Rabu, Desember 2, 2020

Bahasa Indonesia, Riwayatmu Kini

Untuk Bang Yusril: Sejahtera Dulu, Baru Berhaji!

Saya sepakat sekali, perintah haji ditempatkan diurutan terakhir dalam rukun Islam. Saya juga setuju, syarat utama pergi haji pertama-tama harus cukup ilmu, cukup makan,...

Gua Plato dan Belenggu Jargon Sektarian “Mayoritas”

Kala siang itu, saya menghadiri sesi kuliah yang saya tempuh di sebuah perguruan tinggi cukup ternama di Jawa Tengah. Menariknya, sesi kuliah yang saya...

Anime Terbaru Bulan April yang Cocok Buat Kamu

Hai animelovers, kamu sudah tunggu tunggu Anime terbaru yang bakal dirilis bulan April ini? Yuk lihat judul anime ongoing yang bakal bikin kita sulit...

Pilkada 2018: Daulat Rakyat Mencari Pemimpin Baik (I)

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari dua tulisan tentang perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang sudah di depan mata. Segala upaya persiapan dimatangkan...
Iip Rifai
Penikmat Kopi | Alumnus : ICAS Paramadina University, SPK VI CRCS UGM Yogyakarta, Pascasarjana UIN SMH Banten, Sekolah Demokrasi Serang 2014.

Jika kita membaca UUD 1945 Pasal 36 Bab XV, di sana tercantum bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara kita tercinta, Indonesia. Artinya, bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa. Ia berfungsi sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk dalam berbagai hal, mulai dari suku, budaya, agama, dan lain-lain. Bayangkan jika tidak ada alat pemersatu bangsa. Apa yang akan terjadi dengan nasib bangsa ini?

Hal di atas memberikan pesan secara eksplisit kepada kita, sebagai warga negara, untuk mempelajari, memahami, menghayati serta mengamalkan bahasa Indonesia tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga bahasa Indonesia akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, bahkan mendunia kelak.

Dalam konteks mendunia, ada amanat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Lihatlah UU Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 44 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan yang menegaskan pemerintah untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Dalam hal ini, lembaga kebahasaan menjadi koordinator penggeraknya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah amanat undang-undang di atas sudah menjadi realitas di lapangan? Seberapa jauh penghormatan setiap warga negara terhadap bahasanya sendiri? Seberapa banggakah warga negara menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di kantor, sekolah, kampus, lembaga pemerintah, dan seterusnya? Dan sejumlah pertanyaan sejenis lainnya.

Faktanya, bahasa Indonesia, di ruang publik, semakin lama justru semakin mengkhawatirkan. Ia seolah termarjinalkan oleh hadirnya bahasa asing. Pasalnya, intervensi bahasa asing terhadap bahasa Indonesia terlalu dominan. Ditambah pula masyarakat saat ini lebih bangga menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa Indonesia. Mereka menganggap, dengan menggunakan bahasa asing, lebih keren, gaul, eksis dan modern. Di mana penghormatan dan penghargaan warga negara terhadap bahasa resmi negaranya sendiri?

Konsekuensinya, bahasa Indonesia menjadi asing di negerinya sendiri. Kita ambil satu contoh-contoh kecil saja; Berapa persen masyarakat yang menggunakan kata “kudapan” ketimbang “snack” dalam perbincangan sehari-hari? Masih banyak pengunaan kata-kata asing lain yang terpaksa masyarakat memakainya karena ketidaktahuan mereka terhadap padanan kata dalam bahasa Indonesia.

Melihat kondisi bahasa Indonesia yang kian terpuruk dan mengkhawatirkan. Kiranya perlu ada aturan tegas dari pemerintah agar bahasa Indonesia tetap digunakan di ruang publik oleh masyarakat. Bahasa Indonesia harus menjadi utama digunakan, bukan sebagai penyanding, di ruang publik. Di lapangan, banyak lemabaga negara justru sebaliknya, mengutamakan bahasa asing daripada bahasa resmi negara.

Di beberapa hotel atau tempat publik lainnya, kita sering melihat kata “welcome to…” terpampang di depan pintu gerbang atau jalan menuju masuk lokasi, kemudian dibawahnya terlihat “selamat datang di……”. Dan beberapa contoh lain yang secara tidak langsung telah menganaktirikan bahasa Indonesia bahkan meniadakannya.

Bahasa asing sungguh telah mengancam eksistensi bahasa resmi negara kita, terutama dalam bidang ekonomi dan budaya. Bahkan di lingkungan pendidikan pun bahasa Indonesia kerap dinomorduakan. Maka wajar jika kompetensi peserta didik dan mahasiswa dalam berbahasa, baik lisan maupun tulisan sangat rendah. Berapa persen peserta didik yang nilai UN Bahasa Indonesianya tinggi? Sangat sedikit sekali, ironis memang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa negara itu adalah bagian dari jati diri bangsa. Artinya, jika ia hilang maka identitas dan jati diri bangsa pun akan tiada. Sungguh menyedihkan. Hal ini tentu tak kita inginkan terjadi.

Tetapi persoalan ini pun adalah sebuah pilihan. Mau tetap menggunakan bahasa asing dalam berekonomi, berbisnis dan berinvestasi atau mau kehilangan jati diri bangsa? Sebuah pertanyaan yang bisa terjawab oleh realitas di lapangan.

Penting sekali memagari bahasa resmi negara dari ancaman dan serbuan bahasa asing yang tak bisa dibendung karena efek globalisasi. Eksistensi bahasa negara di ruang publik harus dijaga dengan sebuah regulasi. Pemerintah daerah di seluruh Indonesia seharusnya menerbitkan peraturan daerah (pergub, perbup, atau perwal) soal penggunaan bahasa resmi negara dalam rangka hal di atas.

Penggunaan bahasa asing di ruang publik berpotensi menggerus bahasa Indonesia yang sudah ada dan dipakai selama ini. Apalagi jika para penggunanya adalah pihak-pihak yang memiliki kekuatan memengaruhi publik. Misalnya, lembaga pendidikan, kantor pemerintahan juga swasta.

Penting bagi pemerintah, yang diwakili oleh Badan Bahasa Bagian Pengendalian dan Penghargaan, untuk menyosialisasikan serta membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berbahasa Indonesia di ruang publik. Badan tersebut juga harus terus mengadakan pemantauan bahasa asing di suatu wilayah dalam rangka pengendalian di atas.

Disamping itu, Badan Bahasa juga bertugas untuk mengubah objek bahasa asing di ruang publik. Tugas lain yang tak kalah pentingnya adalah menggelar berbagai aksi lomba bahasa negara di berbagai lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Menurut Maryanto, Kepala Bagian Pengendalian dan Penghargaan Badan Bahasa, bahasa asing memang tetap penting dan  justru harus dikuasai. Akan tetapi, jangan sembarangan dalam penggunaannya di ruang publik. Bahasa Indonesia harus tetap diutamakan di atas bahasa lainnya. Masih menurutnya, saat ini ruang publik menjadi tempat rebutan bahasa lain. Terjadi persaingan merebut ruang publik dan bahasa negara kita, bahasa Indonesia, harus tetap berdaulat (Bandung, 12/4/2018).

Mulai saat ini, jika kita melihat lembaga negara apapun termasuk lembaga pendidikan mengutamakan bahasa asing dalam praktek administrasi, operasional dan urusan teknis lainnya, maka kita harus laporkan ke Ombudsman atau ke Balai Bahasa. Hal ini kita lakukan sebagai bukti kepedulian terhadap  nasib bahasa negara kita sendiri.

Terakhir, saya ingin mengajak kepada seluruh mayarakat Indonesia, lembaga pemerintah, lemabaga swasta, para pejabat negara, politisi, mahasiswa, peserta didik serta pendidik  untuk mencintai serta menggunakan bahasa resmi negara, bahasa Indonesia, di ruang publik.

Utamakan bahasa negara dalam segala hal. Jangan malu dan gengsi serta minder terhadap bahasa negara sendiri. Siapa lagi yang peduli selain warga negaranya sendiri. Belajarlah dari Negara Jepang yang masyarakatnya konsisten, loyal, dan penuh kesadaran mencitai bahasa negaranya sendiri di tengah arus globalisasi yang tak terbendung.

Merawat bahasa resmi negara sama artinya dengan merawat khazanah budaya bangsa. Cintai dan lestarikan bahasa Indonesia sejak dini agar anak cucu kita mengerti arti penting persatuan dan kesatuan bangsa. Jayalah negeriku, lesatarilah bahasaku!

Iip Rifai
Penikmat Kopi | Alumnus : ICAS Paramadina University, SPK VI CRCS UGM Yogyakarta, Pascasarjana UIN SMH Banten, Sekolah Demokrasi Serang 2014.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.