Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Bangsa Pembajak dari Daratan China

Selamat Hari Pers Nasional, Masih Adakah Idealisme Wartawan?

Selamat hari Pers Nasional 9 Februari 2018, masih adakah idealisme wartawan? Pertanyaan ini sungguh menohok. Apa itu idealisme wartawan? Jawaban gampangnya ialah seorang wartawan...

Mayoritas Minoritas Saling Menemani

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mencakup lebih dari 17.000 pulau yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia...

Menanti Pemimpin Idaman

Setiap negara pasti membutuhkan sosok pemimpin untuk menjaga keutuhan bangsanya. Sosok yang mencintai dan mengayomi rakyat. Sosok yang dicintai dan dihormati oleh rakyat. Namun,...

Karya Nyata untuk Pelajar Indonesia (Refleksi 57 Tahun IPM)

Semua orang yang pernah singgah di muka bumi pasti mempunyai cerita masa lalu. Entah itu menyenangkan, menyedihkan, maupun seabrek perasaan lainnya. Pasti dirasakan oleh...
L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |

Produk China menguasai 27,87 persen dari total impor non-migas pada Januari hingga Mei 2018 dengan nilai 18.363,3 juta dollar AS. Nilai tersebut meningkat 18,62 persen dibandingkan periode Januari hingga Mei 2017.

Pada Mei 2018, nilai impor dari China mencapai 4.448,2 juta dollar AS. Adapun komoditas non-migas yang banyak diimpor dari China antara lain anggur, tekstil, dan barang-barang elektronik seperti ponsel dan laptop. Berdasarkan data tersebut, jika kita prediksikan tentu di tahun 2020 ini hingga beberapa tahun kedepan pangsa pasar produk dari China akan terus meningkat.

Kita ketahui bersama, bahwa China merupakan negara yang menjadi bagian dari pabrik di dunia telah menjadi pusat bisnis barang- barang tiruan didunia dengan nilai $250 miliar per tahun. Salah satu kecenderungan yang terlihat pasti adalah bahwa ketika pangsa perdagangan dunia untuk China meningkat, hal yang sama juga terjadi pada pasokan barang- barang tiruan di dunia.

Menurut Carratu International, perusahaan penyelidik terkemuka di inggris yang fokus pada pelanggaran hak kekayaan intelektual, 9% perdagangan dunia dewasa ini dikuasai oleh barang- barang tiruan, namun setelah kehadiran China dalam pasar global meningkat, maka perdagangan barang tiruan tersebut meningkat lebih dari 2 kali lipatnya.

Sebagai contoh saja, ketika Creative Technologies sebuah produsen barang elektronik dan suku cadang computer di Singapura, memperkenalkan pesawat MP3 berukuran kecil, inovatif dan telah dipatenkan, bernama MuvO, eksekutif- eksekutif perusahaan tersebut yang berpatroli dipasar- pasar Shanghai dengan cepat menemukan tiruannya yang dibuat oleh 40 perusahaan berbeda.

Pimpinan komisaris Creative Technologies, dalam suatu momen annual meeting Perhimpunan Dagang di Sinagpura mengatakan bahwa, setelah usaha pemalsuan ditutup di China, perusahaan lainnya yang menghasilkan barang tiruan Creative pun bermunculan. Akhirnya, Creative terpaksa menggunakan produsen China tersebut untuk menghasilkan versi produk- produk yang lebih murah dipasar China. Melihat fenomena tersebut, apakah China secara resmi peduli dengan apa yang dilakukannya?

Barang- barang palsu dari produk bermerek, seperti Dior, Hermès, Gucci, dan Yves Saint Laurent terus diperjualbelikan di China. Padahal, saat ini telah diberlakukan undang-undang baru untuk membatasi perdagangan barang tiruan ini. Dilansir dari South China Morning Post, banyaknya barang palsu yang diproduksi dan dijual bebas di China mengakibatkan banyak produsen barang merugi.

Akibatnya, Pemerintah China sudah memberlakukan undang-undang baru sejak 1 Januari kemarin. Pemerintah berjanji akan memberikan denda sebesar 2 juta yuan atau setara dengan Rp 41,8 miliar kepada pedagang yang terbukti menjual barang-barang tersebut melalui platform jual beli. Adanya peraturan itu tidak lantas menghentikan praktik produksi dan perdagangan barang palsu di China. Para pedagang saat ini banyak menjual dagangannya melalui lapak yang lebih pribadi, misalnya chat dan media sosial Instagram, juga TikTok.

Meski bukan menjadi negara dengan tingkat pembajakan software terendah, China sepertinya cocok jika dijadikan panutan dalam penanganan pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual ini. Pasalnya, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Negeri Tirai Bambu itu mampu menurunkan persentase pembajakan hingga 10 point. Yakni dari 95 persen di 2004 kini menjadi 90 persen di 2008 versi lembaga riset IDC. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara China mencuri Hak Kekayaan Intelektual dan teknologi negara lain?

Pencurian itu bukan hanya dilakukan perorangan atau kelompok tertentu dengan berbagai cara, langsung melalui cara tradisional . Cara cara itu antara lain, transfer teknologi paksa. Jika perusahaan asing yang berinvestasi di Cina menolak untuk menyerahkan rahasia teknologi, pemerintah akan sering melakukan penggerebekan polisi di kantor mereka dengan dalih menyelidiki pelanggaran hukum Cina. Kemudian dengan cara Spionase di dalam perusahaan. Beijing merekrut orang kepada karyawan etnis Cina (warga negara setempat) untuk menjual rahasia ke Cina.

Spionase Cina menggunakan rakyatnya, antara lain mahasiswa Cina yang belajar di AS dan negeri negeri lainnya, turis dan pekerja Cina menyamar untuk mengumpulkan data disekitar lokasi target, hingga mantan tentara PLA Tiongkok.

Cara terakhir yaitu serangan dunia maya. Cina meluncurkan serangan dunia maya terhadap perusahaan untuk mencuri kekayaan intelektual. Serangan hacker Cina menjadi satu diantara ancaman yang ditakuti di dunia karena bukan hanya volumenya, namun juga target serangannya yang menyerang industri strategis sebuah negara.

L Tri Wijaya Nata Kusuma
L. Tri Wijaya N. Kusuma | Executive Director of Center for Indonesian Business Analytics Studies (CIBAS) | Ph.D in Business Intelligence & Data Analytics, NCU Taiwan | Dosen di Universitas Brawijaya |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.