Senin, Januari 25, 2021

Belajar Birokrasi Ideal Dari Taylor

Kurt Cobain, Grunge, dan Feminisme

Menikmati musik rock bagi sebagian orang dapat membangkitkan mood mereka pada saat bekerja bahkan mampu membelalakan mata saat mengantuk. Dentuman drum yang bertalu-talu dengan tempo yang...

Pola Perilaku Masyarakat Selama Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama pada 2 Maret lalu, kini kasus positif Indonesia telah mencatatkan lebih dari 34 ribu kasus (6/10). Sampai saat ini kurvanya...

Panggung Kaum Intelektual, Roboh?

Sejak berdirinya NKRI tercinta ini, kaum intelektual mendapatkan posisi yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tulisan-tulisannya diterbitkan oleh surat kabar, yang tidak...

Memaknai Kesedihan dan Hoaks dalam Musibah Lion Air JT 610

Isak tangis kesedihan menyelimuti langit Indonesia. Pesawat komersial milik maskapai penerbangan Lior Air jenis JT 610, rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di Teluk Karawang, Senin...
Fahmi_Muhammad
Mahasiswa Magister Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada

 

Frederick Winslow Taylor, merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia manajemen, ia dilahirkan dari keluarga yang cukup berada di kawasan Philadephia Amerika Serikat. Diriwayatkan dalam buku Classic Of Public Administration Karya Shafritz bahwa Taylor ketika merenung di serambi rumah sambil minum kopi ia melihat semut-semuat hitam tengah melakukan pembagian sektor untuk menjalankan tugasnya masing-masing untuk mencari persediaan makanan, lalu ia berpikir bahwa semut itu sedang melakukan aktifitas perindustrian.  Wajar Taylor berpikir ke arah sana karena ia seorang insinyur mesin sebelum menjadi ahli manajemen.

Dari hasil renungan tadi Taylor menemukan sebuah gagasan tentang ilmu manajemen, ia berpikir semut saja bisa melakukan itu apalagi manusia yang dikaruniai akal pikiran yang sempurna, hingga akhirnya Taylor terkenal dengan karyanya scientific management.  Yaitu hal-hal yang mengatur segala urusan manajemen dengan metode ilmiah, tujuannya adalah agar sebuah organisasi tertata dan menghasilkan output yang baik dengan spesifikasi kemampuan yang dimiliki masing-masing karyawan atau pekerja.

Namun tidak sepenuhnya harapan Taylor dapat terwujud di Indonesia, kita dapat melihat disaat negara sedang gencar-gencarnya melakukan sayembara untuk mencari pelayan rakyat tepatnya pada senin (11/9/2017). Dengan jumlah formasi untuk Kementerian/Lembaga, termasuk untuk putra/putri lulusan terbaik (cumlaude/dengan pujian) sebanyak 1.850, penyandang disabilitas sebanyak 166, serta putra/putri Papua dan Papua Barat sebanyak 196 (Tirto, 11/9/2017). Dengan proses tahap seleksi yang cukup ketat melalui beberapa tahap. Sejatinya proses ini membuat para calon pelayan masyarakat menjadi lebih bermutu dan mempunyai spesifikasi khusus dalam bidangnya masing-masing.

Pada kenyataannya proses ini tidak semata-mata dapat menghilangkan kecurangan tersebut hanya sedikit mengurangi saja, kecurangan masih terjadi dimana-mana di berbagai daerah dari mulai ditemukannya seseorang yang membawa telepon genggam, contekan, buku, sampai yang berbau kelenik. Jelas sangat menghawatirkan jika seorang calon pelayan rakyat diamanatkan pada orang yang salah yang seharusnya menjadi para normal bukan seorang intelektual. Parahnya lagi praktek kecurangan tidak hanya terjadi secara kasat mata namun juga secara tidak kasat mata bak sebuah pertarungan paranormal yaitu masih banyaknya praktek percaloan yang dilakukan oleh internal penyelenggara atau para mafia (calo).

Sangat tidak pantas kejadian ini terjadi untuk seorang calon pelayan rakyat yang harus mempunyai integritas, kredibilitas, dan akuntabilitas yang tinggi dicurangi dengan hal-hal yang tidak perlu seolah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) adalah harga mati, bagaimana bisa menjadi pelayan yang baik jika kejadian ini terus terulang setiap diadakannya seleksi calon  PNS. Seolah Taylor sia-sia saja dalam membuat sebuah teori yang diperuntukan untuk perbaikan sistem birokrasi agar birokrasi menjadi lebih baik.

Fahmi_Muhammad
Mahasiswa Magister Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.