Jumat, Februari 26, 2021

Belajar dari Mikhail Bakunin tentang Konsep Tuhan dan Negara

Pengantar Melihat Problem Uyghur di Xianjiang China

Seorang muslim dituntut untuk selalu belajar dan berikhtiar, agar senantiasa dekat dengan Allah, menjalankan yang ma'ruf dan menjauhi kemungkaran. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh...

Merawat Demokrasi dengan Konstitusi

Sebagaimana lzim kita ketahui bersama, bahwa sistem di banyak pemerintahan dunia saat ini sudah bertransformasi dalam bentuk negara demokrasi. Pun dengan Indonesia, pasca era...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Culte de La Raison, ‘Agama’ Ateis yang Lahir dari Revolusi Prancis

Beberapa orang menganggap bahwa agama adalah sarana menyembah bentuk-bentuk ilahi. Dan syarat sebuah agama adalah memiliki figur ilahi yang disembah. Namun, dalam satu waktu...
Imron Maulana
Penulis lepas yang aktif sebagai pegiat literasi di Komunitas Pamekasan Membaca (KOMPAK) dan mahasiswa aktif Pascasarjana IAIN Madura.

Sehari lalu terjadi perbincangan yang cukup seksi di grup WA kampung saya. Grup yang biasanya hanya berisi candaan-candaan biasa, hari itu terjadi perbincangan yang cukup dalam. Menyoal tentang tatanan pemerintahan di Kabupaten Pamekasan.

Mulanya perbincangan itu terjadi ketika saya men-share berita dari kompas tentang curhatan orang nomer satu Pamekasan, ia menyatakan dalam curhatannya bahwa ada kelompok demonstran yang mengancam dan meminta proyek.

Perbincangan menjadi hangat karena salah satu dari anggota grup salah seorang aktivis yang tidak sepakat dengan pernyataan orang nomer satu tersebut. Hingga mengalirlah perbincangan itu dengan begitu seksinya. Ya, meskipun pandangannya, bagi saya, yang dilontarkan masih menggunakan perasaan.

Baik, tulisan ini sebenarnya bukan untuk membahasa persoalan di atas. Jauh dari itu, saya ingin mengajak untuk merenungi konsep Tuhan dan negara menurut Mikhail Bakunin. Kira-kira peran tuhan dan negara bagi Bekunin itu apa? Dan gerakan massa terhadap negara itu seharusnya bagaimana?

Pada buku Tuhan dan Negara Bakunin berbicara soal negara. Melalui buku tersebut Bakunin hadir sebagai nabi untuk kalangan buruh dan kaum intelektual radikal Eropa dengan gerakan revolusionernya, yang kemudian disebut Anarkisme. Namanya melejit dan sama terkenalnya dengan Karl Marx, kedunya sama-sama berjuang memperebutkan kepemimpinan oraganisasi internasional pertama.

Menjadi pembeda dari Marx, Bakunin lebih memilih menenggelamkan dirinya pada lautan pergerakan bukan berenang sebagai teoritis pemberontakan seperti Marx. Sebagai pejuang revolusioner ia meninggalkan jabatannya sebagai seorang militer dan kebangsawanannya. Sejak tahun 1840 ia mewakafkan hidupnya untuk berperang melawan tirani seperti apa pun bentuknya.

Kesukaannya sebagai petualang di luar perpustakaan ia meluapkan kegembiraannya dengan ikut aksi 1848. Kemudian ia tumbuh sebagai tokoh Promethean yang tumbuh bersama pasang surut pemberontakan mulai dari Paris hingga brikade-brikade Prusia dan Jerman. Sederhananya, “yang tumbuh dalam musim badai dan didewasakan tornado  jauh lebih baik daripada hidup dibawah sinar matari”.

Bakunin memandang negara dan agama mempunyai relasi yang sama, dimana agama dan negara mempunyai misi sama untuk menindas manusia. Terbukti dari pandangannya terhadap kisah Adam dan Hawa yang dilarang untuk mendekati pohon pengetahuan. Kata Bakunin pelarangan tersebut usaha Tuhan agar manusia selalu miskin dari segala kecerdasan dan pengetahuannya, serta selalu tunduk patuh dihadapan Tuhan. Darisanalah muncul langkah-langkah setan, pemberontak abadi, pemikir, dan emansipatoris pertama dunia.

Begitupun dengan negara, dari sejarah nenek moyang manusia itu para penguasa agama dan negara memanfaatkan kekuasaannya mengabadikan perbudakan bangsa-bangsa. Sehingga tak diragukan lagi penguasa agama dan negara lebih mudah menipu masyarakat.

Namun para penguasa agama dan pemerintah mengajarkan kutukan terhadap Adam dan Hawa tersebut merupakan penunjukan keadilan dan merupakan perbuatan agung Tuhan. Dari penanaman ini pemerintah dengan dalih “pengadaban manusia” sebenarnya sedang meracuni manusia secara sistematis dan membodohi yang penuh dengan kepentingan.

Bagi Bakunin untuk pembangunan manusia ada tiga prinsip fundamental yang lebih esensial. Pertama, sifat kebinatangan manusia; kedua, pemikiran; dan yang ketiga, pemberontakan. Dari ketiga perinsip tersebut berturut-turut menyentuh kondisi individu dan sosial, pengetahuan atau sain, serta kebebasan.

Sangat disayangkan oleh Bakunin dari tiga hal tersebut tak pernah disentuh oleh kaum borjuis, agamawan, politisi, ekonom, idealis dan yang lainnya. Bahkan sering melukai hati manusia dengan menganggap manusia yang cerdas, kreatif, inspiratif, aspiratif yang tak terbatas dianggap sebatas  manusia yang tak lebih dari makhluk-makhluk lain di bumi.

Sehingga pembodohan secara sistemik terus digencarkan oleh pemerintah. Dengan bersekutu dengan kaum agamawan agar terus beriman kepada Tuhan sang pencipta, hakim, pengatur, juru selamat, dan pemberi rezeki bagi dunia yang keyakinan ini banya disebar pada kaum proletariat pedasaan dari pada proletariat kota. Gerakan ini sebagai dalih agar masyarakan jauh dari kegiatan intelektual dan bacaan, serta dari segala hal yang merangsang kuriositasnya untuk lebih berkembang dan maju.

Racun pikiran dalam segala bentuk terus ditanamkan oleh para agamawa dan pemrintah, sehingga terbangun tradisi-tradisi yang acap kali melemahkan akal sehat masyarakat. Dalam arti lain kehidupan mereka terbatasi bagaikan seorang tahanan tanpa cakrawala, tanpa hasil, bahkan tanpa masa depan.

Kata Bakuni ada tiga metode untuk memusnahkan kesenjangan sosial semacam ini. Yang dua bersifat fantasi (Gereja dan Bar) dan yang satu lagi bersifat riil (revolusi sosial).  Melalui Gereja dan Bar manusia bisa menghilangkan sejanak permasalahan soasia denga pesta pora pikiran dan pesta pora pikiran.

Dan melaui revolusi sosial, kata Bakunin, merupakan langkah nyata dan lebih kuat untuk membunuh kepercayaan atas agama dan kebiasaan buruk. Dalam rangka mengganti kesenangan-kesenangan ilusionis dan brutal dari penyimpangan tubuh dan spiritual. Artinya, melalui revolusi sosial kekuatan untuk menutup geraja dan bar secara tuntas.

Sekaligus dengan cara ini masyarakat akan menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh. Sampai pada akhirnya sudah tidak memiliki kepercayaan. Kecuali kepercayaan bersama bahwa sebagai hamba Tuhan, manusia hanya menjadi hamba gereja dan negara, sepanjang negara ditasbihkan oleh gereja. Sehingga terbentuklah idiom dari merka “Jika Tuhan ada, maka manusia adalah budak. Artinya, jika manusia ingin dan harus bebas, maka Tuhan tidak boleh ada.”

Pertanyaan seriusnya kemudian, dengan kembali pada kasus pada alinea pertama. Jika para revolusioner melakukan absurditas yang sama dengan pemerintah akan dipercayakan kepada siapa negara ini?

Imron Maulana
Penulis lepas yang aktif sebagai pegiat literasi di Komunitas Pamekasan Membaca (KOMPAK) dan mahasiswa aktif Pascasarjana IAIN Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.