OUR NETWORK

Balada Orang-Orang Menang

Menurut Saussure, keberbedaan yang kontras ini, seperti kaya-miskin, tua-muda, tinggi-rendah, dan sebagainya, eksis bukan untuk membedakan, apalagi mendiskreditkan.

Kalau tak mengharukan, itu bukan balada. Kalau tak ada yang kalah, tak ada yang menang. Apa artinya siang jika malam tak kunjung tiba? Bagaimana engkau merasakan kebahagiaan jika tak pernah bergumul dengan kegetiran.

Terlalu banyak oposisi biner untuk ditunjukkan. Dan, engkau tahu, tak hanya manusia yang suka perbedaan. Semesta ini selalu eksis karena perbedaan. Fisikawan sedang sibuk-sibuknya saat ini mencari “partikel tuhan” yang konon harganya jauh melebihi apa pun. Pencarian itu terjadi atas kesadaran bahwa perbedaan selalu ada. Jika ada air (+H), pasti ada (-H), tentu saja.

Begitulah hakikatnya: semesta ada karena perbedaan. Ini pulalah yang menarik perhatian banyak ahli sejak dulu. Filsuf Ferdinand de Saussure, misalnya, menggelutinya dari segi semiotika struktural.

Menurut Saussure, keberbedaan yang kontras ini, seperti kaya-miskin, tua-muda, tinggi-rendah, dan sebagainya, eksis bukan untuk membedakan, apalagi mendiskreditkan. Keberbedaan ini justru menegaskan kebersamaan, dan tentu saja kebermaknaan. Bahasa sederhananya, sesuatu tidak lebih hebat daripada sesuatu yang lain. Sesuatu dengan sesuatu yang lain ada justru untuk melahirkan sebuah eksistensi

Artinya, jika mata kita jernih, kita melihat nun jauh di ujung sana, yang kalah dan yang menang, ternyata keduanya memang menang dan berkontribusi untuk hal yang jauh luar biasa daripada sebatas kemenangan dan berbagai pialanya. Sederhana saja, peristiwa tak akan berlanjut tanpa ada yangkalah.

Semarak Final Liga Champion tak akan ada tanpa ada pemenang. Lalu, untuk apa kesemua piala itu jika peristiwa malah mampat: tak berlanjut? Kiamat bukan? Dalam pada itulah, kita jangan primitif memandang kekalahan. Lebih-lebih, jangan brutal melawan segala kekalahan.

Seolah-olah

Bahwa ada yang kalah dan yang menang itu keniscayaan. Tetapi, itu bukan untuk dibedakan, apalagi dibandingkan. Dikatakan demikian, lanjut Saussure, karena sesuatu itu (kita misalkan: kalah dan menang) sejatinya tidak mengacu ke realitas di luar dirinya sehingga bukan untuk diperbandingkan, tetapi untuk mengacu pada relasi keberbedaannya dengan tanda lain. Maksud Saussure adalah, bahwa semata karena (relasi) keberbedaan itulah yang membuat keberbedaan itu jadi bermakna.

Artinya, hanya karena pasangan itu (kedua-duanya dan bukan salah satu) ada, eksis, dan berlawanan, maka terciptalah ruang makna, terciptalah keberlanjutan peristiwa hidup.

Dengan kata lain, andai pasangan lainnya tidak ada, sesuatu akan menjadi nirmakna dan tidak eksis. Jadi, dalam benak Saussure, putih tidak lebih agung daripada hitam; kanan tidak lebih superior dibandingkan dengan kiri, dan teranyar: 01 tak lebih hebat dari 02, kok. Bahwa karena kebetulan 01 menang bukan berarti 02 sejati-jatinya adalah kalah. Ini hanya kondisi as if, yang oleh Peter Fonagy dan kawan-kawan (2002) disebut pretense.

Maka, dalam kamus Limas Sutanto, jika Pilpres adalah menyingkirkan untuk menang, sejatinya tak ada yang benar-benar tersingkir di sana. Sekali lagi, ini hanya sikap as if, seolah-olah.

Sejatinya, pilpres ini ibarat pertandingan sepak bola, basket, bulu tangkis, dan semacamnya. Tak ada peperangan di sana, kecuali persaingan. Pilpres hanya permainan. Kau boleh kalah dan aku boleh menang. Demikian sebaliknya. Selekas pertandingan ini, kita pun mestinya kembali bersahabat, bukan berkelebat.

Sebab, selama pertandingan, kita tak pernah benar-benar saling menyerang, apalagi mematikan. Ini semua sikap seolah-olah yang dengan senang hati malah dipanggungdramakan oleh para elite politik. Lagipula, tak ada yang kalah kekal dan menang kekal, bukan?

Kebetulan saja permainan dibatasi dengan tenggat waktu. Periksalah fakta ini: apakah Barcelona lebih hebat daripada Liverpool, atau sebaliknya? Pada 90 menit pertama, ya. Pada 90 menit kedua, tidak. Andai ada 90 menit ketiga, apa Anda yakin Liverpool akan menang lagi? Saya tak yakin.

Tetapi, begitulah permainan. Ada aturan waktu permainannya. Waktu pilpres pun kini sudah selesai. Jadi, marilah berhenti untuk berkelahi. Jangan artikan pilpres ini sebagai peperangan benaran sehingga tak punya aturan waktu main. Mari kembali ke rumah masing-masing seperti ketika kita habis bermain di halaman dengan rekan sebaya. Kembalilah jadi nelayan, jadi pegawai kantor, jadi tukang, jadi penarik becak, dan sebagainya. Kembalilah ke rumahmu yang sejati.

Jangan sibuk di luar hingga lupa betapa keluarga sudah lama menunggu engkau pulang dari permainan ini. Sudah saatnya kau kembali dari keseolah-olahanmu sebagai timses lalu kembali ke kesejatianmu sebagai pekerja.

Timses bukan pekerjaan. Atau, apa kamu sudah terlelap sehingga menganggap timses sebagai pekerjaan karena terimbas politik uang selama ini? Ayo, sadarlah. Waktu bermain sudah selesai. Kini, waktu serius telah tiba. Mari mendukung kehidupan ini ke tempat serius dengan serius. Jangan menganggap kekealahan dan kemenangan ini sebagai akhir dari segalnya.

Patriot Sejati

Dan, jika selama ini kamu sudah terlalu serius dengan permainan ini sehingga menganggap keseolah-olahan menjadi kesejatian lantas kamu merasa kalah dan orang lain menang, terimalah kekalahan itu dengan bangga. Menerima kekalahan dengan lapang bukan berarti kalah. Kita menyebutnya sebagai kesatria.

Sebaliknya, menolak kekalahan, apalagi dengan kekacauan bukan berarti menang. Kita menyebutnya tak tahu diri, culas, pongah. Menerima kekalahan selalu lebih dikenang daripada menolak kekalahan, bukan?

Dan, jangan salah, banyak orang yang menerima kekalahan ini di kemudian hari dikenal justru sebagai pemenang. Di sini, kekalahan menjadi titik berangkatnya, seperti dicontohkan Iwan Jemadi. Konon, Niccolo Machiavelli menuliskan Il Principe setelah takluk dalam perang. Lihat, Machiavelli kini jauh lebih dikenal dan abadi daripada orang yang pernah mengalahkannya.

Kasus serupa dialami Pramoedya Ananta Toer bertahun-tahun kemudian. Ia tumbang di tangan rezim yang tak adil. Pram lalu dibuang ke Pulau Buru. Alih-alih menuliskan “wasiat”, Pram memilih melahirkan tetralogi, yang di kemudian hari membuat namanya diwacanakan masuk nominasi nobel sastra.

Barangkali kekalahan yang mirip nasib Pak Prabowo dan pendukungnya di aksi 22 Mei dialami sastrawan Peru, Mario Vargas Llosa. Dua kali ia ikut bertarung di pemilu Peru, dua kali pula ia tumbang oleh lawan yang sama. Persis seperti Prabowo di hadapan Jokowi. Rakyat lebih memilih Alberto Fujimori yang kemudian dituduh melakukan banyak kejahatan dalam pemerintahannya.

Dua kali kalah membuatnya tahu diri. Kekuasaan tidak bisa membuat seseorang abadi. Sesuatu terjadi bertahun-tahun kemudian setelah pemilu Peru dan kekalahan mendera Mario Llosa. Ia menuliskan novel Lima Sudut.

Melalui novel tersebut, ia mengkritik media yang tampaknya dipelihara pemerintah untuk melanggengkan kepentingannya sendiri. Tentu saja hal itu tidak mengubah kenyataan. Mario Vargas Llosa tunduk, tapi kemudian ia unggul dalam soal lain dan menerima nobel sastra.

Prabowo tak harus menjadi novelis, seperti Mario. Mendukung dan mengarahkan pemerintah saja ia sudah bakal dikenal. Lagipula, seperti kata, Feri Ansari, Prabowo menjadi satu-satunya aktor yang bisa menyelesaikan kekacauan ini. Prabowo akan lebih pahlawan dari Jokowi. Bilakah?

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…