Sabtu, Maret 6, 2021

Usung Dedi Mulyadi, Golkar Bisa di Pastikan Menangi Pilgub Jabar

Dimensi Psikologis Menonton Film

Saat kehidupan nyata begitu berat dan menyesakkan dada, kita perlu meninggalkannya. Untuk sejenak  pergi ke dunia lain. Di masa karantina diri dan pembatasan sosial...

Kepada Penguasa, Asas Good Faith Itu Penting!

Pada abad ke 21 ini perkembangan manusia untuk mencapai kekuasaan bersifat agresif. Banyak cara yang ditempuh untuk mencapai kekuasaan. Salah satu alat atau motor...

NU, Muhammadiyah, dan Defisit Kemajemukkan di Indonesia

Suguhan konflik negeri ini nampaknya telah terlampau kelewat ambang batas. Gesekan-gesekan yang terjadi dalam masyarakat semakin menumbalkan rasa persaudaraan, kesatuan dan kebhinnekaan. UU tentang...

Korupsi Politik, Benarkah Tidak Berhubungan Dengan Pilpres 2019?

Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Jumat (15/3/2019), melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Romahurmuziy alias Rommy yang notabene Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Berdasarkan Rapat Internal Partai Golkar yang digelar hari Senin 4 September 2017 di Gedung DPP Partai Golkar, belum juga diputuskan Golkar akan mengusung ketua DPD Partai Golkar Jabar Dedi Mulyadi.

DPP Golkar bukanlah ragu untuk mengusung Dedi Mulyadi, melainkan masih menunggu moment yang pas untuk memberikan rekomendasi pencalonan Dedi Mulyadi. Bukan berbalik arah.

Walaupun dari segi elektabilitas hingga saat ini Dedi Mulyadi berada di posisi tiga dibawah Ridwan Kamil yang sudah dideklarasikan oleh Partai Nasdem. Sementara di urutan kedua di isi oleh Deddy Mizwar.

Merupakan Blunder ketika Golkar mengusung Ridwan Kamil, selain pecahnya DPD di Kabupaten/Kota di Jawa Barat yang Notabenya sudah sepakat mengusung Dedi, juga ada pecahnya kesepakatan dengan PDIP yang notabenya sudah sepakat untuk mengusung Dedi pada Pilgub Jabar maupun Pilkada serta Pilwakot.

Belum lagi, Ridwan Kamil minim akselarasi dan Popularitas di kalangan pemilih di tingkat Pedesaan.

Ketika harus mengusung Ridwan Kamil, kemungkinan besar selain pecahnya kesepakatan dengan PDIP, juga pecahnya tingkat DPD di kabupaten dan Kota sampai ketingkat akar rumputnya.

Kemungkinan yang sangat besarnya, selain perpecahan di tubuh Partai, Golkar akan mengalami kekalahan di pilgub Jabar seperti tahun-tahun sebelumnya karena tidak berjalannya mesin Partai

Berbeda ketika Golkar harus mengusung Dedi, mesin Partai akan semakin menguat dan semakin membasarnya Koalisi dengan Partai lain, karena sejauh ini selain PDIP Partai Hanura pun siap mengusung Dedi Mulyadi.

Dengan Koalisi tersebut, jelas kursi DPRD pun semakin menggemuk dengan jumlah 40 kursi.

Kalau kata teman saya, ‘kalau Golkar mengusung Dedi, sudah dipastikan bahwa Dedi Mulyadi akan memenangkan Pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun depan.’

Alasannya lainnya sangat sederhana Dedi Mulyadi bisa memenangkan Pilgub Jabar, selain memiliki modal yang kuat dengan bantuan DPD Partai tingkat dua, Kabupaten dan Kota, Dedi juga memiliki akselerasi yang luar biasa.

Selain itu, Dedi memiliki kedekatan emosional yang mudah dekat dengan setiap masyarakat. Bis di lihat setiap kali berkunjung ke berbagai daerah, ribuan masyarakat menyambutnya.

Ditambah lagi mayoritas pendukung Dedi Mulyadi berada di wilayah pedesaan dan pelosok Jawa Barat yang notabenenya lumbung suara di provinsi yang bersentuhan langsung dengan Ibukota Jakarta ini.

Lumbung suara Dedi Mulyadi tersebut tidak pernah terekspos oleh media maupun oleh lembaga survei. Sejauh ini pun Dedi Mulyadi tidak pernah menggandeng lembaga survei, elektabilitas berada di nomor tiga pun murni merupakan survei pesanan calon gubernur lain.

Berbeda dengan Ridwan Kamil. Walikota Bandung tersebut memang harus diakui memiliki keunggulan di Media, maklum saja dia berada di ibu kota Jawa Barat, tetapi kedekatan dan akselerasi terhadap masyarakat sangat rendah.

Bisa di perhatikan ketika Ridwan Kamil yang merupakan calon paling tinggi popolaritas dan elektabilitasnya ketika melakukan kunjungan ke Kabupaten Cianjur. dari 2000 kursi yang disiapkan oleh panitia, hanya terisi 300 kursi, walaupun yang mengisi kursi tersebut adalah relawan dan anak-anak.

Ridwan Kamil memang dikenal di udara, tetapi di lingkungan keseharian di masyarakat sangat memprihatinkan.

Bisa disimpulkan, kalau Popularitas dan elektabilitas Ridwan Kamil berada di posisi paling atas karena akal-akalan hasil lembaga survey yang di biayainya untuk mempermudah mencari tumpangan menuju jabar 1.

Permainannya cantik, tapi sayang, partai Politik pun tidak kalah cantiknya membaca strategi yang di mainkan oleh Ridwan Kamil.

Berbeda dengan Dedi Mulyadi. Dedi memang tidak sehebat Ridwan Kamil di udara, tetapi bagi masyarakat hingga ke pelosok, sosok Dedi Mulyadi dikenal serta sudah tidak asing lagi. Bukan hanya hanya  remaja dan orang tua, bahkan juga sampai ke anak-anak.

Dari Ujung Genteng  Kabupaten Sukabumi sampai ke Cidaun wilayah pedalaman Cianjur yang tidak pernah disentuh oleh lembaga survei bahkan media, nama Dedi Mulyadi dikenal melebihi bupatinya sendiri.

Sedangkan untuk Ridwan Kamil, maaf bukannya merendahkan. Saya yakin, jangankan dikenal di sana, menginjak tanah dan menghirup udaranya pun saya pastikan belum pernah, karena kang Emil ini hidupnya di perkotaan.

Untuk kunjungan ke desa-desa pun sejauh ini Ridwan Kamil cukup jarang, berbeda dengan Dedi yang setiap harinya ketika melakukan kunjungan 15 sampai dengan 20 Desa.

Dengan membidik dan mengusung calon lain seperti Ridwan Kamil, bisa dipastikan, Golkar akan seperti Pilgub Jabar tahun-tahun sebelumnya, kembali mengalami kekalahan.

Kenapa, karena pemilihan Gubernur itu dipilih langsung oleh masyarakat yang hidup secara nyata mendiami berdomisili di suatu tempat, bukan dipilih oleh media apalagi dipilih oleh masyarakat dunia maya.  

 

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.