Sabtu, Oktober 31, 2020

Bahaya Orang Tua Otoriter

Orientalisme dan Enigma Budaya Ketimuran

Untuk waktu yang lama, budaya ketimuran telah menjadi ungkapan yang begitu familiar. Frasa ini berulang-ulang diucapkan dan kerap kali menjadi acuan ketika terjadi suatu...

DPR, Cinta Dibalik Kritik

Judul diatas kurang lebih sama dengan ungkapan kepada seorang sahabat, “aku peduli kau, makanya kau kumarahi, supaya bisa berbuat lebih baik”. Tidak dapat dipungkiri,...

Peran Milenial dalam Pemilu Serentak

Kita baru saja menyelenggarakan acara akbar yang rutin dilaksanakan dan cukup menyita banyak energi dari berbagai elemen bangsa yaitu Pemilu pada 17 April 2019...

Menafsir Tema Muktamar IMM

Hari ini, Rabu, 1 Agustus 2018, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) punya hajatan besar. Bertempat di Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, organisasi otonom (ortom) yang...
Rivanilla
Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Akhir-akhir ini banyak terdengar kasus tawuran pelajar, bullying, anak di bawah umur yang melakukan tindak kejahatan, dan kasus remaja bunuh diri. Kasus ini disebabkan oleh banyak faktor seperti kurangnya perhatian, kekerasan pada anak, dan sebagainya. Namun, dari banyaknya faktor tersebut, faktor yang paling berpengaruh adalah faktor peran orang tua.

Hal ini mengingatkan saya akan kasus “Anak Emas” yang merasa tertekan dan membunuh orang tuanya sendiri. Jennifer, mahasiswi asal Kanada ini selalu menjadi kebanggaan orangtuanya. Sedari kecil, ia sudah menguasai piano, skating, hingga bela diri. Di luar ekskul, Jennifer seorang pelajar yang begitu tekun. Pendidikan menjadi hal yang utama di keluarganya.

Tetapi, dibalik semua kebanggaan itu, terselip kebohongan, kebencian dan dendam yang mengarah kepada pembunuhan sadis yang menghancurkan keluarga Jennifer. Segala harapan orang tuanya justru membuat Jennifer merasa tertekan. Saat duduk di kelas 8, Jennifer mulai lelah dan kehilangan semangat belajarnya. Nilainya pun hancur dan Jennifer pun mulai tidak percaya diri.

Untuk menyembunyikannya, Jennifer berbohong dengan memalsukan nilai rapotnya, bilang ke orang tuanya bahwa ia anak kelas “A”, padahal ia hanyalah anak kelas “B”. Gagal masuk universitas terkemuka di Toronto, lalu bilang bahwa ia masuk universitas dan mendapatkan beasiswa supaya orang tuanya tidak curiga mengapa Jennifer tidak pernah meminta uang untuk membayar kuliah.

Saat kebohongannya terungkap, Jennifer semakin tertekan. Ia menyewa penjahat bayaran untuk membalas perbuatan orangtuanya yang terlaku mengekang. Pada 2010, ditemukan 2 buah peluru menancap pada tubuh ayahnya, salah satunya di kepalanya. Ditemukan juga 3 peluru di kepala ibunya dan meninggal di tempat. Ayahnya berhasil selamat dan masih ingat kejadian itu.

Tahun 2014, saat pengadilan atas kasus malam itu digelar, Jennifer datar dengan tidak memperlihatkan emosinya. Tetapi ketika awak media pergi dari ruang sidang, Jennifer menangis tak terkontrol. Jennifer akhirnya dihukum seumur hidup dengan tidak melakukan permintaan pembebasan bersyarat sepanjang 25 tahun.

Pola asuh yang baik sangatlah penting untuk membangun kepribadian anak. Pola asuh otoriter adalah yang paling berbahaya. Mengapa? Pola asuh otoriter, orang tua akan memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak mereka. Ada pula pola asuh permisif, dimana orang tua akan membiarkan anak mengontrol dirinya sendiri. Kemudian, ada pola asuh demokratif dimana orang tua menjaga keseimbangan antara pola asuh Otoriter dan pola asuh Permisif. Baguskah?

Ambil saja saya sebagai contoh. Pola asuh otoriter yang diterapkan orang tua kepada saya membuat saya kurang percaya pada kemampuan diri sendiri, sulit bergaul dan sedikit bicara. Membuat hobi saya bahkan tidak dihiraukan. Membuat saya ketakutan dalam memulai sesuatu yang baru. Tertekan? Pastinya.

Menurut Hasett et.al (dalam Rodriguez, 2010), secara konseptual pola asuh otoriter diperkirakan berhubungan dengan risiko child abuse, atau kekerasan pada anak. Ambil saja saya sebagai contoh. Pola asuh otoriter yang diterapkan orang tua kepada saya membuat saya kurang percaya pada kemampuan diri sendiri, sulit bergaul dan sedikit bicara. Membuat hobi saya bahkan tidak dihiraukan. Membuat saya ketakutan dalam memulai sesuatu yang baru. Tertekan? Pastinya.

Anak yang diasuh dengan pola asuh otoriter lebih tinggi risiko  dalam mengalami stress. Menurut Coplan (2002), gaya otoriter melibatkan tuntutan yang kuat tanpa kehangatan, pemeliharaan atau komunikasi dua arah. Orang tua pada pengasuhan ini tidak hangat dalam mengasuh, namun sangat mengontrol.

Kejadian pandemi COVID-19 yang saat ini kita alami membuat saya berpikir bahwa akan ada banyak sekali anak yang stress di rumahnya. Tekanan yang akan dialami oleh anak lebih berat, karena akan lebih banyak waktu bersama orang tuanya. Ketidak mampuan orang tua dalam mengasuh anak akan berdampak pada masa depan anak.

Walaupun pola asuh otoriter mungkin akan bermanfaat bagi anak kedepannya, tetapi masa anak adalah masa dimana seharusnya anak bersenang-senang, mengeluarkan ide-ide kreatifnya. Tidak ada anak yang layak untuk diperlakukan dengan keras apapun alasannya, juga tidak ada anak yang ingin dirinya dikurung oleh aturan dan tuntutan.

Orang tua seharusnya harus sudah matang dan dewasa sebelum memiliki anak. Orang tua seharusnya dapat mendengarkan dan tidak menekan anaknya. Orang tua harus paham betul tentang cara mengasuh anak dan tentang kesehatan mental. Kesehatan mental yang baik adalah kunci kebahagiaan. Anak yang baik adalah anak yang bahagia.

Rivanilla
Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.