Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Bakso: Legacy, Identitas, dan Diplomasi Kuliner

Negara Plastik, Ketimpangan Edukasi Plastik

Menghadapi tahun politik dan pesta demokrasi, katanya negara ini tengah dibutakan oleh segala isu yang berhubungan dengan pertarungan calon presiden, maupun wakil rakyat. Walaupun...

Mengapa Masih Percaya Teori Konspirasi di Era Digital?

Konspirasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi dalam jaringan, adalah sebuah persekongkolan. Persekongkolan merupakan tindakan berkomplot untuk melakukan sebuah tindak kejahatan. Dalam Oxford Dictionary,...

Legalkan Prostitusi di Indonesia!

Masyarakat Indonesia menganggap PSK sebagai pekerjaan yang tabu, memalukan, aib, hina, dan melanggar norma. Stigma yang disematkan masyarakat pada PSK adalah seseorang yang haus...

Indonesia yang Tak Mudah

"Men-jadi Indonesia" terdapat dua hal, yakni tentang "luar" dan "dalam". Sedangkan "tak mudah" adalah syarat yang selalu mengikuti kedua hal tersebut. "Luar" di sini maksudnya...
Nizamuddin Sadiq
Seorang pendidik yang belajar dari universitas kehidupan untuk merefleksi dan menyumbang sesuatu bagi bangsa

Ketika sedang berada di luar negeri, umumnya mahasiswa dan masyarakat Indonesia tetap mengidolakan Bakso sebagai menu santap yang dinanti-nantikan. Tidak terkecuali bagi mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang ada di Southampton.

Bukan karena Bakso tidak dapat ditemukan di swalayan terdekat, tetapi lebih daripada itu, Indonesian meatballs are incomparable, tak tergantikan. Oleh karena itu, untuk meneropong fenomena Bakso di komunitas mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Southampton, maka aspek legacy, identitas dan diplomasi kuliner menjadi fokus tulisan ini.

Bakso yang bernuansa khas Indonesia tidaklah mudah di dapat karena sangat terbatasnya orang yang memproduksi Bakso ala Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengatasi kelangkaan ini, ada seorang mahasiswa Indonesia yang dengan rela mengorbankan waktunya untuk berkesperimen membuat Bakso bercita rasa Indonesia. Dengan beragam cara dan upaya serta usaha, akhirnya Bakso yang diinginkan berhasil di buat.

Awalnya ilmu produksi Bakso ini baru dikuasai oleh kalangan terbatas. Namun selanjutnya, sejarah Bakso di Soton memiliki sisi unik. Ilmu Bakso ini tidak copy right melainkan copy left artinya Ilmunya dapat ditularkan kepada siapa saja yang ingin belajar dan memproduksinya.

Jadilah, ilmu Bakso menurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga menjadi peninggalan (legacy) yang bernilai amal jariyah. Dengan diturunkannya ilmu ini secara berantai, bagi mereka yang punya ghirah (semangat) yang tinggi dan waktu luang yang memadai, jadilah Bakso menjadi menu andalan di dapur.

Tidak hanya itu, Bakso juga bernilai ekonomis tinggi. Buktinya, Bakso dimanfaatkan sebagai produksi rumahan yang tidak hanya untuk memenuhi pasar masyarakat dan mahasiswa di Southampton, tetapi juga di UK secara umum.

Setelah mendapat ilmu turun-temurun, ilmu pembuatan Bakso ini juga mengalami inovasi. Beberapa informasi yang di dapat emak-emak yang terhimpun dalam grup Soton Ladies, baik dari bertanya dengan sesama Bakso producer, juga dari pengalaman-pengalaman warga baru.

Sharing ilmu dan pengalaman dalam hal produksi Bakso dilakukan melalui pertemuan-pertemuan informal emak-emak di grup Soton Ladies. Dengan saling melengkapi, maka dari hari ke hari ilmu Baksonya semakin lengkap dan hasilnya juga semakin ciamik. Dengan cara inilah, warisan ilmu per-bakso-an di Southampon bisa bertahan sampai sekarang. Dibagikan dan diturunkan dari warga lama ke warga baru secara berkesinambungan.

Selain menjadi legacy, Bakso juga bahkan menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia di tengah komunitas muslim di University of Southampton (UoS). Sebagai sebuah identitas, Bakso secara konsisten disajikan sebagai menu oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Southampton di setiap perayakan festivity of Eid Mubarak, di kampus UoS.

Minimal, sudah lima tahun terakhir, komunitas muslim dari negara lain sebutlah Malaysia, Bruneid Darusalam, Saudi Arabia, Aljazair, Eropa, dan (keturunan) Pakistan, India dan Bangladesh, mengasoasiakan Bakso sebagai Indonesian culinary. Ini artinya, ketika terkait dengan kuliner, maka ingatan mereka te-recall kepada Bakso. Kuliner Indonesia adalah Bakso.

Oleh karena itu, untuk menunjukkan identitas ini, Bakso yang disiapkan oleh mahasiswa Indonesia di kegiatan tersebut dibuatkan banner bertuliskan “Indonesian Meatballs”. Ini adalah salah satu upaya memperkuat identitas Bakso Indonesia berbeda dengan Bakso-Bakso yang ada, yang dijual di beberapa swalayan di Southampton.

Pernah suatu waktu, di swalayan halal saya sedang memesan boneless beef dan boneless chicken lalu di campur menjadi mince (daging giling). Tiba-tiba ada seorang pelanggan bule yang bertanya, intinya kamu mencampur apa dan untuk apa hasil gilingan tersebut. Saya jawab, beef and chicken. I want to make meatballs. Dia berkomentar penuh keheranan, I have never seen it before. Karena umumnya mince yang di jual di swalayan campuran beef dan lamb.

Mencampur beef and chicken kelihatan aneh bagi mereka. Tapi tidak bagi kita, karena Bakso yang dihasilkan dari campuran beef and lamb kurang bagus dan kurang maknyus. Inilah salah satu rahasia yang membedakan Bakso Indonesia dengan bakso-bakso yang ada di pasaran.

Sebetulnya, sebagai sebuah identitas, Bakso sudah pernah naik daun di Amerika. Setelah kepulangan dari kunjungannya ke Indonesia, mantan Presiden Amerika, Obama banyak di quote oleh media di sana karena kesukaan Obama kepada Bakso selain nasi goreng dan sate. Saking interestnya, salah satu situs yakni Nola.com, secara khusus memuat tulisan dengan tema bakso berjudul “Bakso: the soup President Obama loved as a child”.

Salah satu aspek yang mungkin memperkuat identitas bahwa Bakso adalah kuliner Indonesia adalah Bakso juga sangat digemari masyarakat serumpun Malaysia. Dari sedemikian banyak jenis makanan, Bakso selain Tempe, merupakan salah satu kuliner yang tidak bisa di produksi mahasiswa Malaysia di Southampton.

Selalu ketika berjumpa dan bercerita tentang Bakso, mereka mengakui gagal dalam membuat Bakso. Oleh karena itu, mereka akan sangat senang jika di tawari untuk membeli apalagi kalau bisa dapat gratisan. Tidak akan pernah menolak.

Selanjutnya, makanan, dalam hal ini Bakso juga berfungsi sebagai media diplomasi. Dalam dunia per-kuliner-an, terdapat dua istilah yang berkembang yakni culinary diplomacy dan gastrodiplomacy. Diplomasi jenis pertama lebih bersifat antar pemerintah (government to government), sedangkan jenis yang kedua bersifat dari pemerintah untuk public.

Dengan demikin, culinary diplomacy, umumnya adalah jamuan kenegaraan saat pemimpin suatu negara berkunjung ke negara lain. Gastrodiplomacy, dapat dilihat dalam kegiatan open house saat lebaran, dimana pihak Istana menjamu masyarakat yang datang saat kegiatan tersebut, atau misalanya melalui festival kuliner di sebuah negara.

Sementara, ahli gastronomi, Paul Rockower, membaginya menjadi diplomasi kuliner privat dan publik. Kedua jenis diplomasi ini sama dengan pengertian di atas. Diplomasi kuliner privat dilakukan pada level pemerintah dengan pemerintah. Sementara Diplomasi kuliner public sama maknanya dengan gastrodiplomacy, yaitu penggunaan makanan sebagai alat diplomasi publik yang bertujuan untuk mengenalkan dan mempromosikan masakan suatu negara kepada publik negara lain secara luas.

Oleh karena itu, meskipun bukan dilakukan oleh pemerintah, melainkan oleh komunitas bernama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Southampton, penyajian Bakso saat Iedul Fitri yang dinikmati oleh masyarakat dari beragam negara, merupakan wujud dari gastrodiplomacy. Sebuah soft-diplomacy, yang tidak hanya menenteramkan pikiran tetapi juga mengenyangkan perut.

All in all, Bakso bagi mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Southampton, tidak hanya pelapas rindu terhadap kuliner bercita rasa Indonesia, tetapi juga warisan yang bernilai ekonomis tinggi serta mengeratkan kohesivitas sosial, menjadi simbol identitas kuliner di tengah interaksi dengan masyarakat, khusus nya muslim, dan menjadi sarana diplomasi kuliner yang efektif di University of Southampton pada khususnya, dan di City of Southampton pada umumnya.

Nizamuddin Sadiq
Seorang pendidik yang belajar dari universitas kehidupan untuk merefleksi dan menyumbang sesuatu bagi bangsa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.