Sabtu, Januari 16, 2021

Belajar agama di Era Digital dan Lima Guru Agama di Era Kolonial

Pemilu Partisipatif untuk Pemilu Demokratis

Integritas penyelenggara dan proses penyelenggaraan Pemilu adalah prasyarat penting dalam Pemilu, agar hasil dari pelaksanaan pemilu mendapat legitimasi secara konstitusional dari seluruh rakyat. Dalam kaitan...

Puasa dan Titik Temu Antar Agama

Puasa adalah salah satu dari ibadah pokok (mahdhah) yang diwajibkan dalam Islam. Kewajiban ini tertera dengan jelas dalam al-Qur’an melalui firman-Nya: “Hai orang-orang yang...

Silang Kusut Pergub Ala Anies Baswedan

Tidak berlakunya pembebasan Pajak bagi NJOP dibawah 1 Milyar yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies baswedan menuai kontroversi. Banyak warga Jakarta sebagai peserta...

Kitab Suci Memang Fiksi?

Tahun lalu, dalam sebuah forum diskusi mingguan berjudul “Jokowi-Prabowo Berbalas Pantun”, yang diselengarakan Indonesia Lawyers Club, Rocky Gerung, dengan konsep fiksinya, menggemparkan masyarakat Indonesia. Hal...
Ahmad Umam Aufi
Pembaca apapun

Memasuki era digital, masyarakat begitu mudah mengakses informasi dan pengetahuan. Termasuk informasi dan pengetahuan tentang agama Islam. Bahkan, tanpa aktif mencari, banjir informasi datang secara mandiri. Tidak mengherankan jika kemudian ada guyonan “tanya ke syekh google atau ustadz youtube”. Semua materi keagamaan tersedia, baik dari cara membaca Al Quran hingga belajar menempuh jalan makrifat.

Persoalannya kemudian, guru-guru yang muncul dari ketikan mesin pencari di internet tidak memberikan jaminan atas validitas kebenaran informasi yang disampaikan. Tidak ada sanad pengetahuan yang bisa dibuktikan validitasnya. Meskipun sudah mulai banyak juga para kiai, cendekiawan muslim yang menggunakan media digital dalam mengajarkan agama.

Otoritas keilmuan dengan demikian menjadi pudar. Kepakaran seseorang atas agama bisa saja dikalahkan dengan hanya popularitas seseorang yang memiliki jutaan subscriber atau follower di media sosial. Ini bertolak belakang dengan bagaimana dulu agama Islam diajarkan. Kualitas seorang tokoh atau guru agama menentukan materi agama apa yang mereka ajarkan. Sehingga pola pendidikan agama mengalami kekacauan.

Dahulu, masyarakat Islam belajar agama kepada beragam guru agama sesuai kompetensinya masing-masing. Karel Streenbrink dalam Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, secara umum terdapat lima guru agama di abad ke-19, yaitu:

1. Guru Ngaji Qur’an.

Tugas guru ngaji yaitu menyampaikan pengajaran huruf Arab, rukun Islam, salat dan membaca juz ‘amma. Setelah selesai murid tidak mendapatkan ijazah, tetapi melaksanan tammatan yang dibarengi dengan khitan. Dalam pengajian ini, pendidikan ibadah lebih ditekankan dibanding pendidikan sosial dan moral.

2. Guru Kitab.

Guru kitab yang dimaksud ialah para kyai pesantren. Mereka mengajarkan agama secara mendalam. Pendidikan di pesantren, biasanya dilakukan di luar kota besar.

3. Guru Tarekat.

Para kiai pesantren, selain mengajarkan kitab, juga mengajarkan tarekat. Murid-muridnya biasanya berusia lebih tua dibanding santri biasa. Hubungan antara murid dan guru dibina mulai pengajian Al-Qur’an, kitab dan semakin erat pada pengajian tarekat. Selain itu, tidak semua orang bisa menjadi guru tarekat. Serang guru tarekat harus memiliki ijazah yang bersambung sanadnya sampai pendiri tarekat.

4. Guru untuk Ilmu Ghaib, Jimat dan lain-lain.

Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh guru kitab dan guru tarekat. Ia memiliki semacam rajah atau amalan yang biasanya dibutuhkan oleh masyarakat awam.

5. Guru yang Tidak Menetap.

Guru ini lebih dikenal sebagai istilah kiai keliling. Ia terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama orang Arab/ Indonesia yang keliling ke suatu tempat untuk mencari jamaah haji sambil berceramah dan berjualan jimat, air zamzam dan tasbih. Kelompok kedua adalah golongan pertapa dari goa satu ke goa lainnya dengan ditemani beberapa murid pilihannya.

Dari kelima guru agama di abad 19 terdapat pola pendidikan masyarakat muslim di Jawa. Pendidikan mereka dimulai dari belajar mengaji Al Quran dan tata cara beribadah dengan guru ngaji Al-Quran. Setelah rampung, mereka dikhitan dan biasanya melanjutkan pergi belajar ke pesantren. Disanalah mereka menimba ilmu agama kepada guru kitab.

Setelah lama belajar di pesantren, para santri berbaiat pada guru tarekat yang memiliki sanad yang terhubung dengan pendiri tarekat. Biasanya para guru tarekat ini juga menjadi pengasuh atau kiai di sebuah pesantren. Dari laku lampah (suluk) inilah para guru-guru tarekat memiliki karomah-karomah yang membentuk kharisma diri seorang ulama. Mereka disegani karena keistikamahannya dalam mengamalkan ajaran agama.

Bahkan, banyak dari para guru tarekat memiliki amalan-amalan dan rajah yang biasanya digunakan untuk jawaban sebagai bantuan atas persoalan hidup yang dialami masyarakat awam. Pembentukan seorang ulama di abad 19 ditempa dengan sedemikian runtutnya. Mereka berguru kepada para ulama yang memiliki kompetensi atas kepakaran ilmu agamanya masing-masing.

Jika dibandingkan sekarang, seseorang yang hanya bermodal kemampuan membaca Al Quran dan terjemahannya bisa menjadi guru dan menjawab pertanyaan keagamaan apapun. Tidak ada jenjang dan level pendidikan di era digital. Batas-batas kepakaran hilang dan guru baca tulis Al Quran di era ini bisa saja lebih populer dan diikuti mayoritas umat Islam. Tanpa reputasi sanad keilmuan dan proses penggemblengan oleh seorang ulama.

Ahmad Umam Aufi
Pembaca apapun
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.