OUR NETWORK

Belajar dari @Katolik Garis Lucu

Mengapa saya sebut tak kalah elegan?

Saya sangat gembira. Kegembiraan itu tak bisa saya tutup-tutupi. Betapa tidak, saya melihat betapa kita sebenarnya potensial untuk beragama secara spritual, bukan  semata ritual.

Itu sesaat setelah Dedy Corbuzier resmi berpindah agama dari Katolik ke Islam, akun yang menamakan dirinya @Katolik Garis Lucu mencuitkan kalimat elegan: hari ini kami serahkan @corbuzier ke @NU Garis Lucu untuk selanjutnya silakan disunat dan diarahkan.

Seumur-umur, mungkin karena referensi pengalaman saya masih pendek, saya belum pernah melihat perpindahan agama yang cenderung lebih banyak ademnya daripada ributnya.

Seperti kita tahu, setiap perpindahan agama, terutama kalau itu menyangkut selebritas, lebih sering disahuti netizen dengan komentar “perkelahian” daripada “perdamaian”. Cuitan @Katolik Garis Lucu ini lantas disambar @NU Garis Lucu dengan kalimat yang jauh tak kalah elegan pula: siap, ndan.

Ajaran-ajaran baik dari sampean tetap kami pertahankan. Mengapa saya sebut tak kalah elegan? Karena @NU Garis Lucu, menurut saya, paling tidak dalam dua hal sangat menghormati agama lain. @NU Garis Lucu, misalnya, menyapa @Katolik Garis Lucu dengan sebutan “Ndan”.

Sebutan ini bukan semata sapaan untuk rendah hati, tetapi lebih pada pengakuan bahwa meski berbeda ideologi, orang lain tetap pantas untuk ditinggikan. Ada aroma saling menghargai di sana, sikap yang kini sudah semakin luntur dari kita.

Kedua, yang paling berkelas menurut saya, @NU Garis Lucu menyebut begini: ajaran-ajaran baik dari sampean tetap kami pertahankan. Kalimat ini, mungkin karena saya Katolik, begitu sangat mengharukan. Alih-alih merasa kehilangan teman, saya justru merasa disanjung.

Tidak Percaya Diri

Disanjung karena tidak hanya mengakui, umat Islam melalui cuitan @NU Garis Lucu, juga konon akan mempertahankan ajaran-ajaran baik dari Katolik. Di sini saya paham, masing-masing agama sebenarnya tak bersinggungan, tetapi sangat beririsan, terutama dalam hal nilai dan moral.

Sayangnya, penganut agama kita sering malah saling menyinggung. Walau begitu, sikap saling menyinggung ini bukan sesuatu muncul begitu saja. Sedikit banyak itu terjadi karena pemuka agama kita sering menjelek-jelekkan agama lain dengan terminologi “agama sebelah” melalui mimbar khotbah atau ceramah.

Soalnya, pemuka agama kita seperti tak percaya diri pada nilai-nilai agamanya sehingga harus turut campur menjelek-jelekkan agama lain. Imbasnya, sepulang mendengar khotbah atau ceramah, alih-alih semakin cinta pada “agama sebelah”, umat justru semakin curiga.

Selain itu, pemuka agama kita juga sering kali terlalu percaya diri pada agamanya. Percaya diri yang terlalu ini, celakanya, jatuh-jatuhnya malah membuat mereka pongah sehingga menganggap bahwa satu-satunya jalan menuju surga adalah agamanya sendiri.

Karena itu, pemuka agama kita sering mengajak agar umatnya mencari umat dari “agama sebelah” dengan dalih sebagai satu-satunya kendaraan untuk masuk surga. Sayangnya, pada saat yang sama, “agama sebelah” juga menganggap agama lain sebagai agama yang sesat.

Artinya, selama ini, kita beragama adalah untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Kita fokus mencari pertambahan umat (kuantitas), bukan ketajaman iman dan moral (kualitas). Sudah seharusnya kita berhenti beragama untuk orang lain.

Sederhana saja, jika kita selalu beragama untuk orang lain, maka selama itu pula agama hanya sumber peperangan dan kekacauan. Karena itu, ayo, marilah beragama untuk diri sendiri. Lagipula, cara terbaik untuk beragama adalah bukan menobatkan orang lain, tetapi memastikan bahwa kita hidup dengan seperangkat nilai-nilai kemanusiaan.

Itu persis dengan ilustrasi ini: cara terbaik untuk selamat adalah memastikan diri sendiri sudah selamat, bukan malah sok-sok menyelamatkan orang lain pada posisi kita saja belum tentu selamat.

Maksud saya, kita harus sadar, agama bukan kendaraan yang otomatis berhenti di surga. Dengan kata lain, kita harus mempunyai kepercayaan alternatif: bahwa selain kebenaran kita, ada juga kebenaran yang lain. Untunglah @NU Garis Lucu dan @Katolik Garis Lucu sudah melakukannya.

Paling tidak, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kedua akun tersebut. Apa itu? Nah, sebelum meneguk pelajaran penting itu, kita harus sepaham dulu soal ini:  bahwa kedua akun itu bukan soal gagah-gagahan seberapa banyak pengikutnya di medsos.

Jadi, kedua akun itu tak bisa disederhanakan, apalagi disepelekan hanya karena masih ada akun personal selebritas atau pesohor lainnya yang pengikutnya jauh lebih banyak. Soalnya, adalah benar bahwa ada banyak akun personal yang jauh lebih populer daripada kedua akun itu.

Tetapi, sekali lagi, kita harus sepaham, kedua akun itu bukan cerminan dari personal. Kedua akun itu adalah cerminan institusional dari Katolik dan NU. Itulah mengapa ketika keduanya saling berbalas cuit, netizen kita langsung merasa adem seadem-ademnya.

Andai akun itu perwakilan dari personal, saya tak yakin bahwa netizen akan seadem itu. Artinya terang: kita tak butuh kerja keras agar setiap warga bisa adem dan mengademkan. Andai institusi sudah hadir dengan terang, umat akan membacanya pula dengan terang.

Turunannya, andai setiap pemuka agama kita adem dan mengadenkan, adalah mustahil jika umat akan saling berkelebat. Maka, jika kini masih terjadi peperangan terselubung atau telanjang, sudah pasti itu adalah karena pemuka agama kita benar-benar gagal tidak hanya sebagai pemuka agama, tetapi juga sebagai manusia yang beragama.

Nikmatnya Beragama

Lihatlah kembali cuitan itu. Dari sana kita akan meneguk himah betapa nikmatnya beragama secara lucu. Secara lucu bukan berarti menjadikan agama sebagai lelucuan.

Secara lucu artinya menjalani agama dengan riang, bukan tegang; mendalam, bukan radikal; secukupnya, bukan malah overdosis; spritual, bukan sebatas ritual. Kita harus mengakun bahwa selama ini, kita sudah terlalu tegang dalam beragama. Akibatnya, perpindahan agama sering kali dicurigai sebatas kalah-menang.

Selama ini kita sudah overdosis agama. Akibatnya, semua hal dipandang dari kacamata agama, termasuk nomenklatur pulau-pulau, misalnya. Selama ini, kita terlalu radikal. Akibatnya, kita tak bisa menyelam, tetapi justru tenggelam sehingga banyak ekstremisme dan terorisme.

Yang lebih sadis, selama ini kita menyederhanakan ketertunaian agama adalah soal ritual. Seakan jika sudah berdoa sesuai perintah agama, maka kita sudah beres dalam beragama. Padahal, agama itu bukan ritual.

Agama itu bukan tentang mulut yang merapal doa, bukan tentang tangan yang terkatup, bukan tentang tubuh yang tertunduk. Itu semua hanya ritual untuk tidak menyebut gerak tubuh atau senam biasa.

Beragama itu harus mendalam: urusan spritual, yaitu ketika kita sudah mahir memandang betapa Tuhan itu tidak hadir dalam rupa yang monoton, dalam wajah yang homogen, tetapi hadir dalam keberbagaian. Semoga akun-akun institusional mencontoh akun @Katolik Garis Lucu dan @NU Garis lucu supaya setiap umat beragama secara riang dan senang sehingga negara ini pun adem!

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…