OUR NETWORK

Balada Perantau, Tak Mudik Tak Berbakti

“Nggak pulang? Nggak rindu orangtua apa?” “Jangan sayang uang, berbakti sama orangtua itu jauh lebih penting!” “Masa nggak punya duit, kan suami istri kerja?”

Sebagaimana mudik yang sepertinya sudah menjadi tradisi, tampaknya nyinyir menjadi tradisi baru yang mulai dikembangbiakkan oleh segelintir orang dengan tingkat kekepoan maksimal juga perasaan maha tahu bak cenayang. Jika kau kebetulan perantau, dan kedapatan masih adem ayem hingga beberapa hari jelang lebaran maka bersiap-siaplah mendengarkan kalimat-kalimat serupa.

Tentu saja kita semua sepakat, bahwa mudik dengan segala suka dukanya adalah sebuah perjalanan rindu yang romantis juga sarat makna. Karena mudik bukan hanya berarti menuntaskan rindu tapi juga memuat misi birul walidain, berbakti pada orangtua.

Tak ada perantau yang tak ingin mudik, terlebih di moment-moment sakral semacam lebaran. Sayangnya merantau tak seindah bayangan banyak orang. Kau pergi meninggalkan kampung halaman, memulai hidup baru, dan, taraaa…menjadi orang sukses yang hidup berkecukupan.

Alangkah indahnya jika nasib semua perantau bisa dipukul rata demikian. Pada kenyataannya, perantau justru mengalami banyak masa-masa jatuh bangun ketika memulai kehidupan baru dan beradaptasi dengan sekitar. Terlebih jika kau sudah menikah dan kebetulan lagi memiliki buah hati yang jumlahnya hampir menyamai jari-jemari di sebelah tanganmu. Pasti rasanya sungguh aduhai.

Saya teringat seorang kawan yang baru-baru ini mengunggah kesedihannya. Dengan anak 3, biaya pulang pergi Kalimantan-Jawa menjadi sangat tak terjangkau baginya. Sementara itu nyinyiran sekitar terasa begitu melukai hati.

Dianggap tak berbakti, hingga sibuk berfoya-foya tanpa memperdulikan orangtua di kampung halaman yang tentunya menahan rindu pada anak cucu.

 “Aah, kalau memang niat mudik, pasti bisalah nabung jauh-jauh hari…”

Begitulah, jika mengikuti pikiran nyinyir selalu saja ada celah untuk mencela orang lain.

Padahal bisa jadi seorang perantau yang kerap kali mengunggah fhoto dan kisah bahagia di akun medsosnya semata untuk menenangkan keluarga di kampung halaman. Ia memilih hanya membagikan kisah bahagianya, bukan karena tak merasakan luka dan kesedihan, tapi mereka tak ingin menjadi beban pikiran orang tua yang jauh di mata namun dekat dihati.

Ketimbang sibuk nyinyir, cobalah memberi empati. Bisa jadi mereka sudah benar-benar berusaha menabung untuk pulang, namun kondisinya memang sama sekali tak mencukupi. Bagaimanapun kita menilai orang lain, hanya mereka sendiri yang benar-benar tahu isi dapur rumah sendiri.

Perantau yang tak bisa mudik, sudah cukup menanggung rindu dan kesedihan, tak perlu lagi ditambahi nyinyiran sebagai anak tak berbakti. Tak perlu pula diberitahu bahwa ‘Rindu itu berat…” Karena mereka lebih tahu rasanya ketimbang Dilan.

Tak salah jika mudik identik dengan birul walidain, namun sungguh tak tepat jika menyebut yang tak mudik berarti tak berbirul walidain.

Dalam Mu’jam Lughatil Fuqoha, Birul Walidain secara bahasa berarti kebaikan dan keutamaan. Adapun secara syariat maknanya adalah berbuat baik kepada orangtua.

Dari makna tersebut kita bisa memahami, bahwa cara berbirul walidain itu sangatlah luas. Setiap perbuatan baik yang menyebabkan kebahagiaan di hati kedua orangtua maka itulah bentuk bakti kepada keduanya.

Dari Abdulah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Telah datang seorang lelaki kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaiat beliau dalam hijrah sementara ia meninggalkan kedua orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kembalilah engkau kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis’”.

(HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 8 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 2898).

Menjadi perantau tak berarti tak bisa membahagiakan orang tua di kampung halaman. Menelepon secara berkala, menanyakan kabar, mendengarkan kisah mereka, menceritakan pengalaman di rantau, mengenang masa kecil, dan hal-hal semisal adalah salah satu hal yang bisa kita lakukan. Terlebih kemajuan teknologi saat ini sudah mendukung fasilitas video call yang memungkinkan kita menelepon dengan saling bertatap muka.

Manfaatkanlah teknologi untuk menciptakan bahagia di hati keduanya. Karena untuk itulah teknologi ini diciptakan, mendekatkan yang jauh, bukan justru menjauhkan yang dekat.

Orangtua juga akan bahagia jika sesekali menerima hadiah berupa barang yang disukainya. Tentu saja ini bukan soal nominal barang yang dihadiahkan, tapi lebih kepada bentuk perhatian yang membuat hati tua mereka berbunga-bunga.

Orangtua juga akan berbangga hati jika mendengar dari karib kerabatnya bahwa sang anak masih kerap menjalin silaturahim dengan mereka, meski hanya melalui telepon. Maka, selain menelepon orangtua, usahakan pula menelpon karib kerabat lainnya. Bersabarlah atas segala ucapan mereka yang kurang menyenangkan, dan berlemah lembutlah dalam bertutur kata ketika berbincang dengan mereka.

Dan tentu saja, sesekali pulang menuntaskan rindu adalah kebahagiaan tersendiri yang memang tak bisa tergantikan. Pun demikian jangan pernah berkecil hati, ketika mudik belum bisa menjadi rezekimu tahun ini. Karena mudik bukanlah puncak birul walidain. Ingatlah tiga perkara yang niscaya menjadi amal jariyah meski kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.

Jadi, Ingin jadi anak yang berbakti? Jadilah anak yang sholeh, yang doa-doamu masih akan terus mengalir meski orangtuamu kelak sudah tiada.

An Ordinary Woman, Penikmat buku, Pemerhati Anak, Content Creator, Blogger wanna Be, ASN Kemenag Kab. Paser

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…