat menjadi langkah awal yang baik dalam membangun korelasi hidup beragama. Saya menyadari bahwa masyarakat Indonesia sudah banyak belajar pluralitas sejak dahulu kala. Hal ini terbukti dengan dengan pendirian candi prambanan (hindu) dan di sampingnya terdapat candi yang berasal atau bersumber dari agama budha. Ada juga masjid yang bersebelahan dengan gereja dan vihara, dll.

Jika kita mengingat kembali peristiwa 11 September 2001, bagaimana gedung WTC di New York Amerika Serikat hancur. Apakah Hal ini mengakibatkan wacana tentang Islam menjadi buruk? Apakah agama Islam selalu dipersepsikan sebagai agama yang melahirkan kekerasan dan terorisme? Apakah stigma ini akan terus menerus mencoreng wajah Islam yang ramah?

Jika hal ini benar-benar terjadi, maka agama Islam hanya menjadi alat legitimasi politik dan sarana mobilisasi massa. Agama hanya menjadi alat yang digunakan oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaan. Olaf Schuman mengatakan bahwa kerukunan beragama bukanlah tujuan akhir, sebab misi agama bukan semata menjalin kerukunan dan perdamaian semata, melainkan untuk memberikan pelayanan pada umat manusia agar tumbuh menjadi hamba-hamba Tuhan yang baik (2002 : 16).

Kehidupan umat beragama mestinya menjadi tiang penyangga persatuan bangsa dan pemberi solusi atas problem-problem sosial yang muncul (problem solver), bukannya malah menjadi komunitas yang justru menimbulkan sumber masalah bangsa (problem maker). Jika kita melihat pemerintahan masyarakat cordoba, maka untuk itu beberapa hal yang dapat digali adalah bagaimana di dalam kehidupan manusia, agama dapat memberikan penilaian etis moral dan spritual di bidang politik. Agama dapat menggunakan nilai-nilai universal untuk mempertahankan keutuhan masyarakat.

Agama dan negara harus melayani manusia (rakyat kecil). Agama dan negara berkewajiban menciptakan kerjasama yang sehat. Agama dan negara menghargai mereka yang memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Hanya dengan jalan ini, kita menjadi masyarakat yang beradab. Semoga.

Andreas Kristianto
Pegiat Oikumene Kemasyarakatan Jawa Timur, Penggerak Jaringan GUSDURian dan Aktif di isu isu Interfaith and Cultures Studies

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…