OUR NETWORK

Belajar dari Ahmad Wahib Di Pinggir Waduk

Di antara sekian banyak pertanyaan yang menggetarkan dalam Pergolakan Pemikiran Islam catatan harian Ahmad Wahib, ada satu bagian yang mustahil saya lupakan: “… Aku tak tahu, apakah Tuhan sampai hati memasukan dua orang bapakku itu ke dalam api neraka? Semoga tidak.” (September, 1969)

Ahmad Wahib lahir pada 9 November 1942 di Sampang, Madura. Ia dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang sangat islami. Bapaknya sendiri adalah tokoh agama. Ia adalah jebolan pesantren dan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Meski demikian, semua itu tak menghalangi Wahib selama menjadi mahasiswa untuk memilih tinggal di Asrama Mahasiswa Realiano yang diasuh romo-romo Katolik.

“Dua orang bapakku” dalam pertanyaan Wahib di atas merujuk pada sosok Romo HC Stolk dan Romo Willenborg. Yang pertama adalah rektor Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan dan yang kedua adalah orang yang pernah mengasuh Wahib selama tiga tahun di Realiano. Keduanya adalah orang yang dihormati Wahib karena, bukan hanya telah mengasuhnya selama di Yogyakarta, namun juga mengajarkan arti kebaikan tanpa mengenal identitas.

Ketika Wahib menuliskan pertanyaan di catatan hariannya, ia menikmati memori kemesraan hubungan bapak dan anak beda agama sekaligus gamang dengan ajaran agamanya karena tidak ada kafir yang bisa masuk ke surga Tuhannya.

19 Juli lalu, saat saya dan teman-teman dari Gusdurian menemui Darsono di Kampung Kedungpring di pinggir Waduk Kedungombo, Kabupaten Boyolali, saya langsung teringat kegamangan Ahmad Wahib.

Darsono adalah satu dari banyak warga yang tergusur proyek pelebaran Waduk Kedungombo sejak 1989. Ia dan warga kampung harus bedhol desa ke tempat yang lebih tinggi setelah semua rumah mereka dihanyutkan.

Seperti Wahib, Darsono adalah seorang muslim yang punya hubungan baik dengan para romo. Bedanya, Wahib adalah seorang intelektual muslim yang punya banyak akses pengetahuan untuk mengenal pluralisme, sementara Darsono hanyalah seorang warga kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kami perlu melewati jalan Kacangan-Kedunpring yang penuh tanjakan dan turunan dengan kondisi aspal yang bolong-bolong selama empat jam lebih untuk sampai ke rumah Darsono.

“Romo Mangun dulu sering sekali ke mari,” ujar Darsono sembari jari telunjuknya mengarah pada foto yang tertempel di dinding. Di foto itu, tampak Darsono dan beberapa tetangganya berdiri di samping Romo Mangunwijaya. Di samping foto itu, kopian tulisan tangan Romo Mangun untuk warga Kedungpring dibingkai sederhana. Isinya kurang lebih: jangan menyerah, keadilan pasti akan datang.

Menjadi korban penggusuran di daerah terpencil dan tak punya kekuatan secara politik maupun hukum adalah masalah warga Kedungpring. Banyak orang membantu sebisanya, termasuk Romo Mangun, Romo Yatno, dan Gus Dur. Mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga tempat tinggal dan tempat ibadah diusahakan oleh mereka yang peduli.

“Masjid di pinggir waduk itu salah satunya,” kisah Darsono. Ia melanjutkan cerita soal Romo Yatno yang selama hidupnya—terlebih setelah meninggalnya Romo Mangun—rajin berkunjung ke Kedungpring. Kadang membawa biji-bijian untuk ditanam warga, kadang membawa bahan-bahan material untuk pembangunan masjid, kadang datang untuk sekadar bertegur sapa.

Dua hal terakhir di atas adalah tujuan kami ke Kedungpring. Empat belas hari sebelum lawatan kami, Romo Yatno meninggal dunia. Salah satu pesan yang dititipkan kepada teman-teman di Gusdurian adalah melanjutkan nazar Romo Yatno ikut membantu pembangunan masjid untuk warga Kedungpring.

Di sepanjang perjalanan pulang, saya termenung mengingat kisah-kisah warga Kedungpring. Sebuah gerakan sosial yang tak pandang kamu siapa dan agamamu apa. Perbedaan agama tidak menjadi alasan untuk saling curiga. Warga Kedungpring yang mayoritas muslim tak menolak, bahkan membuka dengan hangat, siapapun yang hendak berkawan dengan mereka.

Sementara itu, di tempat lain orang-orang sedang hobi mencerca. Bukan hanya kepada yang berbeda agama, bahkan yang saudara seiman pun tak lepas dari perkara. Berbeda sedikit langsung dicap bid’ah. Lebih sial lagi langsung dicap kafir. Dan perbincangan itu, saudara-saudara, bakalan kita temukan setiap hari di sosial media; menumpuk bersama ratusan foto selfie yang tercipta dan membanjiri mereka-mereka yang hidup dan tengah berkembang sebagai generasi milenial.

Beruntung, iklim seperti ini tidak, atau setidaknya belum sampai di Kedungpring. Membayangkan hidup jauh dari keriuhan media sosial, seperti warga di sana sepertinya menentramkan. Menjadi muslim tak menghalangi bersosial dengan mereka yang berbeda agama. Menjadi muslim bukan sekadar kosmetik melainkan mempraktikkan nilai-nilai yang menjungjung tinggi kemanusiaan dan menghargai perbedaan.

Di catatan yang berbeda (November 1972), Ahmad Wahib pernah menuliskan kegelisahannya tentang “[…] sikap sok suci, penafsiran moral yang sangat sepihak, dan kebiasaan melakukan generalisasi dengan mudah,” yang kala itu ia rasakan. Lanjut Wahib, “Semua ini tidak menyuburkan sikap toleran, apalagi bila kemudian dipertegas oleh pidato-pidato para pemimpin dan mubaligh.”

Jika saja Wahib masih hidup kali ini, saya rasa ia tidak akan keberatan untuk kembali mengulangi kata-katanya, karena nyatanya, kegelisahannya masih dan semakin dirasakan orang-orang. Kegelisahan tentang agama-agama yang hanya menekankan tentang pedihnya neraka belaka. Kegelisahan tentang sebagian pemimpin dan mubaligh yang hadir bukan untuk meredam kemarahan atas nama agama, namun malah mempromosikannya.

Penggiat Islami Institute Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.