Selasa, Maret 2, 2021

Bangsa Pembajak dari Daratan China

Aksi Perempuan Menekan Penyebaran COVID-19 di Kep. Karibia

Para pemimpin perempuan seperti Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, Perdana Menteri dari Sint Maarten di Kepulauan Karibia Silveria Jacobs dan Direktur Pan-American Health...

Bahasa Indonesia, Riwayatmu Kini

Jika kita membaca UUD 1945 Pasal 36 Bab XV, di sana tercantum bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara kita tercinta, Indonesia. Artinya, bahasa...

Pemberantasan Korupsi dan RUU Masyarakat Adat

Negeri ini paling kaya di dunia, tapi sekarang menjadi melarat karena para koruptor tidak ditindas dengan tegas ~ Gus Dur. Pernyataan Presiden RI periode 1999-2001...

Kebahagiaan di Gurun Tandus Negeri Indonesia

Indonesia negeri gemah ripah sumber daya hasil bumi, negeri lain iri untuk dan selalu ingin memiliki, sehingga bujuk rayu manis dilepaskan sebagai strateginya, jika...
L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |

Produk China menguasai 27,87 persen dari total impor non-migas pada Januari hingga Mei 2018 dengan nilai 18.363,3 juta dollar AS. Nilai tersebut meningkat 18,62 persen dibandingkan periode Januari hingga Mei 2017.

Pada Mei 2018, nilai impor dari China mencapai 4.448,2 juta dollar AS. Adapun komoditas non-migas yang banyak diimpor dari China antara lain anggur, tekstil, dan barang-barang elektronik seperti ponsel dan laptop. Berdasarkan data tersebut, jika kita prediksikan tentu di tahun 2020 ini hingga beberapa tahun kedepan pangsa pasar produk dari China akan terus meningkat.

Kita ketahui bersama, bahwa China merupakan negara yang menjadi bagian dari pabrik di dunia telah menjadi pusat bisnis barang- barang tiruan didunia dengan nilai $250 miliar per tahun. Salah satu kecenderungan yang terlihat pasti adalah bahwa ketika pangsa perdagangan dunia untuk China meningkat, hal yang sama juga terjadi pada pasokan barang- barang tiruan di dunia.

Menurut Carratu International, perusahaan penyelidik terkemuka di inggris yang fokus pada pelanggaran hak kekayaan intelektual, 9% perdagangan dunia dewasa ini dikuasai oleh barang- barang tiruan, namun setelah kehadiran China dalam pasar global meningkat, maka perdagangan barang tiruan tersebut meningkat lebih dari 2 kali lipatnya.

Sebagai contoh saja, ketika Creative Technologies sebuah produsen barang elektronik dan suku cadang computer di Singapura, memperkenalkan pesawat MP3 berukuran kecil, inovatif dan telah dipatenkan, bernama MuvO, eksekutif- eksekutif perusahaan tersebut yang berpatroli dipasar- pasar Shanghai dengan cepat menemukan tiruannya yang dibuat oleh 40 perusahaan berbeda.

Pimpinan komisaris Creative Technologies, dalam suatu momen annual meeting Perhimpunan Dagang di Sinagpura mengatakan bahwa, setelah usaha pemalsuan ditutup di China, perusahaan lainnya yang menghasilkan barang tiruan Creative pun bermunculan. Akhirnya, Creative terpaksa menggunakan produsen China tersebut untuk menghasilkan versi produk- produk yang lebih murah dipasar China. Melihat fenomena tersebut, apakah China secara resmi peduli dengan apa yang dilakukannya?

Barang- barang palsu dari produk bermerek, seperti Dior, Hermès, Gucci, dan Yves Saint Laurent terus diperjualbelikan di China. Padahal, saat ini telah diberlakukan undang-undang baru untuk membatasi perdagangan barang tiruan ini. Dilansir dari South China Morning Post, banyaknya barang palsu yang diproduksi dan dijual bebas di China mengakibatkan banyak produsen barang merugi.

Akibatnya, Pemerintah China sudah memberlakukan undang-undang baru sejak 1 Januari kemarin. Pemerintah berjanji akan memberikan denda sebesar 2 juta yuan atau setara dengan Rp 41,8 miliar kepada pedagang yang terbukti menjual barang-barang tersebut melalui platform jual beli. Adanya peraturan itu tidak lantas menghentikan praktik produksi dan perdagangan barang palsu di China. Para pedagang saat ini banyak menjual dagangannya melalui lapak yang lebih pribadi, misalnya chat dan media sosial Instagram, juga TikTok.

Meski bukan menjadi negara dengan tingkat pembajakan software terendah, China sepertinya cocok jika dijadikan panutan dalam penanganan pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual ini. Pasalnya, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Negeri Tirai Bambu itu mampu menurunkan persentase pembajakan hingga 10 point. Yakni dari 95 persen di 2004 kini menjadi 90 persen di 2008 versi lembaga riset IDC. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara China mencuri Hak Kekayaan Intelektual dan teknologi negara lain?

Pencurian itu bukan hanya dilakukan perorangan atau kelompok tertentu dengan berbagai cara, langsung melalui cara tradisional . Cara cara itu antara lain, transfer teknologi paksa. Jika perusahaan asing yang berinvestasi di Cina menolak untuk menyerahkan rahasia teknologi, pemerintah akan sering melakukan penggerebekan polisi di kantor mereka dengan dalih menyelidiki pelanggaran hukum Cina. Kemudian dengan cara Spionase di dalam perusahaan. Beijing merekrut orang kepada karyawan etnis Cina (warga negara setempat) untuk menjual rahasia ke Cina.

Spionase Cina menggunakan rakyatnya, antara lain mahasiswa Cina yang belajar di AS dan negeri negeri lainnya, turis dan pekerja Cina menyamar untuk mengumpulkan data disekitar lokasi target, hingga mantan tentara PLA Tiongkok.

Cara terakhir yaitu serangan dunia maya. Cina meluncurkan serangan dunia maya terhadap perusahaan untuk mencuri kekayaan intelektual. Serangan hacker Cina menjadi satu diantara ancaman yang ditakuti di dunia karena bukan hanya volumenya, namun juga target serangannya yang menyerang industri strategis sebuah negara.

L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.