Selasa, Maret 2, 2021

Banser Menjaga Gereja dan Kerukunan Umat Beragama

Gerakan Masyarakat Adat sebagai Perjuangan Hak

Pola pembangunan ekstraktif berbasis lahan berskala luas adalah penyebab utama marjinalisasi masyarakat adat. Pola pembangunan tersebut ditopang oleh politik hukum agraria yang memarjinalkan hak...

Gaya Gebrakan Menteri BUMN

Menggebrak itulah kata yang tepat disematkan kepada Menteri BUMN yang baru, Erick Thohir. Sejumlah sikap tegas dan keras diterapkan dengan mengganti deretan petinggi BUMN...

Generasi Milenial, Membenci Soeharto dengan Baik dan Benar

Medio akhir tahun 2013 terjadi sejumlah penolakan terhadap penggunaan nama Soeharto sebagai nama Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Penolakan itu bukan tanpa alasan, berbagai...

Tafsir Partisan dan Ujian Kualitas Pilpres 2019

Ruang publik Indonesia seringkali kumuh lantaran disesaki ujaran-ujaran kebencian dan tafsir partisan. Kekumuhan ini semakin menjadi-jadi terutama menjelang momen-momen “pesta demokrasi”, seperti pilkada, pemilihan...
Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/

Di setiap momen natal banser menjadi sorotan. Karena banser adalah salah satu ormas islam yang terdepan dalam membantu mengamankan perayaan natal di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun ada beberapa ormas lain yang juga ikut membantu tapi jumlahnya sangat minimal dan juga bukan imbauan resmi dari ormasnya. Bertolak belakang dari banser, masih ada yang bahkan mengucapkan selamat natal saja tidak mau, apalagi ikut menjaga pelaksanaan natal. Itu logikanya, namun untuk yang punya keyakinan bahwa mengucapkanya haram ya tetap saya hormati.

Sikap banser dalam hal ini sangat jelas, terbukti dengan adanya instruksi dari ketua umum GP Ansor sebagai panglima banser menginstruksikan kepada seluruh banser di seluruh Indonesia untuk bekerjasama bersama aparat untuk mengamankan proses natal. Sikap yang ditunjukan banser ini memang sesuai dengan prinsip induk organisasinya, yaitu Nahdlatul Ulama`, yang menjadikan toleransi sebagai salah satu prinsip yang di pegang dalam organisasi.

Secara struktur, banser ini di bawah GP Ansor yang merupakan salah satu badan otonom yang ada di Nahdlatul Ulama`. Di kalangan internal Nahdlatul Ulama` banser juga sering di sebut dengan prajuritnya Ulama`, karena salah satu tugasnya memang untuk menjaga Ulama`, selain tugas kemanusiaan dan lain sebagainya.

Konsekuensi sikap banser 

Ketegasan sikap banser ini bukan tanpa konsekuensi sama sekali. Sikap banser untuk ikut serta menjaga perayaan natal tak lepas dari fitnah dan bully. Ada yang membully dengan mengkafir-kafirkan banser, ada pula yang memfitnah bahwa banser nyari proyek, nyari beras dls. Namun banser tak gentar dengan itu semua.

Kita ingat di tahun 2000 anggota banser mojokerto yang bernama Rianto terenggut nyawanya saat menjaga perayaan natal. Ceritanya seperti ini, ketika Rianto melihat bungkusan hitam di bawah kursi gereja, secara insting dia langsung mengecek apa yang ada di dalamnya. Setelah mengetahui isinya adalah bom, Rianto langsung membawa lari bom itu dijauhkan dari kerumunan. Akhirnya bom meledak, tubuh rianto bun hancur. Ini adalah cerminan sikap kemanusiaan yang luar biasa. Berkorban untuk sesama manusia yang bahkan beda agama.

Implementasi nilai Panacasila 

Dari kaca mata keindonesiaan, kita punya yang namanya pancasila sebagai falsafah bangsa dan panduan hidup kita di Indonesia. Buya syafi`i maarif dalam tulisanya di dalam buku negara minus nurani mengatakan bahwa, Bung karno dan tokoh pergerakan nasional lainya menekankan tentang mutlaknya cita-cita nation and character building. Karena mereka insaf sepenuhnya bahwa Indonesia adalah sebuah negara “ kebhinekaan” yang harus dijaga dan diberdayakan. Integrasi nasional bukanlah suatu hal yang sudah rampung. Sayangnya dalam berbangsa dan bernegara, cita-cita mulia ini sering berhenti pada tataran retorika politik, sementara di lapangan yang terjadi adalah hegemonisasi “keikaan” akibat kultur neo-feodalisme yang otoritarian sebagai warisan masa lalu yang belum punah.

Dari pemaparan buya syafi`i diatas, memang betapa pentingnya kesadaran “kebinekaan” di indonesia agar terciptanya integrasi bangsa. Namun terkadang hanya sebatas di retorika politik. Di titik ini banser menjadi uswah atau contoh, bagaimana mengimplementasikan akan kesadaran ” kebhinekaan”, tidak hanya sebatas retorika. Memang benar adanya dan bisa kita lihat bersama bahwa implementasi “ kebhinekaan” yang ditunjukkan oleh banser memebuat semakin besar asa kita akan terciptanya integrasi bangsa di tengah realita perbedaan indonesia. Bahkan juga di tengah semakin tajamnya ekspresi perbedaan di media sosial yang kita alami setiap hari. Tidak hanya asa, rasa kita pun menjadi teduh melihat kebersamaan antara jemaat yang dijaga oleh segenap banser.

Habl min al-nas 

Memeng belakangan ada perdebatan di kalangan umat islam soal bagaiaman hukum mengucapkan selamat natal. Umat Islam terbelah soal ini, ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan. Karena memang mereka berpegang pada pendapat Ulama` yang memang berbeda. Dan akhirnya akhirnya MUI memberikan pernyataan bahwa, MUI mengembalikan kepada seluruh umat islam mau memilih pendapat yang mana.

Namun saya tidak akan terlalu jauh membahas persoalan itu, namun soal konsep kemanusiaan dalam Islam. Dalam islam terdapat konsen habl min an-nas, habl min Allah, dan juga habl min `alam, yaitu bagaiman hubungan antar sesama manusia, hubungan manusia dengan Allah, dan hubungan manusia dengan alam. Gugun El-Guyanie dalam bukunya Islam mazhab cinta mengatakan bahwa pada hakikatnya agama tetap bersifat kemanusiaan. Karena menuntun manusia pada kebahagiaan.

Untuk menuju kebahagiaan dalam konteks kemanusiaan di Indonesia tentu umat islam harus bisa membangun relasi kemanusiaan terhadap umat dari agama lain. Karena sudah menjadi realitas bahwa di indonesia ada berbagai agama. Lalu relasi yang seperti apa yang harus di bangun?. Tentu relasi yang tetap saling menghormati, menghargai perbedaan, gotong royong sesuai nilai pancasila. Sampai di sana jangan takut, karena kebanyakan Ulama meyakini bahwa pancasila tidak bersebrangan dengan Islam, bahkan di dalam pancasila terpancar nilai keislaman. Dan pertanyaan selanjutanya adalah, bagaimana kebahagiaan dalam konteks kemanusiaan yang dicita-citakan Islam akan tercapai kalau umat islam tidak bisa membangun relasi kemanusiaan yang baik dengan pemeluk agama lain?. Mari kita renungkan bersama sebagai warga negara Indonesia.

Dalam konteks ini saya fikir lagi-lagi banser ini sudah tepat sekali dalam mengambil sikap. Untuk saling menghargai dan memberikan perhatian terhadap agenda natal umat kristiani. Dengan begitu kerukunan antar umat akan semakin menguat. Juga semoga saja di tahun-tahun yang akan datang ormas Islam selain banser juga turut bersama dalam membangun kerukunan umat beragama di Indonesia.

Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.