Kamis, Oktober 22, 2020

Bahaya Teori Konspirasi Vaksin di Tengah Pandemi

Ijtima Ulama Bukan Acuan Politik Kaum Muslim?

Momentum Pilpres 2019 sungguh luar biasa. Hampir seluruh stake holder bangsa ini mencurahkan energinya dalam menyambut pesta demokrasi yang digelar setiap lima tahun sekali....

Persembahan Dharma Kapitalisme

Citra dan reputasi Corporate Social Responsibility (CSR) di Indonesia mencatat perkembangan yang menggembirakan. Headline media cetak maupun elektronik ramai oleh pembahasan mengenai bakti sosial yang...

Dakwah Bajik dan Bijak

Mengajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang...

Instabilitas Negara, Guncangan dari Dalam, dan Kepentingan Nasional

Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, Indonesia memiliki tujuan nasional sebagaimana yang termakhtub didalam pembukaan UUD 1945. Tujuan nasional sebuah negara, menjadi kepentingan nasional...
Ilham Iaridlo
Dosen administrasi dan kebijakan kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Peneliti di The Airlangga Centre for Health Policy Research Group (ACeHAP-RG).

Kedatangan 2.400 vaksin Covid-19 dari Sinovac, Tiongkok awal bulan ini (19/7) memberikan harapan bagi usaha pelambatan penularan COVID-19 di Indonesia, khususnya dalam proses pembuatan vaksin. Vaksin yang nantinya akan diproduksi secara mandiri oleh Bio Farma ini sedang masuk pada fase uji klinis tahap tiga. Jika tidak ada hambatan, diperkirakan penelitian ini akan mulai dilaksanakan bulan depan dengan serangkaian persiapan termasuk uji kelayakan etiknya.

Proses pengambangan vaksin dari Sinovac ini juga memancing beragam opini publik. Reaksi-reaksi tersebut diantaranya mempertanyakan mengapa vaksin ini harus “diimpor” dari Tiongkok; mengapa peneliti di Indonesia tidak mampu mengambangkan vaksin sendiri, padahal pada kenyataannya, peneliti Indonesia juga mempunyai kapasitas yang mumpuni sejak munculnya epidemi Flu Burung (H5N1). Beragam spekulasi awam inilah yang kemudian menyuburkan teori konspirasi mengenai vaksin COVID-19.

Maraknya teori konspirasi mengenai vaksin, pada tahun 2019, ditengarai menyebabkan masalah kesehatan masyarakat. Cakupan kampanye vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) di Indonesia per Januari 2019, secara nasional jauh di bawah target, yakni sebesar 87,80 persen; termasuk terdapat tiga provinsi terbawah yaitu Aceh (11,32 persen), Riau (41,63 persen) dan Sumatera Barat (44,49 persen).

Penolakan vaksinasi tersebut seringkali dikaitkan dengan meningkatnya kecurigaan yang tidak masuk akal bahwa vaksinasi adalah bagian dari agenda tersembunyi dari elit global yang sangat berkuasa. Beberapa alasan lain adalah bahwa vaksinasi melanggar kaidah agama termasuk kebebasan pribadi. Mitos tersebut kian kuat karena sentimen negatif dan ketidakperacyaan terhadap kebijakan pemerintah (Wheeling, 2020).

Beragam spekulasi konspiratif mengenai vaksinasi selama pandemi COVID-19 ini membutuhkan perhatian penuh dari para pengambil kebijakan, mengingat potensi masalah yang ditimbulkan ketika vaksin benar-benar siap. Alih-alih pandemik COVID-19 dapat segera diatasi, pemikiran konspiratif, menurut beberapa penelitian terdahulu, dapat mendorong kecurigaan dan keragu-raguan masyarakat pada vaksin, bahkan sampai menyebabkan penolakan dan penundaan vaksinasi (Zein, dkk., 2020; Jolley & Douglas, 2018). Implikasinya apabila komitmen para pengambil kebijakan tidak serius menangani masalah ini, maka keberhasilan penemuan vaksin akan tidak akan berdampak apapun pada keberhasilan menangani pandemi.

Apa yang dapat kita upayakan?

Misinformasi kesehatan yang dibalut dengan teori konspirasi seputar vaksinasi tidak mudah diatasi, sekalipun beragam argumentasi ahli dikerahkan. Beberapa hoaks yang sudah kadung beredar, nyatanya sampai sekarang selalu diacu para anti-vaks.

Sebut saja riset yang dilakukan Andrew Wakefield (1998) yang menjelaskan adanya keterkaitan antara pemberian vaksin MMR dengan risiko kejadian Pervasive Developmental Disorder (PDD) atau Autisme, yang masih terus dipercaya oleh kaum anti-vaksin sampai sekarang. Artikel ilmiah yang diterbitkan The Lancet ini pun sebenarnya sudah ditarik dari penerbitan dan menemui banyak sanggahan dari para ilmuwan yang lain.

Merebakanya pemikiran konspiratif di kalangan awam bukan saja disebabkan oleh misinformasi dan disinformasi ilmiah, namun gerakan ini meluas dan mendapatkan pengaruh lebih kuat akibat bumbu sentimen dan ideologi politik yang menyertainya.

Menanggapi argumentasi yang mengarah pada misinformasi dan disinformasi vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan, maka saintis mempunyai kewajiban untuk ikut serta memberikan pemahaman kepada awam dengan cara melakukan komunikasi sains sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki.

Namun demikian, alih-alih mencerahkan awam, sainstis juga kerapkali memberikan argumentasi diluar kapasitas keilmuan yang dimiliki. Sikap yang cenderung memperlihatkan klaim berlebihan dan tidak menerima kritik dari sejawat juga ditengarahi memperburuk citra saintis di mata publik. Dengan begitu, publik bukannya mendapat pencerahan, namun justru dibuat bingung dan berujung pada liarnya kesimpulan yang mereka bentuk sendiri.

Jurnalis dan media juga tidak dapat dipisahkan dalam usaha edukasi publik, khususnya pada masa pandemi. Peran media dapat mempermudah awam untuk mengakses beragam informasi yang mungkin terlalu rumit apabila dijelaskan sendiri oleh saintis.

Di samping mereduksi derasnya misinformasi yang beredar, para jurnalis harus mengedepankan etika jurnalistik dan dituntut untuk menyediakan informasi dari sumber yang kredibel dan sesuai dengan kepakaran mengenai isu yang dibahas. Penting bagi jurnalis untuk mengecek terlebih dahulu rekam jejak para ilmuwan yang akan dijadikan narasumber berita. Perkembangan jurnalisme sains di beberapa negara, juga harus mulai diarustamakan dalam ekosistem jurnalisme di Indonesia.

Berkaca pada derasnya arus informasi yang juga tersedia di platform media sosial, maka peran dan kontribusi aktif dari ilmuwan, komunikator sains, dan jurnalis menjadi sebuah keniscayaan. Informasi yang disuguhkan ke publik sudah seharusnya disertai dengan pengecekan kredibilitas sumber informasinya, sehingga dapat diperiksa pula oleh orang awam, termasuk latar belakang keilmuan dan rekam jejaknya.

Rekam jejak, seperti pengalaman meneliti merupakan karya intelektual yang perlu menjadi acuan untuk menilai kepakaran seorang saintis. Dengan begitu, masyarakat dapat membedakan antara opini awam dengan opini pakar, sehingga tidak mudah dikelabui oleh informasi-informasi yang tidak akurat atau kredibel.

Ilham Iaridlo
Dosen administrasi dan kebijakan kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Peneliti di The Airlangga Centre for Health Policy Research Group (ACeHAP-RG).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Vaksin Demi Kesehatan Rakyat

Pemerintah berjuang penuh demi kesehatan rakyat. Keseriusan untuk menemukan vaksin Covid-19 adalah langkah yang sangat tepat. Karena vaksin merupakan solusi yang menjadi harapan rakyat...

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan  Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada...

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.