OUR NETWORK

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses nalar hanya berperan sebagai pelayan dari naluri, emosi, dan tujuan-tujuan biologis lainnya, bukan sebagai majikan dari beberapa hal tersebut.

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan intelektual.

Mencari sebuah problem solve serta penelusuran kebenaran sebagai titik utama dari proses yang memiliki latar belakang diskursus platonis ini cukup memberikan dampak bagi setiap manusia di dunia.

Sebab, secara psikologis tujuan berpikir mencakup suatu proses otak dalam menerima informasi yang kemudian diolah secara matang sehingga menciptakan suatu pattern wacana keilmuan baru, atau bisa juga dalam upaya merekonstruksi pengetahuan lama yang dianggap masih fleksibel dalam urusan pemecahan masalah.

Di samping itu, manusia hingga saat ini masih memiliki kecenderungan menerima secara luas beberapa informasi dari media sosial, khususnya terkait wacana politik dan problem sosial yang selalu beredar deras dari waktu ke waktu.

Sehingga hal itu membuka kemungkinan bagi mereka untuk menciptakan kualitas pola berpikir yang rendah, tidak menjunjung tinggi kaidah kebenaran informasi, serta menimbulkan nilai-nilai oportunistik dalam masing-masing individu.

Pola berpikir demikian akan semakin memprihatinkan apabila sudah menjadi culture dalam sebuah masyarakat, karena masing-masing akan menjadi korban dan korban-korban tersebut akan terus mencari korban selanjutnya, begitupun seterusnya.

Keprihatinan dalam kasus ini menjadi pelajaran bagi setiap manusia dalam upaya menciptakan proses berpikir yang akurat. Tentu tidak semudah yang dibayangkan, karena pada realitasnya seringkali kita juga terjebak ke dalam nalar logika sempit yang dihasilkan oleh stimulus pada otak kita.

Perlu diketahui, Donald B.Calne, seorang ahli neurologis dari University of British Columbia dalam bukunya “Batas Nalar” mengidentifikasikan bahwa proses nalar hanya berperan sebagai pelayan dari naluri, emosi, dan tujuan-tujuan biologis lainnya, bukan sebagai majikan dari beberapa hal tersebut.

Nalar hanya berfungsi meningkatkan mutu cara kita melakukan sesuatu, bukan menjadi patokan mengapa kita melakukan sesuatu tersebut. Tentu posisi dari nalar berpikir manusia banyak dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan biologis dan faktor lingkungan di sekitar, seperti kepentingan pribadi dalam menciptakan manuver wacana terhadap lawan berpikir, bahkan naluri menjatuhkan prestise seseorang yang dianggap tidak sesuai dengan pemikirannya menjadi salah satu dari beberapa nalar berpikir tidak bisa digunakan secara tepat.

Oleh karenanya, kebanyakan dari kita belum bisa memprioritaskan fungsi otak dalam proses berpikir yang menghasilkan pola pengetahuan baru yang otentik dan dapat dipertanggungjawabkan keorisinilannya.

Jalaluddin Rakhmat juga menjelaskan bahwa kesalahan berpikir seseorang disebutnya sebagai intellectual cul de sacs yang sudah berakar dari individu ke individu lain, dari satu otak ke otak lain yang tanpa kita sadari kesalahan tersebut sudah menggelar identitas dalam praktik berpikir kita.

Jalaluddin Rakhmat kemudian membedakan kesalahan berpikir manusia ke dalam tujuh macam. Pertama, fallacy of dramatic instance, yakni pengambilan satu atau dua kasus dalam upaya mendukung argumen kita. Misalnya “saya menganggap bahwa siswa yang berkacamata adalah siswa yang pintar, sebab di kelas saya, nilai terbaik diraih oleh teman saya yang menggunakan kacamata”.

Pola berpikir seperti ini sangat sulit untuk dipatahkan karena sumber pengetahuan berasal dari pengalaman pribadi yang secara psikologis manusia akan mencoba membentuk defense mechanism dengan berbagai cara agar terhindar dari kesalahan argumen nya tersebut. Kedua, fallacy of retrospective determinism, yakni pola berpikir deterministik yang menganggap bahwa kejadian sekarang tidak bisa terhindarkan atau sebagai akibat dari proses sejarah.

Misalnya “kemiskinan tidak dapat dihilangkan karena hal itu sudah terjadi dari dampak perang dunia, solusinya bukan menghilangkan kemiskinan, tapi melokasikannya di beberapa tempat terpencil”. Pola berpikir seperti ini cenderung kembali ke belakang, mencoba merelevansikannya dengan proses masa lalu yang menjadi penyebab kejadian tersebut timbul saat ini.

Ketiga, post hoc ergo propter, yakni memandang bahwa kejadian bersifat temporal. Pola berpikir ini memiliki asumsi bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua, si A datang setelah si B, maka A dianggap sebagai sebab dan B sebagai akibat.

Misalnya “seorang ilmuwan mendapatkan jadwal untuk mengisi kuliah tamu di salah satu universitas, tetapi kegiatan tersebut gagal berlangsung, pada waktu itu juga ada kecelakaan besar di sekitar universitas tersebut, lalu orang-orang menganggap bahwa kecelakaan besar tersebut terjadi karena kuliah tamu yang akan diisi oleh ilmuwan dibatalkan”.

Keempat, fallacy of misplaced concretness, yakni menganggap sesuatu yang terjadi berasal dari takdir tuhan, sehingga manusia tidak memiliki upaya atau inisiatif untuk berusaha sedikitpun. Pola pikir seperti ini dapat menciptakan manusia-manusia yang tunduk pada suatu keadaan dan tidak memiliki keinginan untuk merekonstruksi kejadian tersebut menjadi lebih baik.

Kelima, argumentum ad verecundiam, yakni berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas yang digunakan ambigu dan multitafsir. Misalnya “dalam diskusi tentang kemiskinan, si A menggunakan referensi dari buku terkenal berbahasa inggris yang kebenarannya tidak diragukan lagi, tetapi referensinya tidak relevan dengan pembahasan kemiskinan karena multitafsir dan dapat diartikan berbeda oleh orang lain”, alternatif dari pola pikir ini yakni dengan cara mengikutsertakan “menurut saya, dalam buku/dalil/dsb”. Keenam, fallacy of composition, mengejar peluang dari satu atau dua kejadian sehingga hal lain terabaikan dan menjadi tidak seimbang.

Misalnya “di dalam sebuah kampung, si A berprofesi sebagai seorang penceramah yang terkenal, lalu profesi tersebut banyak ditiru oleh warga pada kampung tersebut sehingga yang berperan sebagai pendengar tidak ada”. Ketujuh, adalah circular reasoning, yakni pemikiran yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi menuju kesimpulan semula.

Misalnya si A menganggap bahwa kelas akan terlihat efektif apabila siswanya aktif dan sering bertanya di kelas, lalu ada yang bertanya, apa buktinya jika kelas itu aktif ? lalu si A menjawab “kalau siswanya sering bertanya di kelas” lalu ditanya lagi “kalau siswanya aktif dan sering bertanya itu apa artinya?”, lalu  si A menjawab lagi “artinya kelas tersebut efektif”.

Kesalahan berpikir menurut Jalaluddin Rakhmat diatas tentu dipandang sebagai hal yang sepele, yang tidak terlalu penting diperhatikan dalam konteks berpikir sehari-hari. Tetapi hal terkecil seperti itu sebenarnya yang menjadi acuan primordial kita dalam bertindak. Jika proses berpikir kita berangkat dari pola yang irasional dan tidak substantif, maka tindakan kita akan menerapkan hasil dari pola berpikir tersebut.

Sebaliknya, jika proses berpikir kita akurat dengan segala pertimbangan-pertimbangan nalar, maka tindakan kita akan menjadi abstrak belaka. Oleh karenanya, setiap manusia harus melakukan berbagai upaya dalam menghindari diri dari proses kesalahan berpikir demikian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…